tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, August 17, 2006

Tak Termaafkan

Ada seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di sebuah kampung. Laki-laki itu mengaku mencari ayahnya yang telah lama tak bertemu. Bertemulah dia dengan seorang anak muda, yang mengaku bisa mempertemukan laki-laki itu dengan ayahnya. Demi sedikit keuntungan, anak muda itu mengajukan syarat --sebutlah itu uang. Laki-laki itu menyanggupi.
Dan anak muda itu pun mengantarkan laki-laki itu bertemu dengan ayahnya. Tapi tak ada peluk rindu. Yang ada darah. Di depan mata si anak muda, laki-laki itu membunuh orang tua yang diakunya sebagai ayah itu.

Itu cerita waktu aku masih remaja. Baru teringat lagi sekarang. Aku tidak sejahat anak muda yang "memanfaatkan" itu, tapi rasanya aku tak jauh beda dengan dia. Aku mungkin telah membuat seseorang terbunuh. Tak termaafkan.

Tuesday, August 08, 2006

Kentut

Jadi, ceritanya, ada segumpal angin yang bersarang di perutku. Hari Rabu kemarin, angin itu bikin aku hampir ambruk di raka'at terakhir shalat dhuhur.
Sakit banget! Bikin perut kembung seperti balon, padahal dari sononya memang sudah mirip balon. Akhirnya dua hari aku tidak bangun-bangun. Hari ketiga aku mengaku kalah, dan mengunjungi dokter.
"Makan tidak teratur," kata Bu Dokter.
Apapun itu, yang pasti aku cuma pengen kentut dan merdeka. Wahai, Bu Dokter yang cantik, tak tahukah dikau betapa terobsesinya aku kepada kentut?
Bu Dokter menawarkan suntik atau tablet, dan sudah pasti aku memilih tablet. Aku lupa kapan terakhir disuntik, tapi aku masih ingat seperti apa rasanya.
Akhirnya dibekalilah aku pulang dengan tiga kantong obat yang ada perkaliannya: 2x1 sesudah makan, 3x1 sebelum makan, dan 3x1 sesudah makan.
Dan, setelah bertarung mati-matian di dalam perutku, zat kimia obat itu akhirnya memenangkan pertarungan. Si Angin jahat pun menyerah dengan ksatria, keluar pelan-pelan dengan tangguh dan suara yang berwibawa.
Preeeeeeetttt! Demikian bunyinya.
Merdekalah, akhirnya. Seperti Indonesia di bulan ini.

Tuesday, August 01, 2006

Kerikil

"Aku haus... dan aku terluka. Ada kerikil di sepatuku..."
--Chava, Innocent Voices---