tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, June 04, 2006

Pita Hitam

Kemarin sore aku tidak sempat menemui seseorang untuk menyampaikan penghormatan yang mungkin terakhir. Bisa jadi memang terakhir, karena di hari lain kami akan agak sulit berjumpa lagi. Percabangan kami kecil, status maupun struktur. Ada sedikit miskomunikasi sehingga aku tidak jadi berangkat dan tetap menongkrongi editan -sampai sekarang.
Dua hari aku belum pulang ke rumah, dan mulai terasa rinduku pada segala perangkat kamarku. Dua hari ini pula aku terus bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi. Tadi malam seorang kawan mengabari lewat telpon yang putus-putus. Katanya, ini semacam kezaliman. Dan dia mengaku ikut menangis di pertemuan penghormatan itu, tanpa menjelaskan itu apa karena terbawa suasana atau bukan.
Mungkin memang ada baiknya aku tidak ikut. Aku mudah terharu pada sesuatu yang tidak aku mengerti sekalipun.
Secara pribadi, aku menghormati beliau dengan skala di atas rata-rata. Bagaimanapun juga, dia punya andil dalam keberadaanku di sini -di kantor ini. Meskipun pada akhirnya beberapa "ketidaksepahaman" muncul dan membuat kami agak "berseberangan". "Ketidaksepahaman" dan "berseberangan" itu tidak menunjukkan sesuatu yang ekual. Tidak sama sekali. Ini lebih pada sesuatu yang buntu di garis komando, sehingga menampakkan seseorang --tarolah itu aku, misalnya-- berada pada posisi tidak patuh; anak buah yang tidak tahu diri. Ketidaksepahaman itu pada akhirnya berujung pada ketidaksepakatan yang berkarat. Aku tidak sepakat pada caranya memperlakukan sistem. Pada caranya memelihara loyalitas bawahannya.

Tapi toh dia telah memutuskan pergi, meninggalkan tanda tanya besar pada kami yang tak mengerti. Sejak kemarin, telah beredar sms berantai yang meminta penerima sms mengenakan pita hitam di lengan kanan sebagai tanda berduka atas kepergian dia. Aku tidak menerima sms itu, hanya tahu dari beberapa orang teman yang menerima yang meng-konfirmasi kebenaran dan asal sms itu.
Bagiku, di saat seperti inilah netralitas justru diperlukan. Sekadar menunjukkan kita berdiri di mana, sekalipun tidak berarti apa-apa. Tanpa pita hitam, aku pun sejatinya berduka. Bukan pada apa-apa, hanya pada situasi yang semakin menampakkan rupa, di mana sesuatu harus selalu menyingkirkan sesuatu.