tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, February 19, 2007

Teras Belakang

Belakangan ini saya mulai lagi rajin mengunjungi floor outdoor unit AC central di teras belakang lantai 3 kantor saya. Dulu ini tempat favorit saya untuk melarikan diri sejenak dari tekanan deadline. Saya ingat pertama kali ke sini, waktu itu saya masih wartawan trainee, pulang liputan mepet jam tayang. Dan produser hanya memberi saya waktu 5 menit untuk menyelesaikan naskah lengkap dengan verbatim soundbite-nya. Pekerjaan mustahil yang hampir membuat saya gila. Tapi saya akhirnya bisa menyelesaikannya tidak terlalu jauh dari tenggat yang diberikan.
Setelah semuanya selesai, saya merasa perlu mencari tempat untuk menenangkan diri. Dan saya menemukan tempat ini. Pandangan lepas ke arah Ragunan dan Blok M, serta deru blower AC, ternyata lumayan bisa menenangkan. Akhirnya tempat ini menjadi asylum saya. Saya ke sini setiap kali resah dan ingin menenangkan diri.
Ketika teman-teman sepakat membeli sebuah meja pingpong, tempat ini seketika menjadi ramai tiap sore. Saya kehilangan tempat bersemedi. Baru pada saat Ramadhan beberapa tahun yang lalu, teman-teman berhenti main pingpong, dan meja itu akhirnya lapuk kena hujan. Tempat ini kembali sepi, teman-teman pergi, saya juga, mengikuti pantry yang dipindahkan ke bagian gedung yang lain.

Baru sebulan ini saya mulai sering bertandang ke tempat ini lagi. Kadang sendiri, kadang berdua. Sekedar merokok dan mencari pembenaran. Merasakan banyak hal. Ini murka-kah, Tuhan? Saya berharap ini lebih sekadar hukuman daripada murka.

Tadi pagi, saya ke tempat ini lagi. Memandangi gerimis dan menikmati rokok terakhir saya hari ini. Akhirnya saya bisa memahami kalimat "tolong pahami posisi saya..." yang selalu kamu ucapkan dengan airmata yang runtuh itu. Ya, saya paham akhirnya. Setelah saya menuntut hak saya untuk kecewa. Saya paham. Setelah ini, saya akan mulai berteman dengan Ikaruz, yang merasa bisa mencapai matahari sampai leleh terbakar sayap-sayapnya.