tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, March 18, 2006

Abepura

Jefri Pattirajawane, kontributor Papua itu, lihai sekali mengabadikan peristiwa aparat yang kepalanya digepuk batu itu, dari angle yang tepat. Dari mulai terjatuh, ditimpuk tapi masih bergerak sedikit, ditendang, lalu ditimpuk lagi hingga terdiam selama-lamanya. Ketika seorang rekannya yang mencoba menarik protector dari bawah badan korban, cairan berwarna merah tampak mengalir seperti luber.

Aku menonton gambar yang tidak di-blur, yang masih jelas dua benda tak sama padat itu saling beradu dan meretakkan satu yang lainnya. Besoknya, menurut Mas Divi yang bertugas liputan di istana wapres, Pak JK marah-marah dan menegur stasiun TV yang menyiarkan kekerasan itu berulang-ulang.

Aparat yang tewas itu, sebutlah memang lagi nahas nasibnya. Terpisah dari ring kelompoknya sehingga terjebak dalam kerumunan massa yang mengakibatkan nyawanya melayang. Begitu juga seorang sersan Angkatan Udara yang kebetulan lewat dan menjadi bulan-bulanan massa. Mereka, kabarnya, baru beberapa bulan bertugas di Papua. Tentu saja mereka tak pernah membayangkan akan berakhir di tangan demonstran (mahasiswa?).

Tapi apa benar mereka yang menimpuk batu itu mahasiswa?

Secara psikologi massa, orang-orang yang berkumpul --tidak peduli kaum terpelajar atau bukan-- cenderung untuk tidak rasional. Mereka akan sangat mudah bergerak di luar kontrol. Sedikit saja pemicu, semuanya akan ikut maju seperti kena sirep.

Masalahnya, dalam konteks demo, mbok ya dipikir-pikir dulu kalau mau bertindak. Berseberangan tidak berarti harus membuat salah satu di antara kita menjadi pembunuh. Sebenci-bencinya kita pada aparat (apalagi yang arogan), toh mereka juga terdiri dari darah dan daging.
Di zaman mahasiswa dahulu kala, aku beberapa kali merasakan pentungan, tendangan, dan paparan gas air mata. Pernah kena popor senjata juga. Si Uce, adikku, malah pernah diseret di jalanan sampai mukanya bengap. Orang-orang berseragam itu memang kadang agak berlebihan kalau menghadapi demonstran. Dua tahun lalu, waktu aku meliput demonstrasi mahasiswa se-Bandung Raya di Jakarta, aku melihat ada polisi memukuli mahasiswa dengan pentungan sampai pentungannya patah. Iseng, patahan pentungan itu aku pungut lalu aku perlihatkan kepada mahasiswa yang luka-luka sewaktu aku menjenguk mereka di RSCM.
"Sampai patah gitu ya, Mas?!" kata mereka terheran-heran.
Patahan pentungan itu masih aku simpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan liputan.

Kata orang pintar, kebenaran saat ini tidak lagi berhadapan dengan ketidakbenaran, melainkan berhadapan dengan kebenaran yang lain. Inilah yang dimaksud dengan "kebenaran memiliki banyak sisi". Ketika sekompi aparat berhadapan dengan sekelompok demonstran, masing-masing punya kebenaran yang diyakini dalam kepalanya. Demonstran merasa punya kebenaran untuk memperjuangkan haknya, dan aparat merasa punya kebenaran untuk mempertahankan stabilitas, karena mereka dibayar untuk itu.
Tapi seyogyanya, pertemuan "dua kebenaran" itu janganlah sampai mengorbankan nyawa. Nyawa manusia mah sudah lain hitungannya.
Bila ada aparat main peluru tajam dan demonstran main batu segede kepala, bisa dibilang mereka sudah lupa pada khittah kebenaran masing-masing. Kalau begitu ceritanya, sebaiknya mereka pulang ke rumah saja dan main Playstation atau Xbox.

Sekarang, titik perhatian terlanjur bergeser. Orang-orang mulai lupa pada akar konflik. Pokok permasalahan saat ini adalah polisi (sebagai militer atau semi) versus sipil. Polisi menyisir warga yang diduga terlibat kerusuhan. Seorang bocah yang sedang menjemur pakaian pun kena puluru nyasar sampai tembus dan kritis.
Di TV, baru saja Kapolda Papua minta maaf karena anggotanya menggebuki wartawan yang sedang bertugas, dan berjanji akan mengganti semua kerusakan. Polisi lagi panik dan emosi, sehingga mereka mulai main asal hantam. Kamera Sony PD-170 sebagai "senjatanya wartawan" seharga 25 juta pun dibanting-banting oleh mereka. Kebayang nggak kalau kita yang membanting-banting senjata laras panjang mereka? Bisa dikepruk, kita.

Waba'du, pelan-pelan Tembagapura mulai dilupakan orang, sekarang Abepura sedang naik daun. Sementara jenazah-jenazah korban kerusuhan itu digotong pulang ke asal masing-masing dalam peti mati, ribuan kilo emas hasil kerukan tanah Papua juga buru-buru segera dikapalkan ke negeri asal Freeport. Mumpung lagi sepi. Bukan begitu, Mister?


ps.
Meskipun sebagai pusat pendidikan dan keramaian, Abepura sebenarnya relatif tenang. Tempat ini menjadi melting pot suku pribumi dan pendatang. Aku pernah berkunjung ke tempat ini sepulangnya dari Lembah Baliem di tahun 2004. Dan yang paling aku ingat adalah restoran KFC-nya, karena di depan situlah untuk pertama kalinya aku melihat bencong pribumi. Kekar banget bo'!