tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, December 02, 2006

Di Warung Indomie

Bapak itu menjentikkan abu rokoknya ke asbak.
"Kalau mau ketemu ustadz yang bener ya di langgar-langgar, di mesjid-mesjid kampung. Sekali ustadz itu masuk Istiqlal, selesai dah. Apalagi kalau udah masuk tivi. Abis itu bikin partai segala macam, kalau nggak nambah bini..."
Saya tertawa mendengarnya. Bapak itu mungkin berlebihan. Tapi pembicaraan apa sih yang tidak berlebihan di warung Indomie pada jam 1 malam?

Lima orang kami duduk membentuk hurup L. Di balik meja, yang punya warung duduk mengamati sambil sesekali menanyakan apakah kami mau nambah air minum. Saya dan kawan saya, Garuda, memesan indomie rebus. Bapak berbaju hitam yang mengaku karyawan katering di restoran ujung jalan sana, tampak menikmati secangkir kopi tubruk. Seorang bapak lagi yang pakai kemeja sporty yang penuh logo produk otomotif, juga memesan indomie rebus dengan spesial request: pake sedikit gula. Sedangkan bapak yang menjadi pembicara utama itu hanya merokok saja. Dia kelihatannya sudah duluan menghabiskan pesanannya sebelum kami datang, tapi masih menunggu pesanannya yang lain dikerjakan. "Bungkusin buat bini di rumah," katanya.

Begitulah demokrasi hidup di warung pinggir jalan. Kami tidak perlu kenal satu sama lain untuk terlibat pembicaraan. Baru di suapan-suapan awal indomie saya ketika tiba-tiba bapak pembicara utama itu nanya apakah saya sudah lihat rekaman video porno anggota DPR Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Saya bilang belum. Di kantor memang sudah beberapa hari ini teman-teman membicarakan video ponsel itu, tapi saya belum tertarik melihatnya. Biasanya video-video gelap dari manapun pasti selalu tersedia di server kantor, jadi cepat atau lambat saya pasti akan melihatnya.

"Wah, azab tuh. Malu banget pokoknya! Udah perutnya gendut, t***tnya kecil pula. Cuma seginiii," katanya sambil menunjukkan jempol tangannya. Kami semua tertawa, dan mulai sadar bapak ini bisa menjadi teman melewati malam yang baik. Maka saya pun memancingnya untuk bercerita apa saja.
Dan entah gimana nyambungnya, tau-tau dia sudah membandingkan jaman Soeharto dan sekarang.
"Saya ini produk orde baru. Saya lahir di orde baru, besar di orde baru, kalau anak saya baru orde reformasi. Dulu mah apa-apa enak. Mending Soeharto deh, kita keluar jam 3 malam aja masih aman. Sekarang jam 3 siang aja kita di jalan udah takut."

Saya menyimaknya sambil mengangguk-angguk, sebagai clue non-verbal agar dia terus bicara.
"Kamu masih kuliah?" tanyanya tiba-tiba.
"Nggak, Pak. Saya sudah kerja," jawab saya. Senang juga dianggap masih seperti anak kuliahan.
"Nah, mahasiswa itu ya mestinya bersatu, bikin partai sendiri aja. Pusatnya satu, massanya bisa banyak tuh kalau semua kampus jadi DPW atau DPC..."
Saya tertawa lagi, jadi teringat kawan saya yang latah suka bilang, "Ya nggak mungkeen lah boo!!"
..
"Sekarang emang udah nggak bener. Mana ada anak sekarang yang hafal "Padamu Negeri!" kata bapak itu berapi-api. Bapak yang berbaju otomotif itu juga menambahkan cerita waktu dia muda yang sepanjang jalan ke sekolah diharuskan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sekolah mana tuh! Hehehe.

Ujung-ujungnya, pembicaraan ngalor-ngidul ini menyinggung tentang Aa' Gym. Tersiar kabar kiyai populer ini telah menikah lagi untuk kedua kalinya, padahal Teh Ninih istrinya sudah memberinya tujuh orang anak. Kurang apa lagi coba?

Dan bapak itu, dengan cepat membandingkan Aa' Gym dengan ustadz-ustadz di langgar atau mesjid-mesjid kampung.