tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, March 06, 2006

Poppies Lane

Baru kali ini ada orang memelukku ketika berpisah di bandara. Biasanya hanya jabat tangan --yang biasa maupun erat-- atau sekadar tepukan di pundak pertanda zona sosial telah selesai. Pak Wayan, pria baik hati, yang seminggu ini menemani "perjalanan bekerja" kami menyusuri tanah kelahirannya. Bagiku, dia bukan sekadar driver+guide yang kami sewa mobilnya. Lebih dari itu pasti.

Dia mempertemukanku dengan Pak Made Tegug, ayahnya, yang tingal sendirian di sebuah kampung di Bangli, yang membuatku merenungi kembali tentang harapan dan keniscayaan seorang tua yang akan sendiri pada akhirnya jika anaknya telah beranjak dewasa.
Pak Wayan, yang pada sebuah malam berkabut di Kintamani, menemaniku tertawa-tawa menonton sinetron bodoh yang terpaksa kami tonton karena remote TV-nya hilang sehingga tidak bisa pindah channel.
Pak Wayan, yang merelakan mobilnya dijadikan percobaan oleh aku yang tidak becus nyetir. Pak Wayan, yang menyebut dirinya sebagai pemeluk Hindu yang tidak terlalu taat, tapi begitu bersemangat menjelaskan tentang Ahimsa.

Hingga Airbus 330 itu mendarat di Cengkareng tadi malam, aku berdoa semoga masih akan bertemu lagi dengan orang-orang seperti itu. Guru-guru yang disediakan alam.

===

Seminggu di Bali, menemui 3 kursi roda sumbangan Wheelchair Foundation yang teronggok tak terpakai di tiga rumah-tiga kampung berbeda yang kami datangi. Ini harusnya jadi cerita tentang kekuatan bertahan hidup, tapi mungkin jadi abai karena tidur terlalu dekat dengan Poppies Lane.