tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, December 19, 2006

Madame Arianna

Saya pikir beliau juga bisa meramal jodoh!

Saturday, December 16, 2006

1612


Dengan sangat terasa, sudah 3 tahun saya meninggalkan kampus saya tercinta. Hari ini, 3 tahun lalu, di depan dosen penguji saya berhasil mempertahankan skripsi saya yang hampir dua tahun terlunta-lunta. Awalnya, seperti kebanyakan pengikut mahzab Chicago, dosen-dosen saya hampir semua tak ada yang percaya "Soe Hok Gie" bisa dibuat skripsi di jurusan saya. Saya dianggap mengada-ada. Dan "mengada-ada" itu butuh waktu dua tahun untuk bisa benar-benar ada. Saya berhutang budi pada Pak Mansyur Semma, guru saya. Beberapa hari yang lalu saya baca profil-nya di Kompas, dan saya tak berhenti kagum pada semangatnya. Saya bersamanya beberapa hari sebelum dia masuk RS Wahidin, di mana penglhatannya hilang karena malpraktek.
Saya juga tak akan melupakan Khomeini, kawan saya yang melecut di saat-saat terakhir. Dan tentu saja, Nuryani Kusumadewi, perempuan tangguh yang kepadanya saya berhutang banyak sekali kebaikan. Akhirnya kau temukan orang yang lebih berani berbahagia ketimbang saya kan, Nu?

Dan hari ini pula, 37 tahun yang lalu, orang yang saya tulis di skripsi saya itu, meninggal di pangkuan sahabatnya, Herman Lantang. Dia terjebak gas beracun di puncak Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Dia pergi dengan banyak cita-cita yang sebagian tertinggal dalam kepalaku.
Dulu, tak banyak yang tahu dia. Sekarang sosoknya kabur oleh Nicolas Saputra di film Gie. Saya pernah kecewa ketika dia difilmkan. Tapi Bang Arief, kakak Gie, menghiburku lewat e-mail. "Gie sudah selesai hidupnya, dan orang bebas berpersepsi tentang dia. Biarkan ada demokrasi persepsi," kata Bang Arief. Iya, mungkin saya yang naif. Seperti pengagum Frida Kahlo yang menolak Salma Hayek memerankannya di film.

Dua minggu lalu, saya dan Desan menjenguk Bang Herman Lantang di rumahnya di Kelapa Tiga, Jagakarsa. Saya dapat banyak cerita dari beliau. Bang Herman menunjukkan surat yang ditulis Gie untuknya pada tanggal 27 Desember 1967. Gie di Jakarta waktu itu, dan Bang Herman di Baliem, Papua. Surat itu baru sampai enam bulan kemudian. Isinya tentang keresahan-keresahan Gie. Dalam film Gie sendiri sebenarnya ada adegan Gie bertemu Herman sepulang dari Papua, tapi entah kenapa dipotong. Di film Gie, karakter Herman diperankan oleh Lukman Sardi. Ada juga adegan Ira menyanyikan lagu Blowin' In The Wind. Adegan ini juga terpaksa dipotong karena tidak berhasil mendapat izin dari pemegang lisensi lagu itu. Ini kutipan liriknya yang aslinya dinyanyikan oleh Bob Dylan:

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
Yes, 'n' how many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
Yes, 'n' how many times must the cannon balls fly
Before they're forever banned?
The answer, my friend, is blowin' in the wind,
The answer is blowin' in the wind.

How many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, 'n' how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, 'n' how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
The answer, my friend, is blowin' in the wind,
The answer is blowin' in the wind.

How many years can a mountain exist
Before it's washed to the sea?
Yes, 'n' how many years can some people exist
Before they're allowed to be free?
Yes, 'n' how many times can a man turn his head,
Pretending he just doesn't see?
The answer, my friend, is blowin' in the wind,
The answer is blowin' in the wind.


Lirik ini juga saya cantumkan di halaman pembuka skripsi saya. Sekarang, setelah 3 tahun, buntelan kertas itu pasti sudah berdebu di lemari kosan adik saya di Makassar. Sudah lama sekali tidak menengoknya, sekadar memastikan semangat itu apa masih ada.

Friday, December 15, 2006

Selamat Ulang Tahun

Saya mencintainya, dan semoga dia juga mencintai saya.
Selamat ulang tahun.

Tuesday, December 12, 2006

Menonton Hujan


Saya gagal pulang. Kemarin sore sebenarnya saya meniatkan pulang cepat begitu mulai kelihatan mendung. Saya ingin menonton hujan dari teras kamar saya, sambil menikmati segelas kopi robusta pemberian Bang Herman Lantang tempo hari. Selagu dua lagu mungkin enak didendangkan. Tapi baru ingat kalau tali 1 gitar saya belum juga diganti. Putus dari kapan bulan.

Namanya niat, tentu saja tidak selalu terlaksana. Begitulah saya yang hingga pagi ini masih di kantor. Tadi sempat melongok keluar dan melihat sisa hujan semalam masih ada.
Bolehlah, nanti kita coba lagi. Harus selalu diperjuangkan, bukan? Meskipun itu hanya sebuah hal kecil semisal menonton hujan...

Monday, December 11, 2006

Senjakala Jurnalisme


Beliau yang saya anggap sebagai guru --dan tak boleh disebutkan namanya, meminta waktu menjelang akhir sesi. "10 menit saja," katanya. Dipersilahkan. Dan memang sepuluh menit seperti yang dia minta, kurang lebih.
Dengan segala hormat dan tanpa seizinnya, saya mengutip ucapannya di sini. Beliau bicara tentang data trap, jebakan data. Ketika berita kambing berkaki lima dianggap jauh lebih penting daripada isu kemiskinan, maka kita telah masuk dalam jebakan data; sesuatu yang semestinya harus dihindari jika kita masih merasa jurnalis. Demikian kata beliau dalam raker TV saudara muda kita tempo hari, kurang lebih juga, karena hanya mengandalkan ingatan saya yang terbatas.

Belakangan ini, perdebatan tentang poligami Aa' Gym muncul di milis trans tercinta. Ramai dan panjang, seperti choki-choki, yang mengerucut pada pertanyaan pantas atau tidak berita poligami Aa' itu masuk dalam buletin. Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan, cukuplah bagi saya menjadi penonton saja dari dalam kotak RCD ini. Tapi, Mas Didit bertanya masih adakah yang mengingat news value keseluruhan, dan baru sadar ternyata saya masuk dalam kategori yang tidak ingat. Saya hanya ingat beberapa.
Di kampus saya dulu, ada tradisi seorang wisudawan wajib menyerahkan buku teks kuliah kepada perpustakaan untuk ditukar dengan ijazah tanda kelulusan. Saya juga melakukan itu dan menyerahkan buku-buku kuliah saya, termasuk buku yang ada pelajaran news value-nya itu. Pikir saya waktu itu, toh nanti buku-buku itu akan menjadi usang dan semua isi beserta teori-teorinya akan teredefinisi sesuai zaman. Ini keniscayaan.
"Anjing menggigit orang bukan berita, tapi orang menggigit anjing itulah berita," demikian news value zaman batu menyatakan. Lalu zaman baru meredefinisinya, bagaimana kalau orang yang digigit anjing itu Presiden Washington, misalnya? Para ahli sepakat itu berita, lalu muncul satu news value baru: prominent (ketokohan).
Demikianlah news value bertambah mengkuti zaman, dan juga berkurang. Di zaman orde baru, para tokoh pers membuat aturan tambahan news value, semata-mata karena mereka harus berhati-hati. Peristiwa yang nyata-nyata kaya news value tidak serta merta bisa diangkat sebagai berita. Ada self-censorship yang punya nama indah: MISS SARA. Sebuah berita tidak boleh Menghasut, Insinuasi, Sensual, Sensasional, dan menyinggung Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan. Setelah melewati saringan itu, sebuah berita baru fit to print.
Tapi lihatlah, makin kesini, saringan itu berkurang. Insinuasi masuk ke dalam berita. Sensual dan sensasional apalagi, jangan ditanya!

Jurnalis(me) adalah pekerjaan profesional. Menurut buku, profesional setidaknya harus memiliki 4 syarat: ada basic science, punya kode etik, berorientasi kepada publik, dan punya organisasi profesi. Itulah yang membedakan kita --kita? :-)-- dengan tukang becak. Tukang becak mungkin punya organisasi profesi, tapi mana ada yang punya kode etik. Karena itu pula kenapa jurnalis disejajarkan dengan profesional lain. Saking spesialnya, jurnalis punya pengecualian dalam konsep equality before the law. Jurnalis punya hak tolak, seperti halnya dokter, akuntan dan pengacara.

Dan karena beorientasi kepada publik, maka profesi jurnalis penting memiliki kode etik. Dalam praktek jurnalisme sendiri, kode etik resmi tidak hanya satu, ada kode etk PWI, AJI, IJTI, dsb-nya. Tapi pada dasarnya semua tujuannya sama, mencegah penyelewengan. Pelanggaran kode etik tidak memiliki implikasi perdata atau pidana, melainkan hanya "sekadar" hukuman moral dan sosial. Kalau kita main amplop, kita tidak akan dipenjara, tapi kita bukan wartawan yang baik menurut masyarakat dan panduan moral kita.
Masalahnya, punyakah kita di sini? Dan kalaupun punya, bersediakah kita mematuhinya?

Pak Ishadi, pemimpin besar kita, beberapa hari yang lalu berjanji akan membuka kemungkinan kita semua (news trans dan trans 7) duduk bersama untuk mebahas kode etik kita sendiri. Beliau mencontohkan, wartawan CNN yang dipecat karena menayangkan berita pembunuhan Ennis William Cosby, putra komedian Bill Cosby, yang dirampok dan terbunuh di sebuah jalan di Los Angeles pada 16 Januari 1997. Saya tidak memamahami di mana kesalahannya. Peristiwa pembunuhan, dan putra seorang aktor terkenal. Lengkaplah news value-nya. Tapi, masih menurut cerita Pak Is--(dengan segala bias pemahaman saya), wartawan itu dipecat karena memakai angle selebritas Bill Cosby, yang dianggap menyalahi kode etik CNN. Itu CNN, bagaimana dengan kita di sini?
Bisakah tindakan Aa' Gym berpoligami masuk ke dalam rundown berita kita semata-mata hanya karena dia orang terkenal? Perdebatannya menjadi panjang karena tak ada patokan yang jelas tentang itu. Kita pecah dalam dua kubu. Untunglah tidak ada keharusan untuk berpihak. Hehehehe...

Semoga segera tercerahkan. Sebelum kita benar-benar terperangkap dalam data trap dan kembali ke definisi berita paling purba: BERITA=NEWS. NEWS=North, East, South, West. Berita adalah semua kabar yang datang dari seluruh penjuru mata angin. Apapun itu. Seseorang berpoligami di Geger Kalong sana tiba-tiba menjadi penting bagi publik. Ini senjakala. Senjakala jurnalisme.


[Awalnya, tulisan ini saya niatkan untuk milis trans. Tapi saya urungkan. Rasanya akan lebih merdeka berteriak di sini. Tak akan ada yang terluka. Kecuali saya sendiri... :-)]

Saturday, December 09, 2006

Doa Keselamatan


Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
selesai mendoakan keselamatanmu

----Dalam Doaku, Sapardi Djoko Damono, 1989---


Mas Gatut Mukti, mantan camera-person Trans TV yang sekarang ditugaskan ke TV7, memakai t-shirt putih yang ada tulisannya puisi Sapardi Djoko Damono itu. Mas Gatut duduk di meja belakang saya, dan saya bisa membacanya sekilas ketika melewatinya dari tempat prasmanan di sesi makan malam.
Baru di sesi presentasi setelah makan malam itu, saya tahu kalau bagian depan t-shirt Mas Gatut itu bergambar siluet Bagus Dwi, cameramen Jejak Petualang yang hilang di perairan Papua Juni lalu.
Bagus Dwi dinyatakan hilang setelah long boat yang dia dan empat kru Jejak Petualang lainnya tumpangi, terbalik dihantam ombak. Dia tak pernah ditemukan. Karena itulah mengapa kawan-kawannya di TV7 membuat t-shirt itu. Menjadikannya sebuah doa.

7-9 Desember di Cisarua. Ini acara Rapat Kerja News TV7 (mulai 15 Desember nanti TV7 akan berganti nama menjadi Trans 7, dan resmi menjadi bagian Trans Corp). Dua kultur yang berbeda akan segera lebur. Ada banyak orang mantan Trans TV yang ditugaskan ke Trans 7, termasuk di divisi News. Kultur Para Group yang "realistis" dan kultur Kompas-Gramedia yang idealis akan menyatu dalam satu bangunan industri. Semoga adonannya benar, terigunya mengembang dengan baik sehingga menjadi kue yang cantik.

Saya datang sebagai penonton saja. Sebagai tim RCD, saya dan 5 orang kawan diundang untuk memberi masukan data untuk pengembangan program News Trans 7 ke depan. Mereka belum punya tim RCD sendiri, jadi untuk sementara kami diperbantukan ke sana.

Saya berbagi kamar dengan tim Jejak Petualang (JP) di Vila Dahlia. Ada Mas Dudit, Mas Dody Johanjaya, Mas Budi, dan WDT. Mas Dody dan Mas Budi adalah dua dari empat korban selamat dalam kecelakaan long boat yang menghilangkan Bagus Dwi itu. Dari 5 orang penghuni vila selain saya, awalnya saya hanya mengenal Mas Coy, eksekutif produser Trans7 yang dulunya juga dari Trans TV.
Tapi mereka orang-orang yang ramah, apalagi sebelumnya kami sudah pernah bertemu di acara arung jeram di Citarum November tahun lalu. Waktu itu ada Mas Dodi, Mas Budi, Riyanni, dan Bagus Dwi juga. Siapa pernah menyangka kalau sekarang kami bekerja di bawah korporasi yang sama?
Mas Dodi heran kenapa tiba-tiba saya bisa menjadi RCD, karena setahu dia saya camera-person waktu terakhir bertemu itu. Mungkin bagi dia ini transisi yang ganjil. Tapi saya bilang di Trans gak ada yang tidak mungkin.

Malam sebelum presentasi JP, saya dan Neng (kordinator RCD untuk TV7) berdiskusi banyak dengan tim JP tentang strategi JP untuk setahun ke depan, termasuk kemungkinan untuk pindah slot dari jam tayangnya yang sekarang. Saya berusaha profesional saja, toh mereka tak perlu tahu kalau saya pernah nge-fans gila-gilaan sama Riyanni Djangkaru --sampai dia menikah. Hehehehe. Oya, kata Mas Budi, Riyanni sudah melahirkan dan bertambah gendut sekarang!

Dan, alhamdulillah, bisa dibilang raker ini berjalan lancar. Banyak usulan program baru dan kesepakatan-kesepakatan dibuat. Dini hari tadi, malam penutupan raker, mereka membuat acara kambing guling. Mereka melingkari api unggun dan membuat games-games seru. Saya, Neng, Mbak Irene, Ishak, dan Fery juga ikut. Kami outsider yang ikut bergembira.
Saya baru menyingkir ketika mereka mulai melingkar semakin dekat ke api unggun. Saya duduk-duduk saja di teras vila dan menonton mereka --termasuk 5 orang tim saya itu-- memegang lilin di tangan masing-masing, dan berjanji akan meruntuhkan tembok.
...
Ya, Kawan, tembok itu memang harus runtuh segera. Seperti Sapardi, saya juga akan selalu berdoa untuk "keselamatan" kalian.

Wednesday, December 06, 2006

[...]

Tuhan, saya capek banget...

Tuesday, December 05, 2006

Hey!!!


I'm sick and tired of hearing things
from uptight-short sighted-narrow minded hypocrytics,

I've had enough of reading things
by neurotic-psychotic-pig headed politicians,

All I want is the truth,
Just gimme some truth.

--Lennon, Give Me Some Truth--



Rasanya sudah mau penuh ini kepala. Ini bukti inkompetensi. Gue bukan peramal yang punya bola kristal. Gue nggak biasa ngomong yang mengawang-awang. Gue bukan nabi yang membawa lembaran-lembaran kertas yang lalu kalian terjemahkan sebagai wahyu. Gue cuma seorang pejalan sepi di pasar yang ramai.

Monday, December 04, 2006

Maria Eva: 17.15=40%


Tepat pukul 17.15 WIB, semua bertepuk tangan. Riuh sekali di depan monitor wall itu. Dan wanita di ruangan sebelah itu mulai menangis. Ahirnya dia mengaku kalau wanita di video porno itu memang dia. Dia mulai sesunggukan ketika membicarakan betapa sakit perasaan orang tuanya.

Pukul 17.20 WIB. Semua yang menonton kembali riuh. Tak ada yang peduli. Studio 5 tempat dia diwawancarai kedap suara. Dia tak akan mendengar suara tawa dan tepuk tangan dari ruangan yang ada 16 layar tivi berjajar itu. Dia beberapa kali terpeleset lidah menyebut "Pak Yahya", bukan "Pak YZ" sebagaimana dia berusaha untuk itu dari awal. Ada empat kali dia menyebut nama itu.

Hampir 17.30, jeda komersial. Pengacara berkuncir itu keluar dari Studio 5.
"Bagaimana? Bagus kan?" tanyanya.
Dasar! Kamu pikir itu lenong, apa! Di kemejanya tersemat pin Partai Demokrat, partai barunya. Dia tidak lagi menjilat-jilat si kuning seperti dulu. Oportunis, kata teman di sampingku.
"Sudah saya atur, nanti kalau ada komplen dari Golkar, sudah saya atur," katanya lagi. Ini sudah politik. Bukan lagi sekadar kasus cabul seorang anggota DPR dan penyanyi dangdut kurang terkenal.

Maria Eva menyusul keluar di belakangnya, bersama seorang bertubuh tambun dan seorang lagi berambut pirang agak kemayu. Wajahnya kuyu, tapi berusaha tetap tersenyum pada orang-orang yang menyalaminya. Pasti susah sekali untuk tersenyum seperti itu jika membayangkan berapa juta orang di luar sana telah melihatmu telanjang.

Rabu depan, begitu laporan rating Nielsen keluar, mari kita lihat. Menit 17.15 itu apakah grafiknya akan menembus batas kertas atau tidak. Hitunganku sih, share-nya akan peak di 40%! OB-nya RCTI boleh minggir deh! Kita tunggu. Hehehehe.

100+7

Hari ini ada hajatan kecil di rumah: peringatan 100 hari-nya Bapak. Harusnya pas tanggal 26 November kemarin, tapi baru sempat diadakan sekarang. Semua hadir, kecuali saya. Mudah-mudahan lebaran nanti saya bisa pulang. Mungkin sudah cukup keras tanahnya, makam Bapak sudah waktunya disemen.

Saturday, December 02, 2006

Di Warung Indomie

Bapak itu menjentikkan abu rokoknya ke asbak.
"Kalau mau ketemu ustadz yang bener ya di langgar-langgar, di mesjid-mesjid kampung. Sekali ustadz itu masuk Istiqlal, selesai dah. Apalagi kalau udah masuk tivi. Abis itu bikin partai segala macam, kalau nggak nambah bini..."
Saya tertawa mendengarnya. Bapak itu mungkin berlebihan. Tapi pembicaraan apa sih yang tidak berlebihan di warung Indomie pada jam 1 malam?

Lima orang kami duduk membentuk hurup L. Di balik meja, yang punya warung duduk mengamati sambil sesekali menanyakan apakah kami mau nambah air minum. Saya dan kawan saya, Garuda, memesan indomie rebus. Bapak berbaju hitam yang mengaku karyawan katering di restoran ujung jalan sana, tampak menikmati secangkir kopi tubruk. Seorang bapak lagi yang pakai kemeja sporty yang penuh logo produk otomotif, juga memesan indomie rebus dengan spesial request: pake sedikit gula. Sedangkan bapak yang menjadi pembicara utama itu hanya merokok saja. Dia kelihatannya sudah duluan menghabiskan pesanannya sebelum kami datang, tapi masih menunggu pesanannya yang lain dikerjakan. "Bungkusin buat bini di rumah," katanya.

Begitulah demokrasi hidup di warung pinggir jalan. Kami tidak perlu kenal satu sama lain untuk terlibat pembicaraan. Baru di suapan-suapan awal indomie saya ketika tiba-tiba bapak pembicara utama itu nanya apakah saya sudah lihat rekaman video porno anggota DPR Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Saya bilang belum. Di kantor memang sudah beberapa hari ini teman-teman membicarakan video ponsel itu, tapi saya belum tertarik melihatnya. Biasanya video-video gelap dari manapun pasti selalu tersedia di server kantor, jadi cepat atau lambat saya pasti akan melihatnya.

"Wah, azab tuh. Malu banget pokoknya! Udah perutnya gendut, t***tnya kecil pula. Cuma seginiii," katanya sambil menunjukkan jempol tangannya. Kami semua tertawa, dan mulai sadar bapak ini bisa menjadi teman melewati malam yang baik. Maka saya pun memancingnya untuk bercerita apa saja.
Dan entah gimana nyambungnya, tau-tau dia sudah membandingkan jaman Soeharto dan sekarang.
"Saya ini produk orde baru. Saya lahir di orde baru, besar di orde baru, kalau anak saya baru orde reformasi. Dulu mah apa-apa enak. Mending Soeharto deh, kita keluar jam 3 malam aja masih aman. Sekarang jam 3 siang aja kita di jalan udah takut."

Saya menyimaknya sambil mengangguk-angguk, sebagai clue non-verbal agar dia terus bicara.
"Kamu masih kuliah?" tanyanya tiba-tiba.
"Nggak, Pak. Saya sudah kerja," jawab saya. Senang juga dianggap masih seperti anak kuliahan.
"Nah, mahasiswa itu ya mestinya bersatu, bikin partai sendiri aja. Pusatnya satu, massanya bisa banyak tuh kalau semua kampus jadi DPW atau DPC..."
Saya tertawa lagi, jadi teringat kawan saya yang latah suka bilang, "Ya nggak mungkeen lah boo!!"
..
"Sekarang emang udah nggak bener. Mana ada anak sekarang yang hafal "Padamu Negeri!" kata bapak itu berapi-api. Bapak yang berbaju otomotif itu juga menambahkan cerita waktu dia muda yang sepanjang jalan ke sekolah diharuskan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sekolah mana tuh! Hehehe.

Ujung-ujungnya, pembicaraan ngalor-ngidul ini menyinggung tentang Aa' Gym. Tersiar kabar kiyai populer ini telah menikah lagi untuk kedua kalinya, padahal Teh Ninih istrinya sudah memberinya tujuh orang anak. Kurang apa lagi coba?

Dan bapak itu, dengan cepat membandingkan Aa' Gym dengan ustadz-ustadz di langgar atau mesjid-mesjid kampung.