tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, November 06, 2006

My Journey So Far


Kelak, saat terbaring rebah di sampingmu
Akan kubisikkan kisah perjalananku
Menempuh cakrawala
dan bintang-bintang


Itu potongan puisi milik kawan saya, Hendragunawan S. Thayf a.k.a Bang Hendra. Ada ahli sastra yang pernah bilang, puisi yang bagus adalah ketika kita mendengar atau membacanya kita lalu merasa terwakili. Seolah-olah penyair itu membicarakan kita.
Seperti ketika saya membaca potongan puisi di atas. Bang Hendra tidak membuatnya untuk saya, tapi saya merasa itu untuk saya.

Beberapa minggu sebelum Bapak meninggal, saya rebahan di sampingnya, menceritakan perjalanan saya selama ini. Bapak yang mulai melemah tiba-tiba seperti bersemangat kembali. Apalagi ketika kami membicarakan sebuah pulau kecil di perairan Maluku yang pernah sama-sama kami datangi, di waktu yang berbeda. Seperti saya, Bapak juga pejalan di waktu mudanya. Saya berharap suatu hari saya akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya. Mungkin kami akan bercerita tentang Talaud, Baliem, atau sekadar halaman belakang rumah...

Setiap kali jalan, selalu di kesempatan pertama, saya akan mengabari Bapak. Bapak, saya di Bukittinggi! Saya di Tawau! Saya di Lombok! Saya di Bali!. Terakhir, saya mengabari Bapak ketika saya di Kerinci...

Kini, rasanya sudah semakin jauh saya melangkah. Mimpi keliling Indonesia tercapai sudah. Tapi harganya mahal: saya tak berada di samping Bapak ketika beliau meninggal. Saya hanya bisa mendengar cerita Uce', adikku nomer 2, bagaimana Bapak berangkat dengan tenang. Saya pikir Bapak akan menunggu saya. Ternyata tidak. Anak nakal ini terlambat pulang.

...
Waba'du, ini hari pertama roundtable baru. Saya ditempatkan di bagian RCD (Research, Creative, and Development). Untuk pertama kalinya selama hampir empat tahun, saya masuk kotak. Artinya setidaknya untuk enam bulan ke depan, saya akan duduk manis dan bekerja di belakang meja, dengan ritme yang mirip orang kantoran. Banyak yang kaget. Apalagi saya. Vey, produser saya yang sedang di Belanda, juga kaget ketika saya kabari. Dia malah mengira saya yang minta untuk ditempatkan di situ. Dia memperkirakan saya tidak akan betah di tempat baru itu. "Kamu orang lapangan, mana betah di RCD!" kata Vey.
Tapi kepada Vey saya bilang, saya ini kaktus; akan belajar tumbuh dimanapun saya ditanam.

Jadi, ini hari pertama. Saya lewati dengan memperhatikan teman-teman bekerja mengutak-atik data dari AGB Nielsen, pemeringkat rating TV itu. Praktis saya belum bisa berbuat apa-apa. Saya mungkin memang harus belajar duduk tenang, dan membahagiakan yang tersisa. Toh, gelombang laut pun ada saatnya untuk surut ke pantai.

Nah, ini versi lengkap dari puisi Bang Hendra itu.

KENANG-KENANGAN
I.
Belum lama aku belajar naik sepeda
Dan saat itu harus kukayuh sepeda baruku
Langsung dari toko menuju rumah
Hatiku girang bercampur tegang
Pantatku berkeringat di atas sadel
Tanganku gemetaran mengendalikan setang
(ia mengikuti dari belakang
Mengendarai vespa putih kesayangan)

Memang tidak gampang
Bersepeda untuk pertama kalinya
Di tengah padat lalu lintas jalan raya
Ketika hari telah bersalin senja
Seorang supir angkot menyalipku
Ia menggertak sembari membelalakkan mata
Namun segera terdengar gelegar bentakannya
"Heh, itu anakku"
Ah, itulah Bapakku!

II.
Sore hari di tepi Losari
Engkau mendukungku atas punggungmu
Hingga dapat kulihat jauh batas rentang cakrawala
Sementara lembut hangat matahari
Membasuh tengkuk dan harum angin laut
Mempermainkan rambutku

Saat bintang telah berdatangan
Dan bulan baru menyembul di antara dahan waru
Aku duduk di pangkuanmu, menyandar pada dadamu
Menghirup ruap melati dan sedap malam
Bertanya akan mereka: dari mana lahir, ke mana nanti pergi

Kelak, saat terbaring rebah di sampingmu
Akan kubisikkan kisah perjalananku
Menempuh cakrawala
dan bintang-bintang