tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, February 17, 2006

Bab Orang Dewasa

Belly usianya baru 11 tahun Oktober nanti. Ulangtahunnya juga dirayakan oleh seluruh Tentara Nasional Indonesia. Mungkin karena itu dia jadi sekuat tentara. Setidaknya, mentalnya.

Jika kepedihan adalah mata kajian dalam hidup, bisa dianggap dia hampir khatam. Anak sekecil itu, dengan wajah tirusnya, menyimpan cerita yang bagi orang lain mungkin mimpi buruk.

Bapaknya pergi ketika dia belum bisa membedakan warna.
"Belly itu tabah anaknya," kata ibunya. Dia lahir kembar, tapi tak tahu lagi di mana saudaranya itu. Ibunya menitipkannya pada seseorang ketika kehidupan mereka mulai carut marut.

Dia menemani ibunya ketika wanita yang sekarang berusia 28 tahun itu diceraikan suami keduanya.
Dia juga menemani ibunya ketika berbulan-bulan mereka disekap seperti binatang oleh suami ketiga ibunya, seorang laki-laki sado-masochis.

"Dia saksi hidup penderitaan saya," kata ibunya lagi.
Belly baru pulang sekolah ketika kami menemui ibunya di kamar kontrakannya, beberapa hari lalu. Kami datang bertanya: apa kabar wanita malang itu?

Belly duduk tenang di sampingku, ikut mendengar ibunya menceritakan kembali
ketika tiga tahun lalu kedua bola matanya dicongkel garpu oleh suami bejatnya itu, dan ditemukan tetangga sedang merangkak seperti bayi dalam gelap.
Untunglah seorang dokter hebat di RS Aini bisa menyelamatkan satu bola matanya agar masih bisa berfungsi, meski tak senormal sebelumnya.

Dan Belly tetap tenang seperti menikmati dongeng. Sesekali saja mata gadis kecil itu beralih kepadaku, dengan tatapannya yang setajam pedang.
Guru kehidupan telah terlalu cepat mengajarinya tentang bab orang dewasa.