tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, June 06, 2006

Baju Lusuh

Badanku mulai berontak lagi. Body alarm kronik itu selalu berbunyi, setiap kali hak-haknya tak terpenuhi. Tadi malam aku tak tidur dengan baik, dan paginya terbangun dengan kepala berat. Hari ini ada tugas bikin reenactment untuk satu kasus liputan di Padang tempo hari. Sisa satu lagi. Mudah-mudahan ini yang terakhir menjelang round-table baru. Aku sudah mulai jenuh dengan liputan-liputan yang kejam.

Kemarin Pak Is, direktur utama, mengumpulkan kami semua penghuni satu lantai newsroom, ngasih briefing tentang kondisi terakhir di kantor ini. Situasi memang agak panas belakangan ini, menyusul pengunduran diri seorang pembesar. Praduga-praduga bertebaran. Ada yang bilang ini Bharatayuda. Aku bukan orang Jawa, tidak mengerti benar apa itu Bharatayuda. Hanya sepengetahuanku yang pendek, Bharatayuda bukan sekadar perang. Itu saja. Tapi aku mencoba tidak peduli.

Pak Is lalu bicara tentang integritas. Sebuah kata yang hampir aku lupa maknanya. Menjadi jurnalis adalah harga mutlak atas integritas, kira-kira demikian kata beliau. Jika tak punya itu, berhenti saja dan mulailah "berdagang". Bahasa mudahnya, integritas adalah ketika dalam kondisi yang menyakitkan, tertekan, miskin, terpinggirkan, dan sebagainya, tapi kita masih bisa bangga pada diri sendiri.

Di ruang yang dingin dimana kami semua duduk melantai itu, tiba-tiba aku ingat Bunda, pada Bapak, pada rumah kayu kami yang reot bahkan setelah bertahun-tahun Bunda menjadi hakim dan Bapak sampai pensiun di Bea Cukai.
Aku ingat pada suatu malam, Bunda mengusir dengan halus seorang tamu yang mencoba menyisipkan amplop tebal di bawah taplak meja. Aku ingat pada suatu malam Bunda menyuruh Uce adikku mengembalikan kembali sebatang pensil yang dia temukan di bawah bangkunya di sekolah, karena kata Bunda sebatang pensil itu pun bukan hak kita. Aku ingat pada suatu waktu di masa remajaku yang menggelegak Bunda dengan mata basah mengelus rambutku dan bilang, "Harusnya kami bisa membelikanmu motor..."

Aku ingat itu semua, dan selalu berhasil membuatku berair mata bila mengenangnya kembali. Kedua orangtuaku, di tempat kerjanya yang basah, bersedia menjadi miskin. Demi integritas. Demi kejujuran. Satu-satunya ketakutannya adalah jangan sampai ada nafkah haram yang mencemari darah kami, anak-anaknya.

Dan kemarin, Pak Is mengingatkan itu lagi di Pre-Function Room Lantai 3A, setelah seseorang dinyatakan pergi dengan nama yang tercabik-cabik. Kehilangan integritas; sebuah baju yang bisa membuatmu berdiri dan diterima dengan baik di mana saja, dengan bangga. Baju yang meskipun lusuh dan usang di mata para trendy-wan, tapi selalu pas di badanmu.

Lalu aku menilik diriku sendiri. Berharap baju lusuh itu masih kukenakan.

Yah, waktunya pulang ke kosan. Hampir tengah malam sekarang. Kepala sudah terasa makin berat dan hidung mampet. Bunda pasti tidak suka aku masih "bekerja" sampai selarut ini, apalagi pakai fasilitas kantor untuk membuat blog ini bisa tetap terbaca.