tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, December 24, 2005

Gelap

"Diapain kamu kenapa tiba-tiba jadi baik sama preman itu?"
Yuhyi mungkin bercanda, tapi pertanyaannya itu terasa menohokku. Beberapa saat sebelumnya, aku yang paling panas pengen ngetes dia. Laki-laki bertato itu sejak tadi mondar-mandir di sekitar lokasi rekon, dan kami merasa itu sebagai ancaman. Sebelumnya kepada Yuhyi dia sempat minta "uang pengertian".

Dari jauh aku mengamatinya, dan tatapan mata kami beberapa kali bersiborok. Penduduk sekitar juga mulai merasa gerah, tapi tak ada yang berani menegurnya. Hingga habis magrib, dia masih terus menongkrongi kami. Aku tak ingin cari masalah, aku tahu hukum universal yang berlaku di terminal mana pun. Tapi kalau pun terjadi apa-apa, aku masih bisa mengandalkan leatherman-ku. Maka kuputuskan mendekatinya. Mengajaknya bicara. Aneh, tiba-tiba dia tahu namaku entah dari mana.

Dan dia menceramahiku tentang efek psikologis tayangan-tayangan program TV yang kami buat. Dia mengkritik satu episode tentang kekerasan anak yang pernah kami buat karena menurutnya tidak peduli pada perkembangan mental si anak di masa depan. Mungkin dia mau bilang kami hanya mengabdi pada Nielsen, andaikata dia paham tentang rating.
Aku banyak diam, merasa lucu. Bapak ini tidak bersungguh-sungguh ingin jadi preman. Seketika aku yang merasa malu hati, karena tadi berniat mengajaknya berkelahi.
"Kita sama-sama cari makan, Zan," katanya. Itulah kenapa dia terpaksa mengutip sepuluh dua puluh ribu dari orang-orang yang masuk ke wilayahnya.

Aku tidak suka premanisme. Tapi harus kuakui laki-laki bertato itu memberiku satu pelajaran lagi, untuk menegok kembali sisi paling gelap di jiwaku; yang masih tetap ada di sana.

Tuesday, December 20, 2005

Cerita Pagi

kata-kata berhentilah menguap
hilang,
pikiran bekerjasamalah dengan jari jemari
biar kutulis sepotong cerita untuknya

(dari http:nyanyian-perjalanan.blogspot.com)


...

"Cerita lagi...," pintamu sore kemarin sebelum berangkat ke pulau. Tapi aku sudah kehabisan cerita. Kamu bilang akan pulang pagi ini, dan aku janji akan cerita lagi sepulangmu. Pagi ini, akhirnya, ada sepotong cerita untukmu (tapi kamu belum pulang dari pulau):

Kamera, tripod, mike, dan sebagainya itu masih tergeletak di meja KD. Sudah siap sejak pagi tadi. Di ruang logistik tadi, Andi meng-sms-ku. Mas, brngkt liputannya jam 10 saja ya, msh nunggu listrik nyala n air...
Di RS Persahabatan Rawamangun, ada bocah sekarat habis disiksa oleh bapak kandung dan ibu tirinya. Ibu kandungnya baru pulang dari kerja jadi TKW dan mendapati anaknya sudah terkapar sekarat dengan tulang rusuk patah. Konon, itu gara-gara dia minta dibelikan baju baru dan sandal.
Kemarin kami tidak jadi liputan, persediaan kamera di logistik habis. Dari omong-omong di rapat kemarin, Andi bilang berniat membelikan dia baju dan sandal.

Tapi sepertinya kami tidak jadi jalan pagi ini. Tidak sempat bertemu bocah itu juga. Dapat kabar dari RS, tadi malam dia meninggal, dan sudah dibawa lagi ke kampungnya di Grobogan.


Begitu ceritanya. Dan aku rasa mataku menjadi hangat.

Friday, December 09, 2005

Bayi


Pekerjaanku hari ini tak ada hubungannya dengan persalinan. Tapi malam tadi aku berada di depan ruangan kaca di sebuah rumah bersalin kecil di pinggiran kota, dan melihat keajaiban --tentang kehidupan yang sinambung.

Bayi di dalam kotak penghangat itu begitu lucunya. Dia sendirian. Entah bayi siapa. Ada nama ibunya ditulis di karton di luar kotak itu, tapi tak tertangkap jelas oleh mataku yang miopi. Seorang perawat baru saja menyelimutinya, dan memberinya susu dari botol.
Sudah lama sekali aku tak melihat bayi. Hampir lupa seperti apa wajah mereka bila menguap atau menangis minta susu.
Tiga orang adik yang lahir setelahku juga aku tak ingat seperti apa tampang mereka ketika bayi. Samar-samar, dan tiba-tiba saja mereka sudah besar dan berani ngajak berantem.

Dan bayi di dalam kotak itu betapa damai tidurnya. Aku menebak-nebak apa yang dipikirkannya. Ada penyair yang pernah menulis tentang bayi --lebih tepatnya bertanya: Mahluk mungil... mahluk mungil, dari mana kau berasal, dan hendak ke mana? Seperti pertanyaan seorang tua yang gelisah.

Hari ini pertama kali dia menghirup udara dan merasai bumi. Semoga hidupnya bahagia. Hingga aku meninggalkan rumah bersalin itu, tak sempat aku tahu nama orang tuanya. Padahal mungkin suatu hari kami akan bertemu, lalu aku yang tua akan bertanya padanya, "Hei, apa kabarmu? Sudah kemana saja melihat dunia? Dan setelah semua yang kau temui itu, apa kamu juga menganggap dunia ini kejam?"

[::coretan suatu malam yang gerimis di Rumah Bersalin Depok Jaya; untukku, dan teman2 di program KD::]

Monday, December 05, 2005

Cacat

Ada suatu masa kecacatan dan ketidakberdayaan seseorang menjadi menarik untuk dipertontonkan. Orang-orang lumpuh, buta, gila terpasung, idiot, dan sebagainya berkeliaran di layar kaca. Memperindah layar untuk menangguk iklan. Kadang-kadang mereka dikasihani dan setelahnya sang kreator merasa menjadi pahlawan yang baik budi. Jasa telah sampai dan "kebaikan" telah tersalurkan, pada mereka yang dicap cacat. Tapi sebenarnya siapa yang cacat?
Seorang guru purba pernah berkhotbah, katanya; tak ada yang bercacat selain pikiran. Hanya mereka yang jahat dan senang berbahagia di atas kepedihan orang lain, yang patut disebut cacat!

Sunday, December 04, 2005

Sekali Lagi Tentang Bahagia

Di Rajamandala. Di atas perahu karet di grade 3 arus Sungai Citarum. Ketika air yang tercemar limbah itu tumpah membasahi sepatu. Ketika ketakutan karena tidak bisa berenang bercampur dengan keinginan becengkerama dengan cadas-cadas yang menyembul, dengan jeram-jeram. Ketika pada malam hari di bawah langit, Herman Lantang, sesepuh para petualang itu, menasehatiku tentang "jalan Tuhan". Di saat itulah pertanyaan aneh itu menyeruak lagi di kepalaku. Tentang apa dan bagaimana cara berbahagia.

Bahwa hidup harus dihadapi dengan senyum, betapa pun kerasnya. Jika pun harus menangis, menangislah di tempat tersembunyi, yang tak dilihat orang-orang. Karena kecengengan menular dan merusak tatanan semesta.

Maka aku pun tertawa, saat sepulangnya ke kantor dan mendapati roundtable-ku telah bergerak lagi sedemikian cepatnya. Belum dua pekan aku di program baru dan sudah harus pindah lagi. Tak perlu dihadapi dengan kecewa. Toh masih banyak jalan menuju Amazon.

Kata Subcomandante Marcos, seseorang hanya bisa bahagia jika dia terus memperjuangkan apa yang dia yakini benar.