tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, November 21, 2006

Rainbow Warrior


Sekarang saya harus selalu tampak bersemangat, betapapun saya lelah. Ada 26 orang yang nggak boleh melihat saya tidak bersemangat. Jika lelah, saya harus bersembunyi. Sembunyi yang jauh. Atau berpura-pura itu bukan saya.
Kepada Vey, saya pernah bilang akan jadi kaktus yang akan tumbuh di manapun dia ditanam. Tapi saya lupa kaktus punya duri yang bisa melukai orang lain di sekelilingnya. Maka saya harus belajar lagi menjadi kaktus yang baik. Yang tidak melukai.

Dulu, Bapaklah alasan kenapa saya masih punya semangat. Karena saya seorang anak yang harus menjadi laki-laki. Menjadi laki-laki dan bukan sekadar tampak laki-laki. Menjadi dan tampak adalah dua hal yang berbeda.
Suatu malam saya bilang pada Bapak kalau saya lelah jadi wartawan.
"Katanya mau ke Irak?" begitu saja kata Bapak mengingatkan kembali cita-cita menjadi wartawan perang.
Seketika saya bersemangat kembali. Meski akhirnya tidak menjadi wartawan perang dan malah terperangkap di kubikal ini, tapi setidaknya saya pernah merasakan adrenalin perang. Saya dua kali bertugas ke Aceh, dua-duanya dalam kondisi yang tak menentu. Ke Ambon ketika wilayah itu masih terbagi merah dan putih. Meliput konflik Dayak-Madura di Kalimantan. Terakhir, dikirim meliput perang Ambalat yang tak jadi meletus itu...
Entah apa jadinya jika saya akhirnya menyerah di ruang tamu rumah saya malam itu.

Sekarang Bapak sudah pergi, dan semangat harus tetap saya jaga untuk ibu saya. Ibu saya harus bangga punya lima anak laki-laki yang salah satu diantaranya adalah saya. Kepada beliau dan empat orang saudara itulah saya akan mempertanggungjawabkan semangat. Setiap hari saya menyiram semangat saya, seperti tanaman kesayangan. Dan menantinya berbunga.

Tapi seringkali keadaan tak bisa disiasati. Seperti saat ini. Saya lelah. Tapi tak boleh memperlihatkannya. Harusnya tak boleh seperti itu. Semangat tak boleh tenggelam. Saya teringat Rainbow Warrior.

10 Juli 1985, agen rahasia Perancis meledakkan Rainbow Warrior I, karena merasa terganggu dengan aksi Greenpeace yang menentang percobaan nuklir Perancis di Kepulauan Muroroa, sekitar Kepulauan Polynesia.
Rainbow Warrior I tenggelam, tapi lalu muncul penerusnya: sebuah kapal bekas kepal nelayan yang lalu diberi nama sama seperti pendahulunya.
Di dinding kabinnya, terpampang sebuah tulisan untuk mengenang fotografer Fernando Pereira (1952-1985) yang ikut tewas bersama Rainbow Warrior I:
"Monsieur, kamu berhasil menenggelamkan Rainbow. Tapi mana mungkin kamu sanggup menenggelamkan sebuah semangat."