tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, February 16, 2006

Maafkan...

Kemarin, "teman-teman lama" dari masa lalu datang berkunjung, tapi mereka tertahan di gerbang. Sekuriti kantor tidak mengizinkan mereka masuk, kecuali beberapa perwakilan saja.

Setelah merasa cukup berteriak, mereka lalu meninggalkan bekas kunjungan berupa coretan di aspal yang menuntut Dirut kami dihukum mati. Entah kemarahan seperti apa yang terumbar bersama aerosol dari tabung pilox mereka itu.

Aku dengar mereka menggugat kami karena menggunakan ruang publik untuk menyiarkan kecabulan-kecabulan. Mereka jengah dengan tayangan yang tak henti-hentinya mengekspos "pertigaan" di layar kami.

Mereka anak-anak muda yang pundi-pundi nuraninya masih penuh, membawa pesan keresahan. Pesan dari ruang tengah tempat pesawat televisi ditaruh dan merajalela memangsa seperti mata satu Dajjal dalam format PAL-SECAM-NTSC.
Sebuah pesan ketakutan: "akan seperti apa anak-anak kami besok jika orang membicarakan dildo, gangbang, atau swinger, sama entengnya seperti membicarakan resep masakan"?

Mereka, "teman-teman lama" sebelum aku memutuskan menjadi sekrup di sini.
Tapi tak sempat bertemu mereka kemarin itu. Aku sedang sibuk melacur ketika mereka datang.
Di gerbang aku hanya menemui cleaning service yang tergesa-gesa menghapus bekas pilox di jalanan. Dan sekuriti yang terus berjaga-jaga. Kolega yang sama-sama mencari makan di gedung yang baru saja dinistakan anak-anak muda itu.

Merenung sebentar. Lalu terbitlah apologi-ku, bahwa melacur pun pekerjaan mulia. Kita dibayar untuk sesuatu yang juga kita "nikmati". Maafkan kami. Maafkan...