tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, January 15, 2006

Laki-laki Penjaga Tugu

Sudah lama aku di sini, berbilang tahun. Sejumlah jari dua tangan mungkin ada. Melihat yang itu-itu saja. Tonggak kayu belian yang mereka anggap sebagai tugu. Di sini, di lintang nol kilometer ini.
Telah banyak yang datang, tapi kursiku tak pernah berubah. Posisinya saja yang kadang bergeser, menghindari sinar matahari atau tempias air hujan.

Kemarin ada lagi yang datang, seorang anak muda dengan langkah yang berat, dan seorang perempuan berkerudung. Seperti anak kecil, dia menyusuri garis yang membelah bola bumi jadi dua bagian itu, berjalan dari timur ke barat.
"Lihat, aku menuju matahari tenggelam," katanya pada perempuan bermata indah itu. Perempuan itu tersenyum, dengan raut wajah seolah berkata "hei, kamu aneh!"

Mereka berkeliling, membaca manual, dan menelisik grafiti purba di tugu kayu itu. Si anak muda menertawai sebuah guratan bertulis tahun 1959, entah apa yang lucu baginya. Seperti yang lain yang datang, mereka juga berusaha untuk tampak bahagia.

Setelah menulis nama di buku tamu, mereka pergi. Menembus hujan yang mulai jatuh sebesar biji-biji akasia, menuju toko souvenir di depan sana, membeli sesuatu untuk sekadar mengekalkan kenangan.

Dan aku pun kembali pada sepiku, sesekali mengamati rintik-rintik air yang rembes dari langit-langit yang bocor.


[::catatan perjalanan Pontianak, 9-14 Januari 2006]