tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, December 09, 2006

Doa Keselamatan


Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
selesai mendoakan keselamatanmu

----Dalam Doaku, Sapardi Djoko Damono, 1989---


Mas Gatut Mukti, mantan camera-person Trans TV yang sekarang ditugaskan ke TV7, memakai t-shirt putih yang ada tulisannya puisi Sapardi Djoko Damono itu. Mas Gatut duduk di meja belakang saya, dan saya bisa membacanya sekilas ketika melewatinya dari tempat prasmanan di sesi makan malam.
Baru di sesi presentasi setelah makan malam itu, saya tahu kalau bagian depan t-shirt Mas Gatut itu bergambar siluet Bagus Dwi, cameramen Jejak Petualang yang hilang di perairan Papua Juni lalu.
Bagus Dwi dinyatakan hilang setelah long boat yang dia dan empat kru Jejak Petualang lainnya tumpangi, terbalik dihantam ombak. Dia tak pernah ditemukan. Karena itulah mengapa kawan-kawannya di TV7 membuat t-shirt itu. Menjadikannya sebuah doa.

7-9 Desember di Cisarua. Ini acara Rapat Kerja News TV7 (mulai 15 Desember nanti TV7 akan berganti nama menjadi Trans 7, dan resmi menjadi bagian Trans Corp). Dua kultur yang berbeda akan segera lebur. Ada banyak orang mantan Trans TV yang ditugaskan ke Trans 7, termasuk di divisi News. Kultur Para Group yang "realistis" dan kultur Kompas-Gramedia yang idealis akan menyatu dalam satu bangunan industri. Semoga adonannya benar, terigunya mengembang dengan baik sehingga menjadi kue yang cantik.

Saya datang sebagai penonton saja. Sebagai tim RCD, saya dan 5 orang kawan diundang untuk memberi masukan data untuk pengembangan program News Trans 7 ke depan. Mereka belum punya tim RCD sendiri, jadi untuk sementara kami diperbantukan ke sana.

Saya berbagi kamar dengan tim Jejak Petualang (JP) di Vila Dahlia. Ada Mas Dudit, Mas Dody Johanjaya, Mas Budi, dan WDT. Mas Dody dan Mas Budi adalah dua dari empat korban selamat dalam kecelakaan long boat yang menghilangkan Bagus Dwi itu. Dari 5 orang penghuni vila selain saya, awalnya saya hanya mengenal Mas Coy, eksekutif produser Trans7 yang dulunya juga dari Trans TV.
Tapi mereka orang-orang yang ramah, apalagi sebelumnya kami sudah pernah bertemu di acara arung jeram di Citarum November tahun lalu. Waktu itu ada Mas Dodi, Mas Budi, Riyanni, dan Bagus Dwi juga. Siapa pernah menyangka kalau sekarang kami bekerja di bawah korporasi yang sama?
Mas Dodi heran kenapa tiba-tiba saya bisa menjadi RCD, karena setahu dia saya camera-person waktu terakhir bertemu itu. Mungkin bagi dia ini transisi yang ganjil. Tapi saya bilang di Trans gak ada yang tidak mungkin.

Malam sebelum presentasi JP, saya dan Neng (kordinator RCD untuk TV7) berdiskusi banyak dengan tim JP tentang strategi JP untuk setahun ke depan, termasuk kemungkinan untuk pindah slot dari jam tayangnya yang sekarang. Saya berusaha profesional saja, toh mereka tak perlu tahu kalau saya pernah nge-fans gila-gilaan sama Riyanni Djangkaru --sampai dia menikah. Hehehehe. Oya, kata Mas Budi, Riyanni sudah melahirkan dan bertambah gendut sekarang!

Dan, alhamdulillah, bisa dibilang raker ini berjalan lancar. Banyak usulan program baru dan kesepakatan-kesepakatan dibuat. Dini hari tadi, malam penutupan raker, mereka membuat acara kambing guling. Mereka melingkari api unggun dan membuat games-games seru. Saya, Neng, Mbak Irene, Ishak, dan Fery juga ikut. Kami outsider yang ikut bergembira.
Saya baru menyingkir ketika mereka mulai melingkar semakin dekat ke api unggun. Saya duduk-duduk saja di teras vila dan menonton mereka --termasuk 5 orang tim saya itu-- memegang lilin di tangan masing-masing, dan berjanji akan meruntuhkan tembok.
...
Ya, Kawan, tembok itu memang harus runtuh segera. Seperti Sapardi, saya juga akan selalu berdoa untuk "keselamatan" kalian.