tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, January 19, 2007

Sebentar Saja

Saya pamit sebentar. Sebentar saja. Mungkin sehari, mungkin seminggu, mungkin sebulan, mungkin setahun. Setidaknya hingga saya menemukan alasan untuk berhenti sembunyi. Jejaring ini ternyata bisa juga membuat luka. Salam... Pramuka!

Thursday, January 18, 2007

[...]

Tuhan, gue terluka lagi. Dan gue bukan prajurit Seiya, yang semakin dia terluka semakin dia menjadi kuat. Gue cuma badut Ancol, ternyata; tukang lenong yang ada tanduk di kepalanya.

Wednesday, January 17, 2007

Perjalanan Paling Pagi

Begitu subuh selesai, hujan gemuruh tiba-tiba. Bulir-bulir kecil air dari langit itu seketika menjadi besar. "Singgah saja dulu, Ce," kataku. Jika memaksa terus melaju, tak sampai satu menit air akan membuat basah seluruh badan beserta carrier Eiger West Ridge 50-ku.
Uce meminggirkan motornya membelok ke teras sebuah toko yang masih tertutup rolling door-nya. Kanopinya yang lebar lumayan meneduhkan kami.
Dari kantong raincoat yang lembab kena tempias hujan, saya mengeluarkan sepotong roti yang tadi saya beli di warung dekat Pintu II. Roti seharga seribu rupiah yang wanginya mirip Roti Boy. Rencananya tadi akan saya jadikan sarapan di boarding lounge bandara. Kalian kan tahu betapa tidak manusiawinya harga makanan di bandara.

Beberapa hari setelah Adam Air dinyatakan hilang, saya mengejar pesawat paling pagi ke Jakarta. Tidak ada yang memaksa saya untuk harus masuk kerja hari itu, tapi saya sudah janji pada Mas Agus akan sudah berada di kantor Senin pagi- paling lambat siang. Di tiket, pesawat terjadwal akan berangkat 60 menit lagi, tapi siapa yang bisa percaya pada jam maskapai Indonesia. Lagipula, setengah jam cukuplah untuk toleransi bagi Sang Awan untuk mengurai bebannya. Mungkin sudah terlalu lelah dia membawanya kemana-mana hingga akhirnya memilih Maros untuk tumpah. Kurang lebih 2 kilometer lagi menuju gerbang Bandara Hasanuddin.
Saya percaya Uce akan membawa saya tepat waktu ke sana, dengan hujan berhenti atau tidak. Adik saya itu, betapapun dia sering menertawakan pikiran-pikiran saya, saya tetap mencintainya. Seperti saya mencintai abang dan dua adik saya yang lain.
Dalam setiap perjalanan pagi seperti ini, saya selalu merasa tidak bisa apa-apa tanpa mereka. Pun ketika siang tiba. Dan malam.

Thursday, January 11, 2007

Wortel dan Keledai

Bandung, 11-13 Januari 2007. Ayo, berangkat lagi! Menuju pembicaraan di mana penghidupan akan disandarkan, setidaknya hingga setahun ke depan. Kita lihat, kali ini majikan bawa berapa banyak wortel dalam keranjang untuk dibagi-bagi kepada para keledai.

Tuesday, January 09, 2007

Khuruj (atau Khuruf?)

Satu malam sebelumnya, kami duduk di tepian danau kampus, menonton dari jauh selingkaran anak-anak muda duduk melantai di bawah temaram lampu dan cahaya lilin.
"Saya tak bisa baca puisi," katanya, maka mari menjauh.
Lama terdiam sampai akhirnya saya menemukan kata.
"Saya tumbuh dari lingkungan seperti itu, yang merasa bisa bertahan hidup dengan sehalaman puisi dan sedikit mimpi. Dan mungkin menurutmu itu konyol..."
Dia memalingkan muka, dan saya bisa melihat cahaya lampu memantul dari matanya.

Besok paginya, saya bertemu Pak Haji Burhan di Bandara Hasanuddin, Makassar. Dia sedang dalam perjalanan pulang setelah khuruj hampir setengah tahun keliling Asia dan Afrika. Saya mencium tangannya, dan dia bercerita tentang tempat-tempat yang baru dikunjunginya. Janggutnya mulai memutih, tapi wajahnya tetap cerah seperti ketika pertama kali saya melihatnya di Lembah Baliem hampir tiga tahun yang lalu.

Dan sorenya, saya sudah di kantor lagi, mendapati ruangan yang kosong ditinggal teman-teman raker ke Bandung. Sepi. Ketika itulah saya makin tersadar kalau perjalanan kemana pun seharusnya punya makna. Seperti khuruj.