tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, May 28, 2006

Merah

Baru pulang dari Padang, Bukittinggi, Solok, Batusangkar, Padangpanjang, Payakumbuh. Tetirah sejenak dan menemukan satu lagi tanah bergetar di berita televisi. Kota itu sekarang pasti berbeda sekali dengan ketika aku datangi dulu.
Dan sambil menanti-nanti siapa tau ada penugasan ke sana, aku mengamati peta seismik yang tertempel di dinding kamarku, hadiah dari seorang kawan yang bekerja di BMG, tahun lalu. Tempat-tempat itu ternyata memang telah lama diberi warna merah. Dan masih banyak warna merah yang lainnya.

Tuesday, May 09, 2006

Transmigran

Sedang menonton teman-teman di kubikal sebelah membincangkan syal. Tidak akan menarik perhatianku sebenarnya, seandainya mereka bukan laki-laki. Mereka jurnalis-jurnalis wangi, dengan liputan dan tempat taping yang wangi pula. Aku tersenyum sendiri menyadari perbandingan mereka dengan diriku yang bau lumpur dan asap ini. Mungkin memang aku yang kampungan, tidak karib dengan perbincangan klas metroseksual seperti itu.

Tak mengerti di mana hubungannya, tau-tau aku malah teringat pada kakek-paman-ku. Entah apa sebutannya jika dia saudaranya nenekku. Di keluarga, kami sepakat menyapa golongan ini sebagai Om saja. Om-ku ini sama sekali bukan metroseksual, dia transmigran. Beliau, sebutlah namanya Om S, pernah mendapat penghargaan dan berjabat tangan dengan Soeharto sebagai transmigran teladan. Waktu aku kecil dan dia berkesempatan pulang ke kampung kami, dia memamerkan foto-foto dan baju batik yang dia pakai ketika bertemu penguasa orde baru itu.

Konon atas kesediaannya menyukseskan program Repelita itu, dia mendapat ganjaran sebidang tanah dan beberapa ekor ternak. Harta itulah yang menghidupinya di awal-awal kepindahannya. Dengar-dengar dia pernah menjadi guru, mengajari anak-anak sesama transmigran berbahasa Inggris, tapi dia sendiri tidak becus bahasa Inggris. Itu dia akui sendiri pada suatu kesempatan kumpul keluarga menjelang lebaran, dengan tertawa-tawa tentu saja.
Sekarang, puluhan tahun setelah dia memutuskan berhijrah itu, hidupnya telah semakin matang. Tanahnya semakin luas, sapinya juga bertambah banyak, dan selalu siap jual jika anak-anaknya butuh biaya kuliah. Bisa dipastikan dia lebih kaya daripada bapakku yang pegawai negeri non transmigran.

Mungkin karena baru saja membaca buku Ayo Ke Tanah Sabrang sehingga aku jadi teringat pada Om S. Buku karangan Patrice Levang itu --dijual murah di Gramedia Book Fair Senayan minggu lalu-- membahas tentang megaproyek transmigrasi di Indonesia. Tentang "kejahatan" penguasa masa lalu mencerabutkan orang-orang dari akarnya dan membuatnya melata di tempat lain yang asing. Merampas tanah dan kebudayaan orang-orang tak berkekuatan itu lalu menghamburkannya seperti benih kemana-mana. Beruntunglah, kakek-paman-ku Om S itu termasuk benih yang bertahan. Tapi tak sedikit pula yang pulang, dengan berbagai alasan. Surahmat, ayah Dini Setia Utami, bocah pasien face off dari Jawa Barat itu adalah contoh mereka yang pulang. Keluarga Surahmat adalah transmigran ke Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, 11 tahun yang lalu. Di tanah harapan itulah Dini mengalami kecelakaan parah yang membuat seluruh wajahnya terbakar.

Beberapa tahun lalu, ketika menyusuri Muara Tami, kecamatan terluar Indonesia di Timur yang berbatasan dengan Papua Nugini, aku bertemu dengan seorang tua yang menggendong kayu bakar di sepanjang jalan tanah yang coklat. Tak seperti penduduk pribumi, kulit orang tua itu terang. Kalaupun tampak sedikit gelap, itu karena panggangan matahari yang tak main-main panasnya. Dia berasal dari Pulau Jawa ternyata, ikut transmigrasi karena tak ingin lapar di tanah kelahirannya. Di tanah yang dijanjikan itu, dia memang tak pernah merasa lapar. Tapi siapa yang berani bilang tanah itu seperti yang dia impikan, jika dia tetap harus terpanggang matahari menggendong kayu bakar?

Jadi, memang karena membaca buku Patrice Levang itulah aku jadi sering teringat lagi pada Om S. Padahal biasanya yang berhasil mengingatkanku pada dia hanyalah deretan kaleng ikan sarden di Indomaret. Dulu, pada mudik pertamanya setelah transmigrasi, Om S membawa pulang oleh-oleh ikan sarden dalam kaleng banyak sekali, dan dibagi-bagikan kepada kami para cucu-keponakan. Ikan sarden kaleng berlogo matahari terbit, sumbangan pemerintah Jepang untuk para transmigran. Rasanya aneh.
...
Walah! Teman-teman jurnalis wangi itu masih di situ, kini dengan syal indah melingkar di leher masing-masing. Aih! Aih! Cucoknya bo'!

Tuesday, May 02, 2006

Pram

Dulu waktu buku-bukunya masih dilarang, aku dan teman-teman sering mencuri-curi membacanya di perpustakaan UKPM. Buku fotokopian itu, tebal dan bersampul merah, diterbitkan di Kuala Lumpur. Negara orang lain. Karena negaranya sendiri tidak mau mengakuinya. Seperti kata Yati, dia memang seorang budayawan tiri, dan kiri pula.

Sekarang dia telah pergi. Tenang. Tak lagi menyala membakar. Seperti kegemarannya mengumpulkan sampah dedaunan tetangga-tetangganya lalu membakarnya di halaman rumahnya sendiri. Mungkin karena hanya itu hiburannya, setelah keterasingan yang panjang. Seperti jalan ke Surga.