tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, June 15, 2006

Yuuk!

Di ruang tunggu kantor imigrasi yang sesak itu, kami berbagi bangku yang sempit. Masih ada sisa ruang untukku duduk setelah perempuan berjilbab itu bergeser sedikit. Dia tersenyum.
"Wartawan ya, Mas?" tanyanya ramah.
Aku menoleh dan belum sempat menjawab ketika dia mulai bicara lagi. "Papa saya juga dulu wartawan. Tapi sudah meninggal. Liat Mas saya jadi ingat Papa..."
Aku melongo. Kalau di sini ada Dedy Zebua, pasti dia akan berteriak, "Ooh, so sweeeeett..."
"Sori kalau begitu, sudah mengingatkan..."
"Nggak apa-apa. Mau kemana?"
Pertanyaan yang membingungkan, seperti kebingunganku ketika harus mengisi kolom negara tujuan di formulir. Belum ada penugasan kemana-mana. Tapi kalau ditanya mau kemana, maka saya akan selalu teringat pada cita-cita awal:
"Afghan," jawabku sekenanya.
"Wah, seru banget! Wartawan perang ya? Kalau Papa dulu wartawan olahraga, dia sudah keliling dunia juga. Pak (dia menyebut nama seorang wartawan terkenal) itu dulu anak buah Papa."
Dan dia terus bercerita. Dia cerita sebentar lagi akan berangkat ke Jerman dan sebagainya, dan aku membalas dengan membanggakan pengalamanku bisa menembus batas tiga negara tanpa surat-surat.
"Kok bisa? tanyanya heran.
"Jadi TKI ilegal, Mbak."
Dia tertawa, mungkin menganggapku bercanda. Padahal aku tidak sungguh-sungguh berbohong tentang itu.
Semakin lama ngobrol aku mulai bisa mengerti tipe lawan bicara kali ini. Dia seorang perempuan yang cenderung selalu ingin didengarkan --seperti pada umumnya perempuan. Mungkin jarang-jarang dia bisa ketemu orang untuk tempatnya bercerita tentang papanya.
...
"Tapi Papa itu orangnya klimis. Rapih. Dandy banget pokoknya. Nggak gondrong kayak Mas. Kalau Papa liat pasti nggak akan suka sama Mas..."
Lagi-lagi aku hanya bisa melongo. Yuuuk!