tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, April 10, 2006

Jalan


Beberapa minggu belakangan ini, aku berusaha menekuni dua buku biografi yang bertolak belakang secara fisik dan konten. Yang satu lumayan tebal dengan sampul yang cerlang, sedang yang satunya tipis-tipis saja dengan lay-out sampul yang juga biasa-biasa saja.
Yang tebal itu karya Charles R. Cross; Heavier Than Heaven. Biografi Kurt Cobain -vokalis Nirvana yang menembak dirinya sendiri- itu dibuat setelah Cross melakukan 400 wawancara selama 4 tahun! Sebuah contoh kerja keras seorang wartawan. Kurang lebih seperti yang dilakukan Jon Krakauer ketika menelusuri jejak Christopher McCandless, anak muda anti-kemapanan yang "membuang" dirinya di alam liar Alaska, yang kemudian ditulis Krakauer ke dalam buku Into The Wild yang terkenal itu.

Buku kedua adalah biografi Abu Bakar Ba'asyir. Sebenarnya tidak terlalu cocok bila disebut biografi, karena lebih mirip nukilan sekilas kehidupan Amir Majelis Mujahidin Indonesia itu. Seperti yang aku bilang tadi, bukunya tipis saja, dan lebih banyak menyinggung seputaran perjuangannya bolak balik dari penjara ke pengadilan. Judulnya Dari Penjara ke Meja Hijau: Menelusuri Jejak Dakwah Abu Bakar Ba'asyir. Buku kecil itu ditulis Irfan Awwas, dan diterbitkan oleh penerbit yang tidak terlalu terkenal.

Sebagai pembaca, beberapa bagian dalam buku itu seperti mengajakku mengingat ulang. Sedikit banyak aku juga mengikuti kasus Abu Bakar Ba'asyir. Aku menghadiri beberapa persidangannya, dan meliput penangkapan beberapa orang yang disebut-sebut sebagai anggotanya. Ada yang lucu di buku itu, yaitu tentang keterangan bodoh dari seorang Irjen Polisi yang menjelaskan mengenai kematian seorang tahanan yang dituduh teroris dan sedang dalam penanganan polisi. Menurutnya tahanan itu bunuh diri setelah merebut senjata laras panjang M-16 dari polisi pada saat di-interogasi lalu menembak dirinya sendiri di kamar mandi. Konyol bukan? Sebegitu tololkah polisi kita sehingga seorang tahanan dengan tangan terborgol bisa merebut senjatanya dengan mudah?
Aku hadir di jumpa pers waktu itu, dan masih ingat betapa lucunya muka Pak Pulisi itu...

Tapi, intinya, buku itu mencoba menggambarkan betapa teguh seorang bernama Abu Bakar Ba'asyir itu.

====

Kedua buku itu dengan cepat menjadi buku favoritku. Yang satu karena penulisnya, yang satunya lagi karena orang yang dituliskan. Setiap kali mengalami letih dalam pekerjaanku, aku cukup membuka buku Heavier Than Heaven itu dan dengan segera merasakan semangatku muncul kembali. Bukan karena Kurt Cobain-nya. Tarolah Kurt memang hebat, tapi seperti kata Sebastian Bach -vokalis Skid Row- di majalah Kerrang!, "Kurt mati sebelum jadi apa-apa, jadi jangan samakan dia dengan John Lennon". Tapi bagaimanapun, membayangkan seorang Charles R Cross melakukan ratusan riset dan wawancara untuk tulisannya, cukup membuatku merasa minder sebagai wartawan.

Banyak hal yang bisa membuatku drop dalam sehari-hari pekerjaanku ini. Mungkin dasarnya aku memang fatalis. Mendengar pertanyaan "aneh" yang diajukan teman reporter-ku kepada narasumber pun bisa membuatku kehilangan semangat.
Seperti tengah malam tadi, ketika menemani Cahyo --kawanku seorang jurnalis handal muda berbakat-- mem-preview sebuah paket wawancara seorang kawan dengan seorang bocah korban kebakaran. Reporter itu bertanya, "Pernah gak selama ini kamu merasa disia-siakan sama orangtuamu?"
Hello!!! Sepanjang pre-interview, tidakkah si reporter itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa sang ibu sangat sayang kepada anaknya itu, sekalipun bocah perempuan itu telah sangat mirip alien dengan wajah rusak?
"Kenapa mesti nanya gitu?" tanya Cahyo, retoris. Di balik tampangnya yang sangar, Cahyo memang seorang yang lembut hati, apalagi kalau itu berkaitan dengan prinsip jurnalisme.
"Gue nggak tau, Yo. Mungkin karena dia bukan anak IISIP..." kataku. Kami tertawa berbarengan. Cahyo anak IISIP, kampus yang katanya isinya "ganja melulu".

===

pengakuan:
Sebenarnya dari tadi bingung aku ini mau nulis apa. Belum tidur dari tadi malam, dan perut baru diganjal indomie, padahal aku sudah berniat mau diet karbohidrat. Maka aku biarkan saja tanganku mengetik sembarang huruf, serupa jalan yang tak lurus. Menulis apa saja yang terlintas di kepala yang menagih suplai oksigen ini.

Ngomong-ngomong tentang "jalan", ada sebuah pesan dari seorang ulama mujahid pelarian rezim Orde Baru ke Malaysia:

"Dalam hidup, yang paling sulit bagi seseorang adalah memutuskan memilih jalan hidup yang benar. Dan yang lebih sulit lagi, mempertahankan jalan hidup yang benar itu hingga sampai ke tujuan, yaitu mardhatillah".
. --Abdullah Ahmad Sungkar, wafat Oktober 1999--