tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 11, 2006

Senjakala Jurnalisme


Beliau yang saya anggap sebagai guru --dan tak boleh disebutkan namanya, meminta waktu menjelang akhir sesi. "10 menit saja," katanya. Dipersilahkan. Dan memang sepuluh menit seperti yang dia minta, kurang lebih.
Dengan segala hormat dan tanpa seizinnya, saya mengutip ucapannya di sini. Beliau bicara tentang data trap, jebakan data. Ketika berita kambing berkaki lima dianggap jauh lebih penting daripada isu kemiskinan, maka kita telah masuk dalam jebakan data; sesuatu yang semestinya harus dihindari jika kita masih merasa jurnalis. Demikian kata beliau dalam raker TV saudara muda kita tempo hari, kurang lebih juga, karena hanya mengandalkan ingatan saya yang terbatas.

Belakangan ini, perdebatan tentang poligami Aa' Gym muncul di milis trans tercinta. Ramai dan panjang, seperti choki-choki, yang mengerucut pada pertanyaan pantas atau tidak berita poligami Aa' itu masuk dalam buletin. Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan, cukuplah bagi saya menjadi penonton saja dari dalam kotak RCD ini. Tapi, Mas Didit bertanya masih adakah yang mengingat news value keseluruhan, dan baru sadar ternyata saya masuk dalam kategori yang tidak ingat. Saya hanya ingat beberapa.
Di kampus saya dulu, ada tradisi seorang wisudawan wajib menyerahkan buku teks kuliah kepada perpustakaan untuk ditukar dengan ijazah tanda kelulusan. Saya juga melakukan itu dan menyerahkan buku-buku kuliah saya, termasuk buku yang ada pelajaran news value-nya itu. Pikir saya waktu itu, toh nanti buku-buku itu akan menjadi usang dan semua isi beserta teori-teorinya akan teredefinisi sesuai zaman. Ini keniscayaan.
"Anjing menggigit orang bukan berita, tapi orang menggigit anjing itulah berita," demikian news value zaman batu menyatakan. Lalu zaman baru meredefinisinya, bagaimana kalau orang yang digigit anjing itu Presiden Washington, misalnya? Para ahli sepakat itu berita, lalu muncul satu news value baru: prominent (ketokohan).
Demikianlah news value bertambah mengkuti zaman, dan juga berkurang. Di zaman orde baru, para tokoh pers membuat aturan tambahan news value, semata-mata karena mereka harus berhati-hati. Peristiwa yang nyata-nyata kaya news value tidak serta merta bisa diangkat sebagai berita. Ada self-censorship yang punya nama indah: MISS SARA. Sebuah berita tidak boleh Menghasut, Insinuasi, Sensual, Sensasional, dan menyinggung Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan. Setelah melewati saringan itu, sebuah berita baru fit to print.
Tapi lihatlah, makin kesini, saringan itu berkurang. Insinuasi masuk ke dalam berita. Sensual dan sensasional apalagi, jangan ditanya!

Jurnalis(me) adalah pekerjaan profesional. Menurut buku, profesional setidaknya harus memiliki 4 syarat: ada basic science, punya kode etik, berorientasi kepada publik, dan punya organisasi profesi. Itulah yang membedakan kita --kita? :-)-- dengan tukang becak. Tukang becak mungkin punya organisasi profesi, tapi mana ada yang punya kode etik. Karena itu pula kenapa jurnalis disejajarkan dengan profesional lain. Saking spesialnya, jurnalis punya pengecualian dalam konsep equality before the law. Jurnalis punya hak tolak, seperti halnya dokter, akuntan dan pengacara.

Dan karena beorientasi kepada publik, maka profesi jurnalis penting memiliki kode etik. Dalam praktek jurnalisme sendiri, kode etik resmi tidak hanya satu, ada kode etk PWI, AJI, IJTI, dsb-nya. Tapi pada dasarnya semua tujuannya sama, mencegah penyelewengan. Pelanggaran kode etik tidak memiliki implikasi perdata atau pidana, melainkan hanya "sekadar" hukuman moral dan sosial. Kalau kita main amplop, kita tidak akan dipenjara, tapi kita bukan wartawan yang baik menurut masyarakat dan panduan moral kita.
Masalahnya, punyakah kita di sini? Dan kalaupun punya, bersediakah kita mematuhinya?

Pak Ishadi, pemimpin besar kita, beberapa hari yang lalu berjanji akan membuka kemungkinan kita semua (news trans dan trans 7) duduk bersama untuk mebahas kode etik kita sendiri. Beliau mencontohkan, wartawan CNN yang dipecat karena menayangkan berita pembunuhan Ennis William Cosby, putra komedian Bill Cosby, yang dirampok dan terbunuh di sebuah jalan di Los Angeles pada 16 Januari 1997. Saya tidak memamahami di mana kesalahannya. Peristiwa pembunuhan, dan putra seorang aktor terkenal. Lengkaplah news value-nya. Tapi, masih menurut cerita Pak Is--(dengan segala bias pemahaman saya), wartawan itu dipecat karena memakai angle selebritas Bill Cosby, yang dianggap menyalahi kode etik CNN. Itu CNN, bagaimana dengan kita di sini?
Bisakah tindakan Aa' Gym berpoligami masuk ke dalam rundown berita kita semata-mata hanya karena dia orang terkenal? Perdebatannya menjadi panjang karena tak ada patokan yang jelas tentang itu. Kita pecah dalam dua kubu. Untunglah tidak ada keharusan untuk berpihak. Hehehehe...

Semoga segera tercerahkan. Sebelum kita benar-benar terperangkap dalam data trap dan kembali ke definisi berita paling purba: BERITA=NEWS. NEWS=North, East, South, West. Berita adalah semua kabar yang datang dari seluruh penjuru mata angin. Apapun itu. Seseorang berpoligami di Geger Kalong sana tiba-tiba menjadi penting bagi publik. Ini senjakala. Senjakala jurnalisme.


[Awalnya, tulisan ini saya niatkan untuk milis trans. Tapi saya urungkan. Rasanya akan lebih merdeka berteriak di sini. Tak akan ada yang terluka. Kecuali saya sendiri... :-)]