tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, June 30, 2006

Tafsir Kepedihan

Bila berkesempatan pulang lebih cepat, aku biasa berhenti di dekat halte depan kantor. Aku tidak butuh halte itu. Aku tidak menunggu apa-apa. Hanya ingin menonton.
Jam lima sore di tempat itu selalu ramai. Barisan motor akan berjejer di sepanjang trotoar, menunggu kekasih bubar kerja. Seperti minum obat penenang, setidaknya dua kali sehari mereka harus ke sini. Mengantar dan menjemput.
Kalau pagi lebih ramai lagi. Cobalah berhenti sejenak sebelum masuk gerbang, --kecuali mereka yang naik ojek-- maka akan kau lihat para kekasih yang baru turun dari boncengan, mencium tangan para lelaki mereka setelah menyerahkan helm. Setelah itu para lelaki akan melesat pergi menantang hari dan kembali ketika sore hampir padam.

Aku menikmati memperhatikan mereka. Para lelaki yang menunggu itu, raut lelah di wajah setelah seharian bekerja tak menghalangi kegembiraan menunggu seseorang akan datang duduk di sadel. Kadang-kadang bila yang ditunggu terlambat muncul, para lelaki akan membentuk barisan baru; duduk di rerumputan dan bercanda dengan sesama mereka yang juga harus menunggu sedikit lebih lama.
Mungkin kamu ada di situ juga.

Tapi bila tak bisa pulang cepat, aku biasa menunggu senja turun dengan berdiri di jendela kantor yang menghadap ke timur. Melihat ke arah sana ada gedung Medco dan Hero Gatot Subroto di kejauhan. Tapi di bawah ada pemandangan yang jauh lebih indah: parkiran motor. Menyenangkan sekali melihat mereka yang bergegas pulang.

Jadi ingin segera pulang juga. Rindu ingin shalat Jum'at di mesjid kampungku lagi. Di sini khatibnya aneh-aneh. Masak tadi seenaknya dia bilang orang-orang korban bencana di Aceh dan Jogja itu kena azab! Katanya di Aceh dan Jogja itu banyak maksiat. Dia menyamakannya dengan kaum Nabi Nuh yang habis diterjang bah.
Maafkan aku, Tuhan, tapi menurutku ustadz itu seenaknya saja menghakimi orang. Aku teringat pada seorang gadis kecil yang kutemui di pengungsian korban tsunami Aceh dua tahun lalu. Dia putri Pak Keuchik yang putus asa mencari-cari jejak bapaknya. Pak Keuchik hilang disapu gelombang.
Putri Pak Keuchik itu pasti akan sedih mendengar khotbah semacam ini.
Dan pengkhotbah semacam itu mungkin tak pernah berada di lokasi bencana, melihat mata orang-orang yang menderita itu. Mereka butuh bantuan, bukan tafsir kepedihan dari dia yang berdiri di mimbar dengan pakaian harum.