tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, December 04, 2005

Sekali Lagi Tentang Bahagia

Di Rajamandala. Di atas perahu karet di grade 3 arus Sungai Citarum. Ketika air yang tercemar limbah itu tumpah membasahi sepatu. Ketika ketakutan karena tidak bisa berenang bercampur dengan keinginan becengkerama dengan cadas-cadas yang menyembul, dengan jeram-jeram. Ketika pada malam hari di bawah langit, Herman Lantang, sesepuh para petualang itu, menasehatiku tentang "jalan Tuhan". Di saat itulah pertanyaan aneh itu menyeruak lagi di kepalaku. Tentang apa dan bagaimana cara berbahagia.

Bahwa hidup harus dihadapi dengan senyum, betapa pun kerasnya. Jika pun harus menangis, menangislah di tempat tersembunyi, yang tak dilihat orang-orang. Karena kecengengan menular dan merusak tatanan semesta.

Maka aku pun tertawa, saat sepulangnya ke kantor dan mendapati roundtable-ku telah bergerak lagi sedemikian cepatnya. Belum dua pekan aku di program baru dan sudah harus pindah lagi. Tak perlu dihadapi dengan kecewa. Toh masih banyak jalan menuju Amazon.

Kata Subcomandante Marcos, seseorang hanya bisa bahagia jika dia terus memperjuangkan apa yang dia yakini benar.