tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, January 01, 2006

Tahun Baru

Januari 2004:
Meliput banjir di Pedongkelan.

Januari 2005:
Kurang lebih begini ceritanya.
Hari pertama di tahun 2005, pukul 7.30 pagi, KRI Teluk Sabang yang kami --saya dan 4 wartawan lain-- tumpangi mulai merapat di perairan Meulaboh setelah empat malam berlayar dari Jakarta. Ini ekspedisi bantuan pertama dari Jakarta, membawa bahan makanan, obat-obatan, dan personil. Sehari sebelumnya ketika singgah di Sibolga, sekitar 200 orang personil tambahan naik, juga tim dokter dari FKUI yang di-drop dengan pesawat Casa dari Bengkulu.

Satu kilometer dari pantai, Meulaboh betul-betul seperti kota mati. Kami semua berdiri di haluan, mengamati dari jauh. Air laut alun, tapi udara terasa lebih dingin. Tak seperti di bayanganku sebelumnya; akan menemui orang-orang yang sekarat menunggu bantuan. Yang ini seperti tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Sepi.
Pukul 8.30, kami memutuskan turun. Cerita tentang GAM yang konon telah turun gunung dan menunggu di sepanjang pantai, kami halau jauh-jauh dari pikiran. Dermaga rusak dan tak bisa dirapati kapal perang buatan Jerman ini. Jalan satu-satunya hanya dengan sekoci. Untunglah tentara Angkatan Laut itu berbaik hati merapatkan kami pertama-tama.

Ahmad Susanto dari Indosiar, Iskandar dari TV 7, Jefri Aries dari LKBN Antara, Zulfikar dan saya sendiri dari Trans, ditambah Gustav dan Zainal dari Dispen Armabar, berdesak-desakan di sekoci yang tak seberapa besar itu. Sepanjang laju, kami semua terdiam, tak ada yang bicara. Selalu dalam liputan bencana, satu pertanyaan yang sama bermain-main di kepala: apa yang akan kami temui nanti di sana?

Merapat di pantai, tempat itu ternyata tak benar-benar sepi. Serombongan tentara menyambut kami, marinir dari Yonmarhanlan I Belawan. Mereka sedang mendirikan tenda dan memasak di bawah pohon ketika kami tiba.
Pak Parulian, seorang marinir berbadan besar, menyapa kami.
"Sudah tak ada orang lagi di sini, yang selamat sudah mengungsi ke lapangan Kompi," katanya sambil menyuguhkan teh dari ceret aluminium. Tempat yang dimaksudnya adalah sebuah lapangan di markas Korem 012 Teuku Umar. Saya tahu tempat itu, di sana komandannya paman temanku, seorang kolonel asal Bugis yang punya reputasi hebat dalam Perang Timor Timur.
"Tadi malam kami sudah mengubur seratus enam mayat yang kami temukan di sini," kata Pak Parulian lagi.
Saya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Aroma yang sejak tadi menyeruak mulai menusuk hidung. Di saku raincoat saya ada masker, tapi saya berniat tidak memakainya kecuali betul-betul terpaksa.

Kota pelabuhan ini benar-benar hancur. Rumah dan toko ambruk atau hilang disapu air. Ada mobil nyungsep di atas tiang listrik atau parkir di garasi tetangga. Sebuah kapal kayu besar teronggok dekat ayunan anak-anak di taman. Pastilah hanya kekuatan maha dahsyat yang bisa melemparkannya begitu rupa. Lemari es, mesin cuci, CPU komputer, mesin tik, sepeda, motor, mobil, semuanya bergabung menjadi rongsokan. Ada bros kembang masih terpasang di gaun berwarna hitam yang penuh lumpur.
Di tempat lain, buku-buku dan VCD berserakan. Saya membayangkan tempat itu bekas kamar seorang remaja yang sedang ceria-cerianya. Pemiliknya mungkin masih terjebak di reruntuhan di bawah kakiku.

Tak jauh dari tempatku berdiri, Jefri, fotografer Antara itu, tampak sedang berusaha menegakkan sebuah tiang kayu yang diberinya tanda kain. Sesosok tubuh lagi ditemukannya ketika sedang memotret.
Hanya begitulah yang kami bisa. Kadang-kadang kami berpikir tentang fardu kifayah, bahwa betapa berdosanya kami yang tak bisa berbuat banyak menyaksikan tubuh-tubuh yang membusuk itu. Hanya memberinya tanda dan berharap orang lain segera menemukannya. Padahal kami juga punya dua lengan yang sama sehatnya.

Di sepanjang perjalanan menumpang truk tentara menuju tempat pengungsian, pemandangan semakin menyakitkan mata dan hidung. Mayat-mayat dijejer di pinggir atau median jalan, menunggu relawan mengangkutnya ke kuburan massal. Saya teringat pada obrolanku malam sebelumnya di atas kapal dengan seorang bapak penumpang dari Sibolga. Semua keluarganya tinggal di Meulaboh. Berhari-hari dia menunggu tumpangan hanya untuk menemukan keluarganya dan memastikan mereka --jika memang tak terselamatkan-- tidak dikubur di kuburan massal. Setidaknya agar ada makam yang bisa diziarahi.
Selanjutnya saya tidak tahu lagi bagaimana kabar bapak itu dan keluarganya, karena kami berpisah di dermaga.

Kembali di dermaga setelah berkeliling, saya bertemu dengan Pak Suherman, seorang pegawai sipil Kodim. Setiap hari sejak bencana itu datang, dia mengais-ngais puing-puing rumahnya, berharap menemukan jasad istri dan anaknya. Hari itu setelah seharian membongkar-bongkar bersama seorang anaknya yang berhasil selamat, dia menemukan mayat anak kecil. Bukan mayat anak yang dicarinya, tapi tetap diangkatnya dan dimasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Katanya nanti akan dikuburkan di mana sempat.
Bapak itu mungkin sudah lelah menangis, tapi di mataku, yang diperlihatkannya adalah sebuah ketabahan luar biasa. Kepada anaknya, Fahri namanya, dia berujar agar menceritakan kembali kepada saya kejadian ketika tsunami itu datang. Bocah itu bercerita dengan terbata-bata tapi selalu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Saya yang tak kuat, dan cepat-cepat meninggalkan mereka setelah mengucapkan simpati dan mendoakan semoga dia segera menemukan istri dan anaknya -setidaknya dalam bentuk jasad.

...
Bagi saya, ini kali kedua mengunjungi Meulaboh. Sebelumnya saya sudah mengunjungi kota ini pada masa peralihan dari darurat militer ke darurat sipil dulu. Kota yang indah dengan garis pantai yang menakjubkan. Orang-orangnya tak bisa menyembunyikan keramahan mereka di balik wajah yang terbiasa tegang oleh desing peluru ketika itu.
Dan hari ini saya mendatangi tempat ini lagi, dengan pemandangan yang sangat berbeda.
Rasanya, kamera yang kami bawa tak merekam gambar apa-apa selain kerusakan.

Tiga jam setelah menginjakkan kaki di pantai itu, saya baru merasa mataku basah. Di kejauhan sebuah mesjid tampak tegak berdiri di antara reruntuhan di sekitarnya. Saya menarik nafas dalam-dalam, merasakan dadaku sesak oleh sebuah pertanyaan: Tuhan, apa yang sesungguhnya ingin Kau sampaikan?

Januari 2006:
Selamat Tahun Baru 2006. Akhirnya bisa melewatkannya di depan TV -16 buah TV-- di monotor room, menonton orang-orang yang bersuka cita. Tak kemana-mana di pergantian tahun ini. Hanya mengenang satu-dua tahun yang lewat. Hanya terus berusaha agar menjadi benar pada akhirnya. Semoga ini doa.