tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, February 25, 2006

Sampai 3

Aku bilang ke Fuad, adikku nomer 3, ketika dia bilang ingin mengikuti jejakku menjadi wartawan, "Banyak orang bisa jadi wartawan, Bro. Mereka bekerja dengan otak saja, dengan hati saja, atau kedua-duanya. Kalau kamu merasa ini pilihannmu, pastikan kamu tidak jadi wartawan bodoh yang bekerja tidak dengan hati."

Dan aku mulai merasa bekerja tidak dengan hati belakangan ini. Akulah wartawan bodoh itu.

Dulu, Bunda juga pernah melarang -dengan tersirat- keinginanku menjadi wartawan.
"Pekerjaan itu akan meletakkan sebelah kakimu sudah di neraka," kata Bunda. Tinggal satu kaki lagi, berarti. Tapi aku ngotot, dengan alasan bahwa hanya pekerjaan ini yang akan mewujudkan mimpiku menghubungkan titik-titik pada peta. Yang akan membawaku pergi berjalan jauh.
Memang, akhirnya aku pergi berjalan jauh. Terlalu jauh malah. Banyak hal kutemui, tapi kehilangan banyak juga. Kejadian beberapa tahun lalu di Faizal 10 itu sampai sekarang masih sering membuat mataku perih. Belum lagi kehilangan-kehilangan kecil semisal desensitisasi; seperti seorang teman yang mengeluh setelah sekian lama jadi wartawan, dia tak lagi iba melihat pengemis di lampu merah. Padahal sebelumnya melihat orang tua tertatih-tatih mendorong sepeda di keramaian jalan saja bisa membuatnya keluar air mata.
Tapi itulah harga perjalanan, selain tapak sepatu yang makin aus.

Jadi, mulailah berhitung sampai tiga. Sampai tiga saja, Anak muda.