tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, April 15, 2006

Ya Habib...

Tidak nyaman menonton TV akhir-akhir ini. Menyakitkan mata. Sebuah kelompok yang menyebut dirinya front pembela mengobrak-abrik sebuah gedung dimana berkantor redaksi yang mereka anggap cabul. Mereka main batu, memecahkan kaca, melempar seperti melihat setan di jamarat tanah suci. Padahal bahkan melontar jumrah sekalipun ada aturannya.

Aku pribadi tidak anti kepada kelompok itu. Tapi melihat mereka seperti itu bikin risih juga. Seperti melihat Imam Samudra dan Amrozi meneriakkan takbir di setiap persidangan, seolah-olah Allah Yang Maha Rahman pasti meridhoi perbuatan mereka yang dengan sengaja menghilangkan banyak nyawa orang lain.
Dan front pembela itu, kenapa mereka bisa begitu mudahnya menyerang teritori orang? Padahal Rasul sendiri melarang seseorang masuk ke pekarangan orang lain tanpa izin yang punya, apalagi sampai berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan yang punya lahan.
Okelah, di zaman serba gelap seperti sekarang, mungkin memang harus ada yang seperti itu. Harus ada seseorang atau kelompok yang tampil sebagai Superman atau Zorro, menegakkan kebenaran dan melawan kemungkaran. Mengingatkan setiap kekeliruan ummat agar tidak terjadi kesalahan sejarah yang mengakibatkan turunnya azab.
Tapi mbok ya jangan begitu caranya. Apa betul mereka yang mengaku pembela kebenaran itu telah paham syariat dengan benar sehingga berhak menghakimi orang lain. Kalau memang mereka betul-betul pembela kebenaran, kenapa mereka tidak membela orang-orang miskin yang tertindas pembangunan, mereka yang rumah dan tanahnya diserobot pemerintah, pedagang-pedagang kecil yang dagangannya diobrak-abrik tramtib, TKW yang diperkosa majikannya di Arab! Dsb, dsb...

Hoi!!! Kenapa Tuan-tuan pembela kebenaran diam saja melihat itu semua. Mereka kan kebanyakan orang Islam, dan dizalimi di negara-negara Islam juga! Kenapa tidak dibela???
Kalau memang Tuan pembela kebenaran, kenapa tidak melawan para koruptor yang terbukti membuat jutaan orang di negara ini jatuh miskin! Kenapa Tuan tidak melawan setiap kebijakan pemerintah yang makin menyengsarakan rakyat? Harga BBM yang makin melambung dan Undang-undang Ketenagakerjaan yang makin nggak becus itu, kenapa tidak Tuan lawan? Apa karena Tuan telah cukup nyaman bersujud di atas sajadah Turki dan mabuk oleh wewangian Persia?

Kemarin jadi tambah kuciwa liat di TV, teman-teman dari KAMMI ikut-ikutan merazia pedagang majalah yang mereka curigai menjual majalah Playboy. Ada yang dagangannya dirampas. Mudah-mudahan digantiin sama mereka, karena kalau tidak bagaimana pedagang-pedagang itu mempertanggungjawabkannya pada agen. Mereka hanya pedagang kecil, hanya cari makan. Agama Islam sebelah mana yang menganjurkan untuk menghalang-halangi mata pencaharian orang lain?

Beberapa tahun lalu, ketika krisis Ambon meletus, hampir berbarengan James Natchwey merilis foto-foto kerusuhan di Jalan Ketapang, di kampusku juga terjadi rusuh. Sehabis jumatan, entah oleh provokasi siapa, jamaah pondokan mahasiswa tiba-tiba merazia orang-orang yang lewat dan menyandera orang yang mereka anggap berada "di pihak seberang". Itulah untuk pertama kalinya aku melihat orang dipukuli dan ditendangi seperti bola, live on the spot! Memang tidak seperti Natchwey yang berhasil mengabadikan adegan penyembelihan yang menggegerkan itu, tapi apa yang aku lihat itu juga lumayan bikin mata perih.

Waktu itu, seorang teman yang juga melihat kejadian itu dan sama-sama tidak bisa berbuat apa-apa tiba-tiba bilang, "Mungkin memang sebaiknya tidak beragama saja kalau mesti kayak begini. Saya malu jadi orang Islam..."

Aku, tidak seperti teman itu, tidak pernah berpikir untuk berhenti beragama. Teman itu pun setahuku juga tidak jadi berhenti beragama, dia tetap Islam dan masih mengenakan kerudungnya sampai sekarang.
Aku juga tidak pernah malu dengan agama ini. Aku tidak percaya agama yang aku yakini ini sebegitu menakutkan dan tidak ramahnya. Bagiku Islam adalah rahmatan lil alamiin. Meski kadang juga muncul pertanyaan di kepala, apakah betul "rahmatan lil alamiin" ketika kita menjadi ancaman bagi orang lain?

Maafkan aku, Ya Habib... Hanya sekadar bertanya, jangan diserbu. Apalagi di-kafir-kan...

Monday, April 10, 2006

Jalan


Beberapa minggu belakangan ini, aku berusaha menekuni dua buku biografi yang bertolak belakang secara fisik dan konten. Yang satu lumayan tebal dengan sampul yang cerlang, sedang yang satunya tipis-tipis saja dengan lay-out sampul yang juga biasa-biasa saja.
Yang tebal itu karya Charles R. Cross; Heavier Than Heaven. Biografi Kurt Cobain -vokalis Nirvana yang menembak dirinya sendiri- itu dibuat setelah Cross melakukan 400 wawancara selama 4 tahun! Sebuah contoh kerja keras seorang wartawan. Kurang lebih seperti yang dilakukan Jon Krakauer ketika menelusuri jejak Christopher McCandless, anak muda anti-kemapanan yang "membuang" dirinya di alam liar Alaska, yang kemudian ditulis Krakauer ke dalam buku Into The Wild yang terkenal itu.

Buku kedua adalah biografi Abu Bakar Ba'asyir. Sebenarnya tidak terlalu cocok bila disebut biografi, karena lebih mirip nukilan sekilas kehidupan Amir Majelis Mujahidin Indonesia itu. Seperti yang aku bilang tadi, bukunya tipis saja, dan lebih banyak menyinggung seputaran perjuangannya bolak balik dari penjara ke pengadilan. Judulnya Dari Penjara ke Meja Hijau: Menelusuri Jejak Dakwah Abu Bakar Ba'asyir. Buku kecil itu ditulis Irfan Awwas, dan diterbitkan oleh penerbit yang tidak terlalu terkenal.

Sebagai pembaca, beberapa bagian dalam buku itu seperti mengajakku mengingat ulang. Sedikit banyak aku juga mengikuti kasus Abu Bakar Ba'asyir. Aku menghadiri beberapa persidangannya, dan meliput penangkapan beberapa orang yang disebut-sebut sebagai anggotanya. Ada yang lucu di buku itu, yaitu tentang keterangan bodoh dari seorang Irjen Polisi yang menjelaskan mengenai kematian seorang tahanan yang dituduh teroris dan sedang dalam penanganan polisi. Menurutnya tahanan itu bunuh diri setelah merebut senjata laras panjang M-16 dari polisi pada saat di-interogasi lalu menembak dirinya sendiri di kamar mandi. Konyol bukan? Sebegitu tololkah polisi kita sehingga seorang tahanan dengan tangan terborgol bisa merebut senjatanya dengan mudah?
Aku hadir di jumpa pers waktu itu, dan masih ingat betapa lucunya muka Pak Pulisi itu...

Tapi, intinya, buku itu mencoba menggambarkan betapa teguh seorang bernama Abu Bakar Ba'asyir itu.

====

Kedua buku itu dengan cepat menjadi buku favoritku. Yang satu karena penulisnya, yang satunya lagi karena orang yang dituliskan. Setiap kali mengalami letih dalam pekerjaanku, aku cukup membuka buku Heavier Than Heaven itu dan dengan segera merasakan semangatku muncul kembali. Bukan karena Kurt Cobain-nya. Tarolah Kurt memang hebat, tapi seperti kata Sebastian Bach -vokalis Skid Row- di majalah Kerrang!, "Kurt mati sebelum jadi apa-apa, jadi jangan samakan dia dengan John Lennon". Tapi bagaimanapun, membayangkan seorang Charles R Cross melakukan ratusan riset dan wawancara untuk tulisannya, cukup membuatku merasa minder sebagai wartawan.

Banyak hal yang bisa membuatku drop dalam sehari-hari pekerjaanku ini. Mungkin dasarnya aku memang fatalis. Mendengar pertanyaan "aneh" yang diajukan teman reporter-ku kepada narasumber pun bisa membuatku kehilangan semangat.
Seperti tengah malam tadi, ketika menemani Cahyo --kawanku seorang jurnalis handal muda berbakat-- mem-preview sebuah paket wawancara seorang kawan dengan seorang bocah korban kebakaran. Reporter itu bertanya, "Pernah gak selama ini kamu merasa disia-siakan sama orangtuamu?"
Hello!!! Sepanjang pre-interview, tidakkah si reporter itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa sang ibu sangat sayang kepada anaknya itu, sekalipun bocah perempuan itu telah sangat mirip alien dengan wajah rusak?
"Kenapa mesti nanya gitu?" tanya Cahyo, retoris. Di balik tampangnya yang sangar, Cahyo memang seorang yang lembut hati, apalagi kalau itu berkaitan dengan prinsip jurnalisme.
"Gue nggak tau, Yo. Mungkin karena dia bukan anak IISIP..." kataku. Kami tertawa berbarengan. Cahyo anak IISIP, kampus yang katanya isinya "ganja melulu".

===

pengakuan:
Sebenarnya dari tadi bingung aku ini mau nulis apa. Belum tidur dari tadi malam, dan perut baru diganjal indomie, padahal aku sudah berniat mau diet karbohidrat. Maka aku biarkan saja tanganku mengetik sembarang huruf, serupa jalan yang tak lurus. Menulis apa saja yang terlintas di kepala yang menagih suplai oksigen ini.

Ngomong-ngomong tentang "jalan", ada sebuah pesan dari seorang ulama mujahid pelarian rezim Orde Baru ke Malaysia:

"Dalam hidup, yang paling sulit bagi seseorang adalah memutuskan memilih jalan hidup yang benar. Dan yang lebih sulit lagi, mempertahankan jalan hidup yang benar itu hingga sampai ke tujuan, yaitu mardhatillah".
. --Abdullah Ahmad Sungkar, wafat Oktober 1999--