tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, January 31, 2006

Pasir Dalam Botol


Pemimpin Zona Timur telah mengeluarkan perintah untuk menyingkirkan semua kotoran-kotoran duniawi dari ruang loker. Dalam surat edarannya yang ditempel di dinding ruang kaca disebutkan; segala macam properti: kardus, baju, handuk, dsb-nya, sebagai semua yang harus disingkirkan.

Dibanding ruangan lain di lantai ini, ruang loker itu memang sangat liberal. Segala macam benda bisa masuk ke situ, sampai dirasa perlu menempelkan larangan terhadap benda-benda khusus seperti ikan asin, jenazah, dan orang yang belum gosok gigi!

Pemimpin Zona Timur tampaknya mulai jengah melihat betapa tidak beradabnya benda-benda yang berhimpitan di ruangan yang menjadi wilayah tanggung jawabnya itu. Hingga dikeluarkanlah surat edaran tersebut.

Aku juga punya loker di ruangan itu, warisan dari Mas Alfian Rahardjo, mantan presenter yang memilih menjadi koresponden Solo, menemani istrinya.
Tidak seperti loker pemain basket NBA, lokerku ini ukurannya kecil saja, dua kali satu setengah jengkal orang dewasa. Dengan sedikit paksaan, hanya bisa memuat 1 sleeping bag, 1 bantal kecil, beberapa buah novel, toples plastik, 1 kotak kaset DVC Pro isi 10, dan 2-3 lembar kaos. Ukuran segitu, tentu saja tidak semua propertiku bisa masuk. Mengikuti kebiasaan yang telah lama berlaku, beberapa terpaksa aku taruh di luar, dan akhirnya terancam untuk segera diungsikan begitu surat edaran itu keluar.

Tiga malam lalu, mengikuti perintah, aku mengemasi semua benda-benda tuna wisma itu ke dalam ransel dan membawanya pulang ke kosan. Ada sepasang sepatu Eiger Cordura yang aku beli bareng Nina beberapa hari sebelum berangkat ke Jakarta tiga tahun lalu. Sepatu yang sekarang hanya dipakai sekali-kali saja, karena sol-nya bocor dan tidak elok dipakai bila musim hujan. Miniatur rumah adat Timor, oleh-oleh Baskoro dari Timor Leste. Beberapa lembar poster film --yang terbaru 9 Naga. Dan dua botol plastik berisi pasir dari dua pantai yang berbeda, yang salah satunya tidak pernah berani aku bawa pulang.

Dari banyak pantai yang telah aku kunjungi, dengan alasan tertentu aku memilih untuk membawa pulang pasir dari dua pantai itu saja. Yang berwarna putih bersih adalah pasir pantai Pulau Miangas, pulau terluar Indonesia di utara. Sedang yang kecoklatan dan seolah-olah selalu basah itu pasir pantai Calang, sebuah kota pelabuhan di Aceh yang habis dihantam tsunami. Itulah yang tak berani aku bawa pulang ke kosan dan selama setahun lebih aku biarkan di kantor saja.

Tapi, tadi malam akhirnya semua benda-benda itu telah berada di kamar kos-ku lagi, termasuk pasir pantai itu. Dan mimpi buruk yang selalu kutakutkan itu ternyata tidak datang. Tidur malah terasa sangat tenang, setenang pasir yang terperangkap dalam botol Aqua itu.

Friday, January 27, 2006

Pulang Malam dari Tempat Edit

Dan si tukang cerita itu mulai berkisah:

Mata keduanya bertatapan.
"Jangan buka! Jangan buka!" perempuan yang duduk di kursi belakang berteriak panik.
"Matilah kita..." supir di sebelahnya juga mendengis. Tangannya gemetaran di stir mobil.
Di luar, laki-laki garang itu mengacung-acungkan pistolnya. FN yang kelihatan agak karatan.
"Tak perlu membuang pelurumu, Pak," katanya. Tanpa disangka-sangka, dia menurunkan kaca jendela. Dengan tenang dia meraih tangan penodong itu, merebut pistol seperti mencomot permen dari anak kecil. Tak terdengar letusan.
...
"Siapa cepat dia dapat. Berlombalah dengan Pak Polisi."
Lalu dia meninggalkan laki-laki malang itu terikat tali sepatu di besi jembatan. Dia bukan Houdini, hanya seorang rampok yang sial.
Kembali ke mobilnya seolah tidak ada apa-apa. Antrian yang mengular kembali bergerak. Orang-orang melongok dari kendaraan masing-masing, tak peduli, hanya berharap segera sampai di rumah.
Besoknya dia membaca di koran, ada orang terikat di jembatan, mati ditendangi pengendara motor yang lewat.


Klap! Si tukang cerita menjentikkan jari di depan wajahnya.
Seketika dia tersadar. Mengucek-ucek matanya seperti adegan di sinetron. Ada sedikit perih di mata kanannya, seperti gejala mau bintitan. Mobil masih terus melaju, pelan-pelan saja. Harusnya dari Pejaten bisa langsung ke kantor lewat Buncit Raya. Tapi ini kenapa di Tebet!
Dua malam dengan tidur yang kacau telah membuatnya berhalusinasi, ternyata.
Sebelumnya dia bikin dosa lagi, dan membuat seseorang menangis.
Maaf... dan terima kasih, Tuhan.

Friday, January 20, 2006

Hujan dan Angin

Beberapa hari ini hujan turun suka-suka. Lewat di Gang Damai jadi sering mendengar rumpi bernada keluh ibu-ibu rumahan. Ibu-ibu yang sering kulihat dengan daster yang sama baik ketika lewat berangkat maupun pulang kantor.
"Itu belum kering-kering juga lho, Bu, padahal jilbab tipis gitu doang," kata seorang ibu.
"Iya, kalau tahu gini tadi nggak nyuci jaket adik saya itu," kata seorang ibu yang lain.
Padahal siapa yang bisa menerka cuaca, yang kadang berlaku seperti perempuan: agak susah dipercaya.

Angin juga tidak terlalu bersahabat. Berjalan kemana saja seolah-olah mau terbang, mungkin memang bisa terbang seandainya pakai celana dalam di luar dan jubah seperti punya superman.
Air mancur di depan lobi kantor juga jadi ikut serba salah, butir-butir airnya sering terbawa angin hinggap di mulut dengan rasa-rasa asin. Tadi siang malah meluber lagi, memberi kerjaan tambahan bagi cleaning service. Jangan sampai mobil mewah Pak Direktur selip dan luntur semir ban-nya.

Sunday, January 15, 2006

Laki-laki Penjaga Tugu

Sudah lama aku di sini, berbilang tahun. Sejumlah jari dua tangan mungkin ada. Melihat yang itu-itu saja. Tonggak kayu belian yang mereka anggap sebagai tugu. Di sini, di lintang nol kilometer ini.
Telah banyak yang datang, tapi kursiku tak pernah berubah. Posisinya saja yang kadang bergeser, menghindari sinar matahari atau tempias air hujan.

Kemarin ada lagi yang datang, seorang anak muda dengan langkah yang berat, dan seorang perempuan berkerudung. Seperti anak kecil, dia menyusuri garis yang membelah bola bumi jadi dua bagian itu, berjalan dari timur ke barat.
"Lihat, aku menuju matahari tenggelam," katanya pada perempuan bermata indah itu. Perempuan itu tersenyum, dengan raut wajah seolah berkata "hei, kamu aneh!"

Mereka berkeliling, membaca manual, dan menelisik grafiti purba di tugu kayu itu. Si anak muda menertawai sebuah guratan bertulis tahun 1959, entah apa yang lucu baginya. Seperti yang lain yang datang, mereka juga berusaha untuk tampak bahagia.

Setelah menulis nama di buku tamu, mereka pergi. Menembus hujan yang mulai jatuh sebesar biji-biji akasia, menuju toko souvenir di depan sana, membeli sesuatu untuk sekadar mengekalkan kenangan.

Dan aku pun kembali pada sepiku, sesekali mengamati rintik-rintik air yang rembes dari langit-langit yang bocor.


[::catatan perjalanan Pontianak, 9-14 Januari 2006]

Wednesday, January 04, 2006

Sepele

Sepasang muda-mudi itu duduk di kursi pojok, pilihan standar bagi para pecinta kasmaran berkaitan dengan suasana dan geografi. Tak banyak yang memperhatikan mereka --di antaranya ada aku tentunya, yang terpaksa mengambil tempat menghadap tembok karena teman-teman lain sudah lebih dulu duduk menghadap keluar.

Keduanya masih mahasiswa, kelihatan dari dandanannya. Cowoknya mungkin "anak kiri", pakai baju kaos yang ditimpa jaket lusuh khas aktivis. Ada jenggot tipis menghiasi dagunya, membuatnya lebih mirip personil band indie. Dia yang memilih menu.
Kontrari, gadisnya seorang modis, pakai baju warna pink dan celana capri. Sejak tadi dia sibuk berhahahihi dengan Nokia 9300-nya. Di sela-sela pembicaraannya, sesekali dia menunjuk-nunjuk buku menu memberi petunjuk kepada kekasihnya apa yang harus dimakan.

Aku tak begitu yakin apa yang membuat mereka menarik perhatianku. Padahal sebelumnya ada juga sepasang sejoli yang duduk di seberang meja kami, tapi tak begitu menarik perhatianku, meskipun gaya mereka cukup provokatif. Cowoknya sampai duduk menyamping dan mereka berbicara dengan jarak wajah yang tak ada sejengkal. Tapi seperti yang kubilang tadi, mereka tidak begitu menarik perhatianku.

Beda sama pasangan yang duduk di pojok itu. Mungkin karena anak muda itu mirip Accul, teman kampusku dulu yang pernah mencalonkan diri jadi presiden dewan mahasiswa dari partai "PAS". Mungkin juga karena mereka tidak serasi -setidaknya menurut penglihatanku: seperti melihat Nestor Paz bersanding dengan Revalina Temat. Ikon yang tidak sebangun. Tapi tidak aneh. Bukankah Budiman Sudjatmiko telah lama bergabung di kandang banteng, dan Andi Arief akhirnya menyusul menjadi pejabat negara?

Begitulah laporan pandangan mata hari ini. Masih lumayanlah. Belakangan ini aku sering merasa khawatir karena mulai abai pada hal-hal kecil nan sepele.

Sunday, January 01, 2006

Tahun Baru

Januari 2004:
Meliput banjir di Pedongkelan.

Januari 2005:
Kurang lebih begini ceritanya.
Hari pertama di tahun 2005, pukul 7.30 pagi, KRI Teluk Sabang yang kami --saya dan 4 wartawan lain-- tumpangi mulai merapat di perairan Meulaboh setelah empat malam berlayar dari Jakarta. Ini ekspedisi bantuan pertama dari Jakarta, membawa bahan makanan, obat-obatan, dan personil. Sehari sebelumnya ketika singgah di Sibolga, sekitar 200 orang personil tambahan naik, juga tim dokter dari FKUI yang di-drop dengan pesawat Casa dari Bengkulu.

Satu kilometer dari pantai, Meulaboh betul-betul seperti kota mati. Kami semua berdiri di haluan, mengamati dari jauh. Air laut alun, tapi udara terasa lebih dingin. Tak seperti di bayanganku sebelumnya; akan menemui orang-orang yang sekarat menunggu bantuan. Yang ini seperti tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Sepi.
Pukul 8.30, kami memutuskan turun. Cerita tentang GAM yang konon telah turun gunung dan menunggu di sepanjang pantai, kami halau jauh-jauh dari pikiran. Dermaga rusak dan tak bisa dirapati kapal perang buatan Jerman ini. Jalan satu-satunya hanya dengan sekoci. Untunglah tentara Angkatan Laut itu berbaik hati merapatkan kami pertama-tama.

Ahmad Susanto dari Indosiar, Iskandar dari TV 7, Jefri Aries dari LKBN Antara, Zulfikar dan saya sendiri dari Trans, ditambah Gustav dan Zainal dari Dispen Armabar, berdesak-desakan di sekoci yang tak seberapa besar itu. Sepanjang laju, kami semua terdiam, tak ada yang bicara. Selalu dalam liputan bencana, satu pertanyaan yang sama bermain-main di kepala: apa yang akan kami temui nanti di sana?

Merapat di pantai, tempat itu ternyata tak benar-benar sepi. Serombongan tentara menyambut kami, marinir dari Yonmarhanlan I Belawan. Mereka sedang mendirikan tenda dan memasak di bawah pohon ketika kami tiba.
Pak Parulian, seorang marinir berbadan besar, menyapa kami.
"Sudah tak ada orang lagi di sini, yang selamat sudah mengungsi ke lapangan Kompi," katanya sambil menyuguhkan teh dari ceret aluminium. Tempat yang dimaksudnya adalah sebuah lapangan di markas Korem 012 Teuku Umar. Saya tahu tempat itu, di sana komandannya paman temanku, seorang kolonel asal Bugis yang punya reputasi hebat dalam Perang Timor Timur.
"Tadi malam kami sudah mengubur seratus enam mayat yang kami temukan di sini," kata Pak Parulian lagi.
Saya mengalihkan pandangan ke sekeliling. Aroma yang sejak tadi menyeruak mulai menusuk hidung. Di saku raincoat saya ada masker, tapi saya berniat tidak memakainya kecuali betul-betul terpaksa.

Kota pelabuhan ini benar-benar hancur. Rumah dan toko ambruk atau hilang disapu air. Ada mobil nyungsep di atas tiang listrik atau parkir di garasi tetangga. Sebuah kapal kayu besar teronggok dekat ayunan anak-anak di taman. Pastilah hanya kekuatan maha dahsyat yang bisa melemparkannya begitu rupa. Lemari es, mesin cuci, CPU komputer, mesin tik, sepeda, motor, mobil, semuanya bergabung menjadi rongsokan. Ada bros kembang masih terpasang di gaun berwarna hitam yang penuh lumpur.
Di tempat lain, buku-buku dan VCD berserakan. Saya membayangkan tempat itu bekas kamar seorang remaja yang sedang ceria-cerianya. Pemiliknya mungkin masih terjebak di reruntuhan di bawah kakiku.

Tak jauh dari tempatku berdiri, Jefri, fotografer Antara itu, tampak sedang berusaha menegakkan sebuah tiang kayu yang diberinya tanda kain. Sesosok tubuh lagi ditemukannya ketika sedang memotret.
Hanya begitulah yang kami bisa. Kadang-kadang kami berpikir tentang fardu kifayah, bahwa betapa berdosanya kami yang tak bisa berbuat banyak menyaksikan tubuh-tubuh yang membusuk itu. Hanya memberinya tanda dan berharap orang lain segera menemukannya. Padahal kami juga punya dua lengan yang sama sehatnya.

Di sepanjang perjalanan menumpang truk tentara menuju tempat pengungsian, pemandangan semakin menyakitkan mata dan hidung. Mayat-mayat dijejer di pinggir atau median jalan, menunggu relawan mengangkutnya ke kuburan massal. Saya teringat pada obrolanku malam sebelumnya di atas kapal dengan seorang bapak penumpang dari Sibolga. Semua keluarganya tinggal di Meulaboh. Berhari-hari dia menunggu tumpangan hanya untuk menemukan keluarganya dan memastikan mereka --jika memang tak terselamatkan-- tidak dikubur di kuburan massal. Setidaknya agar ada makam yang bisa diziarahi.
Selanjutnya saya tidak tahu lagi bagaimana kabar bapak itu dan keluarganya, karena kami berpisah di dermaga.

Kembali di dermaga setelah berkeliling, saya bertemu dengan Pak Suherman, seorang pegawai sipil Kodim. Setiap hari sejak bencana itu datang, dia mengais-ngais puing-puing rumahnya, berharap menemukan jasad istri dan anaknya. Hari itu setelah seharian membongkar-bongkar bersama seorang anaknya yang berhasil selamat, dia menemukan mayat anak kecil. Bukan mayat anak yang dicarinya, tapi tetap diangkatnya dan dimasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Katanya nanti akan dikuburkan di mana sempat.
Bapak itu mungkin sudah lelah menangis, tapi di mataku, yang diperlihatkannya adalah sebuah ketabahan luar biasa. Kepada anaknya, Fahri namanya, dia berujar agar menceritakan kembali kepada saya kejadian ketika tsunami itu datang. Bocah itu bercerita dengan terbata-bata tapi selalu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Saya yang tak kuat, dan cepat-cepat meninggalkan mereka setelah mengucapkan simpati dan mendoakan semoga dia segera menemukan istri dan anaknya -setidaknya dalam bentuk jasad.

...
Bagi saya, ini kali kedua mengunjungi Meulaboh. Sebelumnya saya sudah mengunjungi kota ini pada masa peralihan dari darurat militer ke darurat sipil dulu. Kota yang indah dengan garis pantai yang menakjubkan. Orang-orangnya tak bisa menyembunyikan keramahan mereka di balik wajah yang terbiasa tegang oleh desing peluru ketika itu.
Dan hari ini saya mendatangi tempat ini lagi, dengan pemandangan yang sangat berbeda.
Rasanya, kamera yang kami bawa tak merekam gambar apa-apa selain kerusakan.

Tiga jam setelah menginjakkan kaki di pantai itu, saya baru merasa mataku basah. Di kejauhan sebuah mesjid tampak tegak berdiri di antara reruntuhan di sekitarnya. Saya menarik nafas dalam-dalam, merasakan dadaku sesak oleh sebuah pertanyaan: Tuhan, apa yang sesungguhnya ingin Kau sampaikan?

Januari 2006:
Selamat Tahun Baru 2006. Akhirnya bisa melewatkannya di depan TV -16 buah TV-- di monotor room, menonton orang-orang yang bersuka cita. Tak kemana-mana di pergantian tahun ini. Hanya mengenang satu-dua tahun yang lewat. Hanya terus berusaha agar menjadi benar pada akhirnya. Semoga ini doa.