tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, January 09, 2007

Khuruj (atau Khuruf?)

Satu malam sebelumnya, kami duduk di tepian danau kampus, menonton dari jauh selingkaran anak-anak muda duduk melantai di bawah temaram lampu dan cahaya lilin.
"Saya tak bisa baca puisi," katanya, maka mari menjauh.
Lama terdiam sampai akhirnya saya menemukan kata.
"Saya tumbuh dari lingkungan seperti itu, yang merasa bisa bertahan hidup dengan sehalaman puisi dan sedikit mimpi. Dan mungkin menurutmu itu konyol..."
Dia memalingkan muka, dan saya bisa melihat cahaya lampu memantul dari matanya.

Besok paginya, saya bertemu Pak Haji Burhan di Bandara Hasanuddin, Makassar. Dia sedang dalam perjalanan pulang setelah khuruj hampir setengah tahun keliling Asia dan Afrika. Saya mencium tangannya, dan dia bercerita tentang tempat-tempat yang baru dikunjunginya. Janggutnya mulai memutih, tapi wajahnya tetap cerah seperti ketika pertama kali saya melihatnya di Lembah Baliem hampir tiga tahun yang lalu.

Dan sorenya, saya sudah di kantor lagi, mendapati ruangan yang kosong ditinggal teman-teman raker ke Bandung. Sepi. Ketika itulah saya makin tersadar kalau perjalanan kemana pun seharusnya punya makna. Seperti khuruj.