tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, July 30, 2006

Persoalan Umat dan Persoalan Pribadi

Di pinggiran hutan Bukit Suban, Pematang Kabau, kami duduk melingkar dalam keremangan cahaya pelita di surau kayu satu-satunya di kampung itu. Magrib baru saja lewat, dan hewan malam sudah mengambil alih. Seorang ibu muda yang menggendong bayi mengangkat tangan. "Kalau suami saya disunat, siapa yang mau menggantikannya mencari makan," tanyanya malu-malu dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.
Tidak segera ada jawaban. Hanya bunyi jangkrik yang semakin riuh merasa memiliki malam.

Mereka, mualaf Suku Anak Dalam, Suku Kubu, atau Orang Rimba, yang menemui kami malam itu. Mereka segelintir Orang Rimba yang mungkin telah lelah melangun dan tak lagi taqlid pada roh nenek moyang. Mereka yang sejak beberapa tahun lalu memilih ber-Islam, tapi kini hampir terlunta-lunta tak mendapat perhatian dari pemerintah. Ada yang menyalahkan, katanya seharusnya mereka tetap di hutan, berburu dan menempuh belukar seumur hidup. Keliru ketika mencoba merumahkan mereka.

Bagiku, tak bijak mempertentangkan konservasi dan pemberdayaan. Keniscayaan berubah toh milik mereka juga. Hanya sedikit miris saja, mengingat persoalan umat yang menjadi pembicaraan orang-orang pintar hampir-hampir tak pernah menyinggung mereka. Departemen Agama sibuk mengutak-atik biaya perjalanan haji. Pemeluk teguh terus mempertentangkan Sunni-Syiah. Lalu kini para pemuda cendekia sibuk mendeklarasikan ICMI Muda. Tak ada yang akan peduli jika Betando kembali ke hutan dan berburu babi.

Betando menjadi mualaf ketika umurnya baru 6 tahun. Ketika itu ayahnya Tumenggung Hilmi menyatakan memeluk Islam dan mulai membangun rumah di tepi hutan Bukit Suban, mendekati perkampungan transmigran dari Jawa. Betando pernah dikirim berguru di sebuah pesantren di Jakarta, tapi kemudian bersama ketiga kawannya sesama Orang Rimba, kembali pulang. Tidak betah, katanya. Kitab kuning tak semenarik pepohonan di Taman Nasional Bukit Duabelas ini. Betando lalu meninggalkan keluarganya di pemukiman, kemudian menikahi seorang wanita di pedalaman, membentuk keluarga sendiri, kembali menjadi Orang Rimba yang utuh.

Pada suatu siang, Betando membawaku menemui istrinya di sudung mereka, jauh di tengah hutan. Dari batas hutan perkebunan karet Ujang Daho, masih perlu berjalan beberapa kilometer lagi, menerobos semak dan melewati sungai. Sudung adalah sebutan mereka untuk rumah. Sebenarnya hanya tempat berteduh sederhana saja. Tidak lebih luas dari lapangan pingpong, beratap terpal atau alang-alang, dan tanpa dinding. Ketika aku datang, istrinya sedang berbaring menyusui putri pertama mereka, Pamenang. Keluarga muda, Betando baru berusia 18 tahun, dan istrinya sekitar 3 atau 4 tahun lebih muda. Istrinya menatapku curiga, menghentikan kegiatannya menyusui lalu merapatkan kainnya. Di bawah sudung, empat ekor anjing tak henti menggonggong. Penjaga-penjaga yang setia, akan mengikuti majikannya kemanapun mereka pergi. Bulan depan, Betando dan keluarganya akan melanjutkan melangun, mendirikan sudung baru entah di bagian rimba mana lagi.


====

[sudah larut malam di Jakarta kini, hujan yang mengguyur sejak selepas magrib sudah reda sejak tadi. Setelah itu kubawa lagi kaki ini berjalan, karena terlalu sakit rasanya untuk tinggal diam. Dua hari ini mungkin aku berbuat kesalahan lagi. Teringat pada Peter Pan --bukan penyanyi itu-- kenapa dia tak ingin menjadi dewasa: mungkin karena dia tak ingin menjadi dan menerima kemunafikan. Demikian tulis Dedy. Maafkan.
Salam dari rimba Bukit Duabelas.
]