tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 04, 2006

Maria Eva: 17.15=40%


Tepat pukul 17.15 WIB, semua bertepuk tangan. Riuh sekali di depan monitor wall itu. Dan wanita di ruangan sebelah itu mulai menangis. Ahirnya dia mengaku kalau wanita di video porno itu memang dia. Dia mulai sesunggukan ketika membicarakan betapa sakit perasaan orang tuanya.

Pukul 17.20 WIB. Semua yang menonton kembali riuh. Tak ada yang peduli. Studio 5 tempat dia diwawancarai kedap suara. Dia tak akan mendengar suara tawa dan tepuk tangan dari ruangan yang ada 16 layar tivi berjajar itu. Dia beberapa kali terpeleset lidah menyebut "Pak Yahya", bukan "Pak YZ" sebagaimana dia berusaha untuk itu dari awal. Ada empat kali dia menyebut nama itu.

Hampir 17.30, jeda komersial. Pengacara berkuncir itu keluar dari Studio 5.
"Bagaimana? Bagus kan?" tanyanya.
Dasar! Kamu pikir itu lenong, apa! Di kemejanya tersemat pin Partai Demokrat, partai barunya. Dia tidak lagi menjilat-jilat si kuning seperti dulu. Oportunis, kata teman di sampingku.
"Sudah saya atur, nanti kalau ada komplen dari Golkar, sudah saya atur," katanya lagi. Ini sudah politik. Bukan lagi sekadar kasus cabul seorang anggota DPR dan penyanyi dangdut kurang terkenal.

Maria Eva menyusul keluar di belakangnya, bersama seorang bertubuh tambun dan seorang lagi berambut pirang agak kemayu. Wajahnya kuyu, tapi berusaha tetap tersenyum pada orang-orang yang menyalaminya. Pasti susah sekali untuk tersenyum seperti itu jika membayangkan berapa juta orang di luar sana telah melihatmu telanjang.

Rabu depan, begitu laporan rating Nielsen keluar, mari kita lihat. Menit 17.15 itu apakah grafiknya akan menembus batas kertas atau tidak. Hitunganku sih, share-nya akan peak di 40%! OB-nya RCTI boleh minggir deh! Kita tunggu. Hehehehe.