tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, March 07, 2006

"Reuni"

Desan menelepon waktu aku baru selesai mandi sore. "Ada di Global!" katanya. Tapi aku ketinggalan. Beritanya sudah ganti ketika tv mulai nyala. Menurut Desan, naskah beritanya kurang lebih demikian: sempat terjadi keributan kecil dengan seorang karyawan yang merasa jalan masuknya terhalang oleh para demonstran.

Seorang karyawan yang dimaksud itu adalah aku, dan sebenarnya bukan 1 orang tapi 2, aku dan Baskoro. Reporter TV itu juga salah menulis naskahnya.
Sebenarnya seperti ini kejadiannya:

Siang tadi aku keluar kantor setelah ngambil duit di ATM Bank Mega depan kantorku. Rencananya mau ke Bank Mandiri untuk transfer ke Bunda. Bunda hanya punya rekening di Bank Mandiri, jadi harus langsung ke bank-nya karena ATM Bank Mega nggak online dengan Mandiri.
Baru sampai di luar pagar, aku melihat sekelompok demonstran sedang berteriak-teriak. Teman-teman yang kemarin juga. Mereka menyebut kami pelacur dan iblis. Mencoret-coret jalan dengan pilox, dan ada bekas bakaran ban tepat di depan pintu masuk.

Aku minta dibukakan pagar oleh sekuriti. Niatku hanya ingin melongok sebentar. Mungkin masih ada yang aku kenal. Aku mendekati mentor-nya, seseorang yang biasanya paling senior. Basa-basi sebentar. Di sela-sela hingar bingar orasi bergantian, kami ngobrol tentang teman-teman lamaku, dan dia sempat meminta kartu namaku tapi aku tak bawa.
Katanya yang demo ini kelompoknya "H". Aku tanya temanku yang duduk di Pengurus Besar HMI.
"Eka masih di Makassar, Mas. Dia belum pulang dari kongres kemarin." HMI memang baru saja bikin kongres di Makassar.
"Yang tua-tua udah nggak turun lagi, Mas." katanya lagi.
"Oke deh. Tolong dijaga baik-baik teman-teman ya, Bos," kataku beranjak pergi. Dia pun mengambil alih megaphone dari korlap yang sejak tadi bekoar-koar. Polisi-polisi masih terus berjejer tak terpengaruh.

Tapi aku tidak jadi pergi. Anak muda yang menyebut dirinya korlap itu tiba-tiba mengambil bensin dan menyiram kembali bekas ban yang sudah mulai padam itu. Refleks aku maju menahan badannya, tapi dia terlanjur melemparkan sebatang korek. Api pun menyala.
Tidak terima aku begitukan, teman-temannya merengsek maju. Untung Baskoro yang baru mau ngantor datang membantuku. Melihatku dikerumuni, Baskoro maju menjadi tandemku.

Aku mendekati anak muda yang tadi aku ajak ngobrol itu, dan mengabaikan korlapnya yang mulai naik darah.
"Bos, terserah kalau kalian mau demo. Kalian mau teriak-teriak silakan. Tapi jangan main bakar kayak gitu. Bensin dan api kalian itu bisa melukai banyak orang..."
Anak muda itu malah mengelak.
"Ini kondisi medan!" katanya.
"Gue tau!," aku juga mulai panas. "Gue menghormati aspirasi kalian, tapi di dalam sana juga banyak orang yang cari makan."
Tiba-tiba ada yang teriak, "Gedung ini pun bisa kita bakar sekalian."
Aku sempat liat mukanya, dan culun banget di mataku. Srimulat kalah culun deh.
"Gue cuma minta kalian matiin api itu." Selebihnya terserah mereka mau meneriaki kami pelacur dsb-nya. Jalan sedang ramai siang itu, dan main bensin dan api tak bagus.
"Gue korlapnya! Gue yang bertanggung jawab!" anak muda bertubuh kecil itu berteriak di dekatku.
"Gue nggak ngomong ama lu!" kataku berusaha tetap tenang, mencoba menjatuhkan egonya.

Lalu beberapa orang mulai merengsek maju, mengepungku dan Baskoro. Melihat gelagat tak sehat itu, beberapa polisi segera menarik kami berdua masuk ke dalam. Tapi aku masih sempat melihat kilat mata anak muda yang memegang megaphone itu.
"Dia bukan barisan kita. Dia antek-antek kapitalis!" teriaknya sambil menunjukku. Hampir aku meledak lagi, tapi polisi-polisi terlanjur melerai kami.

Di balik pagar, seorang bapak menegur aku dan Baskoro.
"Maunya tadi jangan langsung masuk ke sini, bisa memberi kesan jelek," katanya. Aku dan Baskoro berpandangan. Siapa pula bapak gila ini? Dari safarinya aku menebak dia mungkin supervisor sekuriti di gedung yang satu kawasan dengan kami ini. Mudah-mudahan dia bukan dari kantorku, karena kalau iya, besok-besok aku akan membiarkan anak-anak muda demonstran itu melemparkan bom ke kepalanya.

Di luar para demonstran masih terus berteriak. Aku dan Baskoro masuk kembali ke kantor. Hari ini tidak jadi transfer duit untuk Bunda. Besok saja. Jam segitu Bank Mandiri sudah tutup.

Menuju lobi, bayangan anak muda yang meneriaki aku antek kapitalis itu bermain-main di kepalaku. Tak apalah. Aku tak memperjuangkan apa-apa kok. Pun kantor besar ini. Aku hanya memperjuangkan piring nasiku sendiri.
Lagipula -sebutlah aku pengkhianat perjuangan-, tapi menurutku menjadi "kapitalis" bukan dosa besar, selama aku masih bisa ngirim beberapa ratus ribu setiap bulan ke kampung dari hasil keringatku bekerja hampir 20 jam sehari 5 hari seminggu.

Toh aku tak korupsi. Tidak seperti Akbar Tanjung yang alumni HMI itu.