tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, February 24, 2007

[....]

Almarhum Bapak pernah bilang, amarah itu seperti panas api, dan hanya tukang besi yang diuntungkan oleh panas api.

Kemarin, sang mursyid bicara tentang kesalahan. Beliau yang sesungguhnya tak pernah setuju saya anggap mursyid itu selalu memaparkan sesuatu yang berjalan di luar kelaziman. Kali ini dia bilang, berbuatlah kesalahan setiap hari, tapi harus dengan dua syarat. Pertama, kesalahan itu harus kesalahan baru, dan kedua, dari setiap kesalahan itu kita harus selalu mengambil pelajaran. Jika dua syarat itu tidak terpenuhi, maka bergabunglah di barisan di belakang keledai. Karena keledai sekalipun tak akan terantuk pada batu yang sama. Dan saya merasa seharusnya di situlah saya berdiri, di barisan belakang keledai itu.

Tadi malam (atau tadi subuh?) saya mimpi almarhum Bapak datang menyalami mursyid saya. Semoga ini anti-klimaks dari semua kejadian yang memberatkan belakangan ini. Saya mulai lelah. Beberapa kali saya mendatangi sang mursyid, dan selalu saja saya merasa salah masuk ruangan. Tapi semoga kali ini benar. Turbulensi itu harus segera diakhiri.

Saya yakin Allah Maha-Baik. Kita saja yang terlalu sering berprasangka buruk kepada-Nya. Dengan semua dosa yang kita perbuat, tak pernah berhenti nikmat-Nya mengalir. Dia menutupi segala aib kita sehingga kita bisa tetap tampak seolah-olah orang baik.
Dan selalu Dia mengirimkan orang-orang tertentu untuk membantu kita meluruskan langkah, atau sekadar untuk memahami makna.
Seperti Dia mengirim Takuan Soho kepada Musashi. Seperti Dia mengirim Syamsuddin Tabriz kepada Maulana Jalaluddin Rumi.