tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, February 25, 2006

Sampai 3

Aku bilang ke Fuad, adikku nomer 3, ketika dia bilang ingin mengikuti jejakku menjadi wartawan, "Banyak orang bisa jadi wartawan, Bro. Mereka bekerja dengan otak saja, dengan hati saja, atau kedua-duanya. Kalau kamu merasa ini pilihannmu, pastikan kamu tidak jadi wartawan bodoh yang bekerja tidak dengan hati."

Dan aku mulai merasa bekerja tidak dengan hati belakangan ini. Akulah wartawan bodoh itu.

Dulu, Bunda juga pernah melarang -dengan tersirat- keinginanku menjadi wartawan.
"Pekerjaan itu akan meletakkan sebelah kakimu sudah di neraka," kata Bunda. Tinggal satu kaki lagi, berarti. Tapi aku ngotot, dengan alasan bahwa hanya pekerjaan ini yang akan mewujudkan mimpiku menghubungkan titik-titik pada peta. Yang akan membawaku pergi berjalan jauh.
Memang, akhirnya aku pergi berjalan jauh. Terlalu jauh malah. Banyak hal kutemui, tapi kehilangan banyak juga. Kejadian beberapa tahun lalu di Faizal 10 itu sampai sekarang masih sering membuat mataku perih. Belum lagi kehilangan-kehilangan kecil semisal desensitisasi; seperti seorang teman yang mengeluh setelah sekian lama jadi wartawan, dia tak lagi iba melihat pengemis di lampu merah. Padahal sebelumnya melihat orang tua tertatih-tatih mendorong sepeda di keramaian jalan saja bisa membuatnya keluar air mata.
Tapi itulah harga perjalanan, selain tapak sepatu yang makin aus.

Jadi, mulailah berhitung sampai tiga. Sampai tiga saja, Anak muda.

Sunday, February 19, 2006

Dhaif

Hampir enam tahun yang lalu, di ruang tunggu RS Wahidin, aku duduk menunggu giliran dipanggil dokter mata. Ada Ansir --sahabat yang hilang-- menemaniku, setelah melarikan diri dari kuliah pagi yang membosankan.
Itu kunjungan pertama setelah merasa mataku semakin tak bisa mengenali orang. Benarlah, Dokter Halimah --nama dokternya, jika jas putih yang dia pakai bukan pinjaman-- menganjurkan aku mengganti kacamata yang aku pakai sejak awal kuliah.
"Min-nya nambah, jangan suka liat sembarangan," Dokter Halimah yang berkerudung itu mencandaiku.
"Bukannya malah bikin tambah segar mata kalau lihat yang indah-indah, Dok?" tanyaku.
Dokter Halimah tertawa. Setelah itu dia mempersilahkan sekitar sepuluhan mahasiswa kedokteran yang juga berjas putih masuk ke ruang periksa, dan aku dijadikan objek pelajaran mereka.
Anjrit!! Cepat sekali doaku terkabul. Di antara mereka memang ada banyak mahasiswi yang sedap dipandang. Tapi aku tidak dalam posisi yang menguntungkan. Rasanya malah seperti jadi boneka anatomi di lab biologi.

Aku lupa berapa awalnya, yang pasti pulang dari sana aku membawa catatan untuk segera diantarkan ke optik. Mata kiri satu setengah, mata kanan dua setengah.

Kembali ke kampus, aku tiba-tiba berpikir tentang otonomi. Waktu itu teman-teman sedang giat-giatnya mengkaji materialisme. Lazim didengung-dengungkan bahwa manusia adalah mahluk yang otonom, bebas berkehendak, dan tuhan atau surga hanyalah angan-angan yang belum tentu ada. Aku pun sempat terkagum-kagum pada keberanian teman-temanku itu. Betapa radikalnya mereka berpikir!

Dan hampir-hampir aku percaya dan menjadi atheis andaikata tidak bertemu dokter mata itu. Di ruang tunggunya aku dipaksa mengingat-ingat kembali pelajaran biologi yang kira-kira demikian: kornea yang menebal akan membuat bayangan benda yang kita lihat tidak tepat jatuh di titik fokus mata.
Lalu seberapa jagonya kita?
Lihatlah, betapa tidak berdayanya manusia, hanya karena sesuatu dalam rongga mata menebal sedikit saja, seketika semuanya menjadi kabur, dan kita harus dibantu kacamata. Dhaif.

Friday, February 17, 2006

Bab Orang Dewasa

Belly usianya baru 11 tahun Oktober nanti. Ulangtahunnya juga dirayakan oleh seluruh Tentara Nasional Indonesia. Mungkin karena itu dia jadi sekuat tentara. Setidaknya, mentalnya.

Jika kepedihan adalah mata kajian dalam hidup, bisa dianggap dia hampir khatam. Anak sekecil itu, dengan wajah tirusnya, menyimpan cerita yang bagi orang lain mungkin mimpi buruk.

Bapaknya pergi ketika dia belum bisa membedakan warna.
"Belly itu tabah anaknya," kata ibunya. Dia lahir kembar, tapi tak tahu lagi di mana saudaranya itu. Ibunya menitipkannya pada seseorang ketika kehidupan mereka mulai carut marut.

Dia menemani ibunya ketika wanita yang sekarang berusia 28 tahun itu diceraikan suami keduanya.
Dia juga menemani ibunya ketika berbulan-bulan mereka disekap seperti binatang oleh suami ketiga ibunya, seorang laki-laki sado-masochis.

"Dia saksi hidup penderitaan saya," kata ibunya lagi.
Belly baru pulang sekolah ketika kami menemui ibunya di kamar kontrakannya, beberapa hari lalu. Kami datang bertanya: apa kabar wanita malang itu?

Belly duduk tenang di sampingku, ikut mendengar ibunya menceritakan kembali
ketika tiga tahun lalu kedua bola matanya dicongkel garpu oleh suami bejatnya itu, dan ditemukan tetangga sedang merangkak seperti bayi dalam gelap.
Untunglah seorang dokter hebat di RS Aini bisa menyelamatkan satu bola matanya agar masih bisa berfungsi, meski tak senormal sebelumnya.

Dan Belly tetap tenang seperti menikmati dongeng. Sesekali saja mata gadis kecil itu beralih kepadaku, dengan tatapannya yang setajam pedang.
Guru kehidupan telah terlalu cepat mengajarinya tentang bab orang dewasa.

Thursday, February 16, 2006

Maafkan...

Kemarin, "teman-teman lama" dari masa lalu datang berkunjung, tapi mereka tertahan di gerbang. Sekuriti kantor tidak mengizinkan mereka masuk, kecuali beberapa perwakilan saja.

Setelah merasa cukup berteriak, mereka lalu meninggalkan bekas kunjungan berupa coretan di aspal yang menuntut Dirut kami dihukum mati. Entah kemarahan seperti apa yang terumbar bersama aerosol dari tabung pilox mereka itu.

Aku dengar mereka menggugat kami karena menggunakan ruang publik untuk menyiarkan kecabulan-kecabulan. Mereka jengah dengan tayangan yang tak henti-hentinya mengekspos "pertigaan" di layar kami.

Mereka anak-anak muda yang pundi-pundi nuraninya masih penuh, membawa pesan keresahan. Pesan dari ruang tengah tempat pesawat televisi ditaruh dan merajalela memangsa seperti mata satu Dajjal dalam format PAL-SECAM-NTSC.
Sebuah pesan ketakutan: "akan seperti apa anak-anak kami besok jika orang membicarakan dildo, gangbang, atau swinger, sama entengnya seperti membicarakan resep masakan"?

Mereka, "teman-teman lama" sebelum aku memutuskan menjadi sekrup di sini.
Tapi tak sempat bertemu mereka kemarin itu. Aku sedang sibuk melacur ketika mereka datang.
Di gerbang aku hanya menemui cleaning service yang tergesa-gesa menghapus bekas pilox di jalanan. Dan sekuriti yang terus berjaga-jaga. Kolega yang sama-sama mencari makan di gedung yang baru saja dinistakan anak-anak muda itu.

Merenung sebentar. Lalu terbitlah apologi-ku, bahwa melacur pun pekerjaan mulia. Kita dibayar untuk sesuatu yang juga kita "nikmati". Maafkan kami. Maafkan...

Friday, February 10, 2006

Homo Ludens

Hari pertama: berlagak seolah-olah tentara di arena paintball. Buset dah! Biar kata pelurunya karet tapi sakit juga. Ada pihak musuh yang melanggar peraturan nembak dalam jarak kurang dari 10 meter, dan tidak pas di body protector-ku. Hasilnya perih merah-merah yang gak hilang dalam dua hari. Hari kedua: balapan gokart dan ATV (All Terrain Vehicle), lumayan seru. Bawa pulang luka lecet dan jari kaki sobek karena kelempar dari ATV.
Demikianlah, Kawan. Dua hari di Ciater, ramai-ramai dengan anak KD memuaskan takdir sebagai homo ludens. Dan hari ini kembali jadi homo mecanicus lagi. What a life!