tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, July 09, 2006

Tak Terukur

Orang tua itu menasehatiku ketika aku hampir tumpah di ruangannya. Aku membiarkan dia melihatku menyeka kacamataku yang berkabut. Dia terdiam sebentar seperti mencoba memaklumi. Aku memang selalu kanak-kanak di hadapannya.
"Aku bukan anak yang baik ya, Kang..." kataku menunduk.
Dia tidak mengiyakan, hanya bilang bahwa setiap anak itu berpotensi menjadi anak yang baik sama porsinya dengan menjadi anak yang buruk.
"Kamu tahu, Chan, seorang bapak itu kadang pura-pura tegar. Padahal sebenarnya mereka selalu khawatir ketika anak-anaknya lepas dari pandangannya. Dan akan lebih sulit bagi seorang bapak untuk melepaskan anak yang tidak terukur daripada anak yang manja."
Aku menatap matanya, meminta penjelasan lanjutan tentang apa yang dia maksud tidak terukur itu.
"Iya, anak manja, misalnya, kalau kehabisan duit pasti nelpon."
...
Aku terdiam, menyadari keberadaanku di sisi yang satu dan berusaha menghitung sejak kapan menjadi tak terukur di mata bapakku.
"Sekarang apa yang menghalangimu untuk pulang?" tanya orang tua itu tiba-tiba.
Aku tak menjawab, karena kujawab pun dia tak akan mengerti. Dia tak akan pernah bisa mengerti.

Cepat sembuh, Bapak. Masih banyak mimpi belum selesai...