tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, January 17, 2007

Perjalanan Paling Pagi

Begitu subuh selesai, hujan gemuruh tiba-tiba. Bulir-bulir kecil air dari langit itu seketika menjadi besar. "Singgah saja dulu, Ce," kataku. Jika memaksa terus melaju, tak sampai satu menit air akan membuat basah seluruh badan beserta carrier Eiger West Ridge 50-ku.
Uce meminggirkan motornya membelok ke teras sebuah toko yang masih tertutup rolling door-nya. Kanopinya yang lebar lumayan meneduhkan kami.
Dari kantong raincoat yang lembab kena tempias hujan, saya mengeluarkan sepotong roti yang tadi saya beli di warung dekat Pintu II. Roti seharga seribu rupiah yang wanginya mirip Roti Boy. Rencananya tadi akan saya jadikan sarapan di boarding lounge bandara. Kalian kan tahu betapa tidak manusiawinya harga makanan di bandara.

Beberapa hari setelah Adam Air dinyatakan hilang, saya mengejar pesawat paling pagi ke Jakarta. Tidak ada yang memaksa saya untuk harus masuk kerja hari itu, tapi saya sudah janji pada Mas Agus akan sudah berada di kantor Senin pagi- paling lambat siang. Di tiket, pesawat terjadwal akan berangkat 60 menit lagi, tapi siapa yang bisa percaya pada jam maskapai Indonesia. Lagipula, setengah jam cukuplah untuk toleransi bagi Sang Awan untuk mengurai bebannya. Mungkin sudah terlalu lelah dia membawanya kemana-mana hingga akhirnya memilih Maros untuk tumpah. Kurang lebih 2 kilometer lagi menuju gerbang Bandara Hasanuddin.
Saya percaya Uce akan membawa saya tepat waktu ke sana, dengan hujan berhenti atau tidak. Adik saya itu, betapapun dia sering menertawakan pikiran-pikiran saya, saya tetap mencintainya. Seperti saya mencintai abang dan dua adik saya yang lain.
Dalam setiap perjalanan pagi seperti ini, saya selalu merasa tidak bisa apa-apa tanpa mereka. Pun ketika siang tiba. Dan malam.