tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, October 27, 2006

[Mudik] To Die For


Hanya berselang beberapa menit, dua kecelakaan terjadi di sepanjang jalur Cibinong ke arah Bogor. Kecelakaan pertama, seorang ibu agak gemuk telentang dengan muka penuh darah di dekat trotoar. Mungkin dia jatuh dengan muka yang duluan menghantam aspal. Kecelakaan kedua, kira-kira sebentar lagi masuk Bogor, seorang ibu terduduk di aspal sambil menggendong anaknya. Tak jauh darinya, seorang laki-laki terkapar dekat motor yang terguling. Seperti kecelakaan pertama tadi, orang-orang pun mengerumuninya.
Saya hanya bisa melihat keduanya dari atas motor yang melaju pelan. Lalu lintas sedang padat, dan tak bijak rasanya berhenti yang tentu akan menghalangi jalan padahal tidak memberi pertolongan apa-apa juga.
Saya ikut membonceng Ewin. Kawan saya yang ganteng dan produser Fenomena itu bermaksud mudik ke Bandung. Saya yang tahun ini tidak bisa pulang ke Bone, tidak menolak ajakannya untuk ikut berlebaran di rumahnya. Lagipula, motor Honda Tiger yang baru dia beli beberapa bulan lalu itu kelihatannya cukup tangguh untuk menahan beban kami: 2x94 kilogram + 2 daypack. Selain kami, ada Kang Aduy yang juga menunggang Tiger, dan Bobi Gun dengan skutik Yamaha Nouvo-nya.

Karena tuntutan pekerjaan, kecuali saya, semua baru bisa mudik di hari terakhir puasa menurut kalender pemerintah. Bobi baru menyelesaikan pekerjaannya di program Investigasi, dan Kang Aduy jam 3 sore masih berada di booth editing mengerjakan satu paket episode Fenomena yang rencananya bakal tayang di akhir bulan ini sebelum pindah ke TV7.
Meninggalkan kantor sekitar jam 4 sore, kami dapat waktu buka di perempatan Ciawi menuju Cisarua. Hanya saya dan Ewin, Bobi dan Kang Aduy sudah duluan dan kami baru bertemu lagi menjelang Puncak. Buka terakhir di Ramadhan kali ini: di trotoar depan warung dengan sebotol Nu Green Tea. Ewin juga sama, ditambah sebatang Marlboro.

Di Puncak, kami berempat kumpul lagi dan menikmati Indomie rebus di sebuah warung sepi yang menyediakan pemandangan lampu-lampu ke lembah di bawah sana. Setelah mengganjal perut, perjalanan dilanjutkan, dan suara takbir dan bedug semakin ramai kedengaran. Di sekitar Cipanas, beberapa pertunjukan kembang api menambah semarak malam. Tapi, suasana malam takbiran baru benar-benar terasa ketika kami sampai di Cianjur. Orang-orang tumpah ke jalan, diangkut dengan mobil bak terbuka.

Sampai di Bandung sekitar jam 10-an, suasana takbiran masih terasa. Di beberapa ruas jalan, lalu lintas macet karena konvoi. Kami sengaja memilih jalur yang ramai untuk sekadar menikmati suasana malam lebaran. Tapi kok rasanya gak beda sama acara Tahun Baru-an ya...

Setelah nongkrong di Lapangan Gasibu dan menikmati --lagi-lagi-- Indomie! [entah kenapa, setelah berpuasa sebulan ini saya merasa punya "dendam pribadi" terhadap Indomie], rombongan pulang menuju rumah masing-masing. Saya ikut Ewin ke Margahayu, Kang Aduy menuju Buah Batu, dan Bobi pulang ke rumahnya di daerah Ci-ci apa gitu... Lupa.

Sampai di rumah Ewin, hampir tengah malam. Ibu dan kakak perempuannya sudah menunggu di ruang tamu. Setelah ngobrol-ngobrol perkenalan sebentar, kami berangkat tidur. Di kamar Ewin, saya membayangkan kembali perjalanan tadi. Alhamdulillah bisa sampai dengan selamat, hanya sedikit pegal di bokong. Di Kompas ada berita 22 orang tewas dalam 2 hari arus mudik di jalur Pantura.
Jam 3-an saya baru benar-benar tertidur. Ewin ternyata masih melanjutkan begadangnya. "Gak bisa tidur, ada bola juga," katanya keesokan harinya ketika kami telat shalat Id dan terpaksa harus muter-muter kompleks buat nyari tempat yang shalat Id-nya belum mulai.

Di Bandung, kami seolah-olah Pak Bondan yang berwisata kuliner. Ke rumah Mas Teguh di Kawaluyaan, rumah Mas Agus di Turangga, rumah Desan di Palasari, rumah Kang Aduy, Warung Lela di Ranca Kendal, dan lanjut ke Cabe Rawit di Dago bersama hujan yang mulai turun. Bandung memang kota romantis, apalagi jika hujan. Wish-u're-here banget deh pokoknya!

Tidak banyak sih yang bisa dikunjungi. Masih banyak rumah kawan dan tempat makan yang luput. Sebenarnya masih ingin tinggal lama, tapi saya dan Ewin harus masuk kantor Kamis ini berhubung utang pekerjaan masih menumpuk.
Tapi lumayanlah untuk sebuah kunjungan singkat. Sudah bisa muterin sebagian besar Bandung, shalat di Salman, dan nongkrong malam-malam di depan Gedung Sate dimana akhirnya saya berhasil [gile! gue emang jago dah! :-)] membuat Ewin mengaku siapa perempuan yang rajin sms-an dengannya selama beberapa hari terakhir ini. Bukan apa-apa, Bos. Kayaknya ini kategori yang serius, karena sedang di atas motor sekalipun Ewin akan berhenti kalau ada sms masuk. Yah, ternyata gak jauh-jauh juga orangnya. [Tenang, Bang, rahasia terjaga kok! :-D]

Kamis siang, 26 Oktober, saya dan Ewin bersiap-siap balik ke Jakarta lagi. Berdua saja, Kang Aduy dan Bobi masih tinggal. Lewat tengah hari baru sampai Cimahi, singgah beli minum di warung dan nonton berita jembatan gantung putus di Baturaden. Orang-orang yang pengen tamasya malah pulang luka-luka.
Matahari lumayan menyengat, dan prosesi mudik belum berakhir. Malah baru bermula sebenarnya.
Jalanan padat bukan main. Banyak sekali pemudik bermotor, baik yang pulang seperti kami, maupun yang baru datang. Dalam hati saya kagum pada ketabahan dan ketangguhan mereka. Khusus untuk pemudik naik motor, banyak pemandangan yang membuat saya terheran-heran. Menjelang Cianjur kami searah dengan sekeluarga pemudik yang mengendarai motor Suzuki Thunder. Kalau cuma sepasang bapak dan ibu dengan dua anak kecil depan belakang mah itu biasa. Ditambah sekarung beras di jok belakang yang disambung kayu juga biasa. Tapi yang ini menurutku lumayan nekat: sepasang laki-perempuan, mungkin suami istri, ditambah seorang ibu-ibu diapit di tengah-tengah -mungkin mertua dari salah satunya. Di bagian depan dan belakang motornya masih ditumpuk beberapa buah tas. Luar biasa!

Susah membayangkan bagaimana sang pengendara melahap tikungan-tikungan tajam di daerah Puncak tanpa kehilangan keseimbangan.

Dan mudik memang butuh keberanian. Memasuki Cipanas, hujan turun, dan kemacetan mengular. Setelah shalat di Mesjid At-Taawun yang keren banget, kami nekat terus melaju menerobos kemacetan melalui median jalan. Praktis hanya motor yang bisa bergerak. Lucu juga melihat segala macam ubi dan kardus menghiasi boncengan motor para pemudik. Berlomba-lomba mengisi celah yang kosong di jalanan.
Masih di Cipanas, sepasang cewek naik motor bebek dengan plat B sekian sekian di belakang kami, beberapa kali berusaha menyerobot. Klimaksnya ketika dia mencoba menyerobot lagi dan sebuah mobil yang muncul tiba-tiba dari arah depan hampir saja menghantamnya. Saya dan Ewin tidak bisa lagi bergerak. Kami sudah terlalu ke kanan karena iringan mobil di sebelah kiri juga tidak bergerak. Ketika berhasil menjajari kami, mereka pun menyapa: ANJING LU! TAI!!!
Sopan sekali mereka mengingat kemarin baru saja lebaran. Saya hanya sempat sekilas melihat cewek yang dibonceng, rambutnya pirang dan sebagian wajahnya ditutupi scarf, seperti kami.

Kami tidak merasa bersalah, justru merekalah yang kelihatan tidak sabar selalu ingin mendahului di jalur sempit. Ewin yang pada dasarnya penyabar, hanya tertawa mendengar sapaan mereka. Saya nanya ke Ewin, "Mau dikerjai nggak?"
Ewin bilang tidak perlu, tapi kemudian dia sudah menjajarkan motornya dengan motor cewek preman itu. Kami punya cara untuk mengintimidasi orang-orang kasar tanpa harus disentuh, dan kami pun melakukan itu sampai mereka menghilang di sela-sela kendaraan lain. Padahal belum sempat kenalan.
Yaa, gagal lagi deh!

ps. halo, cewe2 naik motor bebek, kalau kalian baca ini, kabari aku ya. Mbok ya itu mulutnya disekolahin dikit...