tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, March 24, 2006

Di Bawah Meja

Tadi malam aku tertidur di bawah meja lagi. Hujan menyerupai badai menghalangiku pulang ke kosan. Kantor ramai, selain anak-anak malam, banyak yang tidak pulang juga dan memilih menginap di kantor sepertiku.
Tempat yang menyenangkan. Bila lelah dan mengantuk, kamu bisa menggelar sleeping bag di mana saja. Tinggal mencari bidang datar yang sekiranya punggungmu bisa toleran. Jangan lupa sediakan segelas kopi hangat dan 1-2 buku pengantar tidur, setelah itu pastikan berbaringmu nyaman. Cuma AC-nya saja yang agak kurang beradab. Di beberapa zona, suhunya sengaja dibuat sedingin mungkin -hampir 19 derajat, demi menjaga peralatan tetap bisa bekerja dengan baik. Seperti manusia, di sini ada banyak perangkat yang akan bego bila kepanasan. Padahal terlalu dingin juga bisa bikin bego.

Tidak ada mimpi. Jam 5 lewat, terbangun oleh telepon seseorang yang mengingatkan shalat subuh. Sudah mulai sepi lagi, sepi yang sementara. Di meja komputer yang paling dekat denganku yang tadi malam dipakai Bang Abaw memutar mp3 murottal sekarang sudah kosong dan berganti dengan lagu R&B entah punya siapa. Di luar hujan tampaknya telah reda.

Bangun dengan mata berat, melipat sleeping bag dengan perasaaan seperti membereskan penat di sendi tulang. Ada warna coklat tanah tertinggal dari celana jinsku yang habis aku pakai berkarya di lapangan becek sisa hujan kemarin pagi. Sudah mulai mengering.
Masih menimbang-nimbang, antara pulang ke kosan atau tetap di kantor dengan baju yang belum diganti tiga hari.
Tadi malam, Lies menegurku dengan bertanya aku punya berapa kaos seperti yang aku pakai sekarang. Katanya, hari sebelumnya dia melihatku memakai kaos "seperti ini juga". Aku bilang punya dua. Tentu saja dia tahu aku berbohong.

Mungkin memang sebaiknya pulang ke kosan dulu dan mandi sewajarnya. Pagi ini ada rapat program mingguan. Semua yang hadir pasti wangi-wangi. Lagipula ada teman yang baru ngecat rambut jadi agak pirang, tidak sopan rasanya menandingi dia dengan dandanan kumal seperti ini.

Aah!! Siapa pula yang memutar Leaving on a Jet Plane itu?!

Monday, March 20, 2006

Merindukan Rumah

Rasanya ingin menunduk saja dan membiarkan airmata menitik.

Saturday, March 18, 2006

Abepura

Jefri Pattirajawane, kontributor Papua itu, lihai sekali mengabadikan peristiwa aparat yang kepalanya digepuk batu itu, dari angle yang tepat. Dari mulai terjatuh, ditimpuk tapi masih bergerak sedikit, ditendang, lalu ditimpuk lagi hingga terdiam selama-lamanya. Ketika seorang rekannya yang mencoba menarik protector dari bawah badan korban, cairan berwarna merah tampak mengalir seperti luber.

Aku menonton gambar yang tidak di-blur, yang masih jelas dua benda tak sama padat itu saling beradu dan meretakkan satu yang lainnya. Besoknya, menurut Mas Divi yang bertugas liputan di istana wapres, Pak JK marah-marah dan menegur stasiun TV yang menyiarkan kekerasan itu berulang-ulang.

Aparat yang tewas itu, sebutlah memang lagi nahas nasibnya. Terpisah dari ring kelompoknya sehingga terjebak dalam kerumunan massa yang mengakibatkan nyawanya melayang. Begitu juga seorang sersan Angkatan Udara yang kebetulan lewat dan menjadi bulan-bulanan massa. Mereka, kabarnya, baru beberapa bulan bertugas di Papua. Tentu saja mereka tak pernah membayangkan akan berakhir di tangan demonstran (mahasiswa?).

Tapi apa benar mereka yang menimpuk batu itu mahasiswa?

Secara psikologi massa, orang-orang yang berkumpul --tidak peduli kaum terpelajar atau bukan-- cenderung untuk tidak rasional. Mereka akan sangat mudah bergerak di luar kontrol. Sedikit saja pemicu, semuanya akan ikut maju seperti kena sirep.

Masalahnya, dalam konteks demo, mbok ya dipikir-pikir dulu kalau mau bertindak. Berseberangan tidak berarti harus membuat salah satu di antara kita menjadi pembunuh. Sebenci-bencinya kita pada aparat (apalagi yang arogan), toh mereka juga terdiri dari darah dan daging.
Di zaman mahasiswa dahulu kala, aku beberapa kali merasakan pentungan, tendangan, dan paparan gas air mata. Pernah kena popor senjata juga. Si Uce, adikku, malah pernah diseret di jalanan sampai mukanya bengap. Orang-orang berseragam itu memang kadang agak berlebihan kalau menghadapi demonstran. Dua tahun lalu, waktu aku meliput demonstrasi mahasiswa se-Bandung Raya di Jakarta, aku melihat ada polisi memukuli mahasiswa dengan pentungan sampai pentungannya patah. Iseng, patahan pentungan itu aku pungut lalu aku perlihatkan kepada mahasiswa yang luka-luka sewaktu aku menjenguk mereka di RSCM.
"Sampai patah gitu ya, Mas?!" kata mereka terheran-heran.
Patahan pentungan itu masih aku simpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan liputan.

Kata orang pintar, kebenaran saat ini tidak lagi berhadapan dengan ketidakbenaran, melainkan berhadapan dengan kebenaran yang lain. Inilah yang dimaksud dengan "kebenaran memiliki banyak sisi". Ketika sekompi aparat berhadapan dengan sekelompok demonstran, masing-masing punya kebenaran yang diyakini dalam kepalanya. Demonstran merasa punya kebenaran untuk memperjuangkan haknya, dan aparat merasa punya kebenaran untuk mempertahankan stabilitas, karena mereka dibayar untuk itu.
Tapi seyogyanya, pertemuan "dua kebenaran" itu janganlah sampai mengorbankan nyawa. Nyawa manusia mah sudah lain hitungannya.
Bila ada aparat main peluru tajam dan demonstran main batu segede kepala, bisa dibilang mereka sudah lupa pada khittah kebenaran masing-masing. Kalau begitu ceritanya, sebaiknya mereka pulang ke rumah saja dan main Playstation atau Xbox.

Sekarang, titik perhatian terlanjur bergeser. Orang-orang mulai lupa pada akar konflik. Pokok permasalahan saat ini adalah polisi (sebagai militer atau semi) versus sipil. Polisi menyisir warga yang diduga terlibat kerusuhan. Seorang bocah yang sedang menjemur pakaian pun kena puluru nyasar sampai tembus dan kritis.
Di TV, baru saja Kapolda Papua minta maaf karena anggotanya menggebuki wartawan yang sedang bertugas, dan berjanji akan mengganti semua kerusakan. Polisi lagi panik dan emosi, sehingga mereka mulai main asal hantam. Kamera Sony PD-170 sebagai "senjatanya wartawan" seharga 25 juta pun dibanting-banting oleh mereka. Kebayang nggak kalau kita yang membanting-banting senjata laras panjang mereka? Bisa dikepruk, kita.

Waba'du, pelan-pelan Tembagapura mulai dilupakan orang, sekarang Abepura sedang naik daun. Sementara jenazah-jenazah korban kerusuhan itu digotong pulang ke asal masing-masing dalam peti mati, ribuan kilo emas hasil kerukan tanah Papua juga buru-buru segera dikapalkan ke negeri asal Freeport. Mumpung lagi sepi. Bukan begitu, Mister?


ps.
Meskipun sebagai pusat pendidikan dan keramaian, Abepura sebenarnya relatif tenang. Tempat ini menjadi melting pot suku pribumi dan pendatang. Aku pernah berkunjung ke tempat ini sepulangnya dari Lembah Baliem di tahun 2004. Dan yang paling aku ingat adalah restoran KFC-nya, karena di depan situlah untuk pertama kalinya aku melihat bencong pribumi. Kekar banget bo'!

Tuesday, March 07, 2006

"Reuni"

Desan menelepon waktu aku baru selesai mandi sore. "Ada di Global!" katanya. Tapi aku ketinggalan. Beritanya sudah ganti ketika tv mulai nyala. Menurut Desan, naskah beritanya kurang lebih demikian: sempat terjadi keributan kecil dengan seorang karyawan yang merasa jalan masuknya terhalang oleh para demonstran.

Seorang karyawan yang dimaksud itu adalah aku, dan sebenarnya bukan 1 orang tapi 2, aku dan Baskoro. Reporter TV itu juga salah menulis naskahnya.
Sebenarnya seperti ini kejadiannya:

Siang tadi aku keluar kantor setelah ngambil duit di ATM Bank Mega depan kantorku. Rencananya mau ke Bank Mandiri untuk transfer ke Bunda. Bunda hanya punya rekening di Bank Mandiri, jadi harus langsung ke bank-nya karena ATM Bank Mega nggak online dengan Mandiri.
Baru sampai di luar pagar, aku melihat sekelompok demonstran sedang berteriak-teriak. Teman-teman yang kemarin juga. Mereka menyebut kami pelacur dan iblis. Mencoret-coret jalan dengan pilox, dan ada bekas bakaran ban tepat di depan pintu masuk.

Aku minta dibukakan pagar oleh sekuriti. Niatku hanya ingin melongok sebentar. Mungkin masih ada yang aku kenal. Aku mendekati mentor-nya, seseorang yang biasanya paling senior. Basa-basi sebentar. Di sela-sela hingar bingar orasi bergantian, kami ngobrol tentang teman-teman lamaku, dan dia sempat meminta kartu namaku tapi aku tak bawa.
Katanya yang demo ini kelompoknya "H". Aku tanya temanku yang duduk di Pengurus Besar HMI.
"Eka masih di Makassar, Mas. Dia belum pulang dari kongres kemarin." HMI memang baru saja bikin kongres di Makassar.
"Yang tua-tua udah nggak turun lagi, Mas." katanya lagi.
"Oke deh. Tolong dijaga baik-baik teman-teman ya, Bos," kataku beranjak pergi. Dia pun mengambil alih megaphone dari korlap yang sejak tadi bekoar-koar. Polisi-polisi masih terus berjejer tak terpengaruh.

Tapi aku tidak jadi pergi. Anak muda yang menyebut dirinya korlap itu tiba-tiba mengambil bensin dan menyiram kembali bekas ban yang sudah mulai padam itu. Refleks aku maju menahan badannya, tapi dia terlanjur melemparkan sebatang korek. Api pun menyala.
Tidak terima aku begitukan, teman-temannya merengsek maju. Untung Baskoro yang baru mau ngantor datang membantuku. Melihatku dikerumuni, Baskoro maju menjadi tandemku.

Aku mendekati anak muda yang tadi aku ajak ngobrol itu, dan mengabaikan korlapnya yang mulai naik darah.
"Bos, terserah kalau kalian mau demo. Kalian mau teriak-teriak silakan. Tapi jangan main bakar kayak gitu. Bensin dan api kalian itu bisa melukai banyak orang..."
Anak muda itu malah mengelak.
"Ini kondisi medan!" katanya.
"Gue tau!," aku juga mulai panas. "Gue menghormati aspirasi kalian, tapi di dalam sana juga banyak orang yang cari makan."
Tiba-tiba ada yang teriak, "Gedung ini pun bisa kita bakar sekalian."
Aku sempat liat mukanya, dan culun banget di mataku. Srimulat kalah culun deh.
"Gue cuma minta kalian matiin api itu." Selebihnya terserah mereka mau meneriaki kami pelacur dsb-nya. Jalan sedang ramai siang itu, dan main bensin dan api tak bagus.
"Gue korlapnya! Gue yang bertanggung jawab!" anak muda bertubuh kecil itu berteriak di dekatku.
"Gue nggak ngomong ama lu!" kataku berusaha tetap tenang, mencoba menjatuhkan egonya.

Lalu beberapa orang mulai merengsek maju, mengepungku dan Baskoro. Melihat gelagat tak sehat itu, beberapa polisi segera menarik kami berdua masuk ke dalam. Tapi aku masih sempat melihat kilat mata anak muda yang memegang megaphone itu.
"Dia bukan barisan kita. Dia antek-antek kapitalis!" teriaknya sambil menunjukku. Hampir aku meledak lagi, tapi polisi-polisi terlanjur melerai kami.

Di balik pagar, seorang bapak menegur aku dan Baskoro.
"Maunya tadi jangan langsung masuk ke sini, bisa memberi kesan jelek," katanya. Aku dan Baskoro berpandangan. Siapa pula bapak gila ini? Dari safarinya aku menebak dia mungkin supervisor sekuriti di gedung yang satu kawasan dengan kami ini. Mudah-mudahan dia bukan dari kantorku, karena kalau iya, besok-besok aku akan membiarkan anak-anak muda demonstran itu melemparkan bom ke kepalanya.

Di luar para demonstran masih terus berteriak. Aku dan Baskoro masuk kembali ke kantor. Hari ini tidak jadi transfer duit untuk Bunda. Besok saja. Jam segitu Bank Mandiri sudah tutup.

Menuju lobi, bayangan anak muda yang meneriaki aku antek kapitalis itu bermain-main di kepalaku. Tak apalah. Aku tak memperjuangkan apa-apa kok. Pun kantor besar ini. Aku hanya memperjuangkan piring nasiku sendiri.
Lagipula -sebutlah aku pengkhianat perjuangan-, tapi menurutku menjadi "kapitalis" bukan dosa besar, selama aku masih bisa ngirim beberapa ratus ribu setiap bulan ke kampung dari hasil keringatku bekerja hampir 20 jam sehari 5 hari seminggu.

Toh aku tak korupsi. Tidak seperti Akbar Tanjung yang alumni HMI itu.

Monday, March 06, 2006

Poppies Lane

Baru kali ini ada orang memelukku ketika berpisah di bandara. Biasanya hanya jabat tangan --yang biasa maupun erat-- atau sekadar tepukan di pundak pertanda zona sosial telah selesai. Pak Wayan, pria baik hati, yang seminggu ini menemani "perjalanan bekerja" kami menyusuri tanah kelahirannya. Bagiku, dia bukan sekadar driver+guide yang kami sewa mobilnya. Lebih dari itu pasti.

Dia mempertemukanku dengan Pak Made Tegug, ayahnya, yang tingal sendirian di sebuah kampung di Bangli, yang membuatku merenungi kembali tentang harapan dan keniscayaan seorang tua yang akan sendiri pada akhirnya jika anaknya telah beranjak dewasa.
Pak Wayan, yang pada sebuah malam berkabut di Kintamani, menemaniku tertawa-tawa menonton sinetron bodoh yang terpaksa kami tonton karena remote TV-nya hilang sehingga tidak bisa pindah channel.
Pak Wayan, yang merelakan mobilnya dijadikan percobaan oleh aku yang tidak becus nyetir. Pak Wayan, yang menyebut dirinya sebagai pemeluk Hindu yang tidak terlalu taat, tapi begitu bersemangat menjelaskan tentang Ahimsa.

Hingga Airbus 330 itu mendarat di Cengkareng tadi malam, aku berdoa semoga masih akan bertemu lagi dengan orang-orang seperti itu. Guru-guru yang disediakan alam.

===

Seminggu di Bali, menemui 3 kursi roda sumbangan Wheelchair Foundation yang teronggok tak terpakai di tiga rumah-tiga kampung berbeda yang kami datangi. Ini harusnya jadi cerita tentang kekuatan bertahan hidup, tapi mungkin jadi abai karena tidur terlalu dekat dengan Poppies Lane.