tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, October 06, 2006

Berhenti Melawan

Jadi, bukan untuk bersedih-sedih maka aku menulis ini. Cukuplah. Bapak sudah bahagia di atas sana. Takut terlupa saja. Barangkali ingatan tak seberapa kuat lagi. Mulai sering lupa di mana menaruh kacamata, dan menentukan rakaat terakhir atau bukan:

Delapan hari setelah Bapak meninggal, anak yang ketiga memimpin shalat magrib berjamaah. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Di belakangnya, mengikut menjadi makmum dua abangnya -sulung dan anak kedua-, anak keempat, dan paman --adiknya Bunda. Anak kelima yang paling bungsu tidak ikut, dia sedang mengikuti ospek mahasiswa baru di kampusnya. Di saf belakangnya lagi ada Bunda, tante, dan seorang famili dari Bapak yang banyak membantu memasak hidangan selama acara tiga sampai tujuh harinya Bapak.
Anak ketiga menjadi imam karena dia yang paling bagus bacaannya di antara semua. Paling shaleh, sebutlah begitu. Sebenarnya yang sulung juga bagus bacaan shalatnya, tapi mungkin dia merasa lebih nyaman menjadi makmum kali ini. Kalau anak kedua, tak usahlah diharapkan. Khatam Qur'an satu kali saja butuh waktu belasan tahun.
Anak ketiga membaca surah-surah yang tak dihafal anak kedua, kecuali Al-Fatehahnya. Selesai shalat, ada sedikit kelucuan, karena saling "melempar" untuk memimpin doa. Pamanlah biang keroknya. Bahkan Bunda ikut tersenyum di sela-sela tangisnya karena mengingat Bapak.
Paman yang satu itu memang lucu sekali. Selalu ada saja celetukannya yang membuat keponakan-keponakannya tertawa, terutama si nomer empat. Selain humoris dia juga disegani. Jago berkelahi di waktu mudanya. Hampir tak ada yang tak mengenal dia di kota kecil ini. Betul, ini bukan hiperbola. Si nomer dua itu sudah membuktikannya. Kemana-mana dia selalu merasa bisa selamat kalau bilang, "Saya ponakannya Om Bambang!". Tak akan ada yang berani memukulinya.
Paman itu punya bisnis kecil-kecilan di samping rumah, usaha pencucian mobil dan motor. Baru dijalani sekitar dua tahun setelah pecah kongsi dengan teman bisnis lamanya.
Paman ini memang top, pokoknya. Umurnya 42 tahun dan belum menikah, katanya karena tak mau melihat anak-anaknya nanti tidak bisa punya baju baru seperti sepupu-sepupunya. Dan memang tak akan pernah. 14 hari setelah shalat berjamaah itu, dia meninggal karena stroke dan pembesaran jantung, penyakit yang selama ini seolah dianggapnya main-main saja.
Jamaah berkurang satu, dan tenda kembali dipasang di depan rumah. Banyak yang kehilangan. Dia pergi seperti orang kaya, jalan di depan rumah penuh pelayat yang menyambut ambulansnya pulang dari rumah sakit. Semuanya sahabat, dan beberapa perempuan yang mungkin pernah dia beri hati. Persiapan pemakamamannya pun semua sudah diurus oleh sahabat-sahabatnya. Hanya tinggal menunggu jenazahnya saja untuk diukur panjangnya.
Begitulah yang didengar oleh ponakan nomer dua yang tak hadir di pemakamannya karena ketinggalan pesawat paling pagi dari Jakarta.

Tiba-tiba kematian menjadi begitu dekat. Dan hal-hal lampau yang sebelumnya tampak biasa, akhirnya punya potensi untuk memantik air mata. Si sulung, sehari setelah meninggalnya Bapak, tiba-tiba qunut dan menangis di shalat subuhnya. Pertama kali yang ikhlas selama sekian tahun. Menangis sesal karena telah menjadi seteru diam-diam Bapak yang dari kecil mengajarkan shalat subuh itu ada qunut di rakaat kedua. Anak pertama, kedua, dan ketiga memang jarang qunut, karena pemahaman lanjutan bahwa ritual itu tidak dicontohkan Rasul.
Itu sebentuk kecil perlawanan oleh anak-anak kecil yang resah itu terhadap kultur rumah. Selain itu masih ada banyak sebagaimana lazimnya pengikut NU, seperti barzanji, dsb...

Dan sekarang, tak ada lagi yang mau melawan. Terutama si anak kedua. Baginya, perlawanan telah berhenti.