tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, January 27, 2006

Pulang Malam dari Tempat Edit

Dan si tukang cerita itu mulai berkisah:

Mata keduanya bertatapan.
"Jangan buka! Jangan buka!" perempuan yang duduk di kursi belakang berteriak panik.
"Matilah kita..." supir di sebelahnya juga mendengis. Tangannya gemetaran di stir mobil.
Di luar, laki-laki garang itu mengacung-acungkan pistolnya. FN yang kelihatan agak karatan.
"Tak perlu membuang pelurumu, Pak," katanya. Tanpa disangka-sangka, dia menurunkan kaca jendela. Dengan tenang dia meraih tangan penodong itu, merebut pistol seperti mencomot permen dari anak kecil. Tak terdengar letusan.
...
"Siapa cepat dia dapat. Berlombalah dengan Pak Polisi."
Lalu dia meninggalkan laki-laki malang itu terikat tali sepatu di besi jembatan. Dia bukan Houdini, hanya seorang rampok yang sial.
Kembali ke mobilnya seolah tidak ada apa-apa. Antrian yang mengular kembali bergerak. Orang-orang melongok dari kendaraan masing-masing, tak peduli, hanya berharap segera sampai di rumah.
Besoknya dia membaca di koran, ada orang terikat di jembatan, mati ditendangi pengendara motor yang lewat.


Klap! Si tukang cerita menjentikkan jari di depan wajahnya.
Seketika dia tersadar. Mengucek-ucek matanya seperti adegan di sinetron. Ada sedikit perih di mata kanannya, seperti gejala mau bintitan. Mobil masih terus melaju, pelan-pelan saja. Harusnya dari Pejaten bisa langsung ke kantor lewat Buncit Raya. Tapi ini kenapa di Tebet!
Dua malam dengan tidur yang kacau telah membuatnya berhalusinasi, ternyata.
Sebelumnya dia bikin dosa lagi, dan membuat seseorang menangis.
Maaf... dan terima kasih, Tuhan.