tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, January 04, 2006

Sepele

Sepasang muda-mudi itu duduk di kursi pojok, pilihan standar bagi para pecinta kasmaran berkaitan dengan suasana dan geografi. Tak banyak yang memperhatikan mereka --di antaranya ada aku tentunya, yang terpaksa mengambil tempat menghadap tembok karena teman-teman lain sudah lebih dulu duduk menghadap keluar.

Keduanya masih mahasiswa, kelihatan dari dandanannya. Cowoknya mungkin "anak kiri", pakai baju kaos yang ditimpa jaket lusuh khas aktivis. Ada jenggot tipis menghiasi dagunya, membuatnya lebih mirip personil band indie. Dia yang memilih menu.
Kontrari, gadisnya seorang modis, pakai baju warna pink dan celana capri. Sejak tadi dia sibuk berhahahihi dengan Nokia 9300-nya. Di sela-sela pembicaraannya, sesekali dia menunjuk-nunjuk buku menu memberi petunjuk kepada kekasihnya apa yang harus dimakan.

Aku tak begitu yakin apa yang membuat mereka menarik perhatianku. Padahal sebelumnya ada juga sepasang sejoli yang duduk di seberang meja kami, tapi tak begitu menarik perhatianku, meskipun gaya mereka cukup provokatif. Cowoknya sampai duduk menyamping dan mereka berbicara dengan jarak wajah yang tak ada sejengkal. Tapi seperti yang kubilang tadi, mereka tidak begitu menarik perhatianku.

Beda sama pasangan yang duduk di pojok itu. Mungkin karena anak muda itu mirip Accul, teman kampusku dulu yang pernah mencalonkan diri jadi presiden dewan mahasiswa dari partai "PAS". Mungkin juga karena mereka tidak serasi -setidaknya menurut penglihatanku: seperti melihat Nestor Paz bersanding dengan Revalina Temat. Ikon yang tidak sebangun. Tapi tidak aneh. Bukankah Budiman Sudjatmiko telah lama bergabung di kandang banteng, dan Andi Arief akhirnya menyusul menjadi pejabat negara?

Begitulah laporan pandangan mata hari ini. Masih lumayanlah. Belakangan ini aku sering merasa khawatir karena mulai abai pada hal-hal kecil nan sepele.