tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, February 19, 2006

Dhaif

Hampir enam tahun yang lalu, di ruang tunggu RS Wahidin, aku duduk menunggu giliran dipanggil dokter mata. Ada Ansir --sahabat yang hilang-- menemaniku, setelah melarikan diri dari kuliah pagi yang membosankan.
Itu kunjungan pertama setelah merasa mataku semakin tak bisa mengenali orang. Benarlah, Dokter Halimah --nama dokternya, jika jas putih yang dia pakai bukan pinjaman-- menganjurkan aku mengganti kacamata yang aku pakai sejak awal kuliah.
"Min-nya nambah, jangan suka liat sembarangan," Dokter Halimah yang berkerudung itu mencandaiku.
"Bukannya malah bikin tambah segar mata kalau lihat yang indah-indah, Dok?" tanyaku.
Dokter Halimah tertawa. Setelah itu dia mempersilahkan sekitar sepuluhan mahasiswa kedokteran yang juga berjas putih masuk ke ruang periksa, dan aku dijadikan objek pelajaran mereka.
Anjrit!! Cepat sekali doaku terkabul. Di antara mereka memang ada banyak mahasiswi yang sedap dipandang. Tapi aku tidak dalam posisi yang menguntungkan. Rasanya malah seperti jadi boneka anatomi di lab biologi.

Aku lupa berapa awalnya, yang pasti pulang dari sana aku membawa catatan untuk segera diantarkan ke optik. Mata kiri satu setengah, mata kanan dua setengah.

Kembali ke kampus, aku tiba-tiba berpikir tentang otonomi. Waktu itu teman-teman sedang giat-giatnya mengkaji materialisme. Lazim didengung-dengungkan bahwa manusia adalah mahluk yang otonom, bebas berkehendak, dan tuhan atau surga hanyalah angan-angan yang belum tentu ada. Aku pun sempat terkagum-kagum pada keberanian teman-temanku itu. Betapa radikalnya mereka berpikir!

Dan hampir-hampir aku percaya dan menjadi atheis andaikata tidak bertemu dokter mata itu. Di ruang tunggunya aku dipaksa mengingat-ingat kembali pelajaran biologi yang kira-kira demikian: kornea yang menebal akan membuat bayangan benda yang kita lihat tidak tepat jatuh di titik fokus mata.
Lalu seberapa jagonya kita?
Lihatlah, betapa tidak berdayanya manusia, hanya karena sesuatu dalam rongga mata menebal sedikit saja, seketika semuanya menjadi kabur, dan kita harus dibantu kacamata. Dhaif.