tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, November 17, 2005

Kami dan Adik "Sang Peganas" Itu

[Alhamdulillah. Huru-hara itu tidak terjadi, sehingga aku bisa meninggalkan Samarinda dengan hati yang tenang. Tidak banyak nyawa melayang. Pagi sebelumnya memang ada lagi dua perempuan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Kami menegoknya di kamar jenazah RSUD AW. Syahranie dan memastikan mereka mati bukan karena tebasan benda tajam. Lehernya tidak terpenggal. Dua-duanya pembantu rumah tangga. Mungkin keracunan dari bungkusan nasi goreng yang sama.
Dan setelah melaporkan situasi aman dan kondusif, turunlah perintah untuk balik kanan. Kembali ke Jakarta.
Menjelang magrib tiba di Cengkareng dengan pesawat Garuda GA 517 dari Balikpapan. Selepas magrib tiba di kantor, dan tampak lebih ramai dari biasanya.
]

Begini ceritanya:
Dengan tangan yang teguh, pria berbaju putih itu memegang mikrofon clip on, dan meletakkannya kembali di meja ketika tidak berbicara. Dia berusaha menyimak pertanyaan puluhan wartawan yang meskipun sama-sama Melayu tapi tetap agak sulit dia mengerti. Beberapa kali dia meminta pertanyaan diulangi.
Ada yang bertanya apa pesan terakhir sang kakak kepadanya.
"Terakhir kami berjumpa lebaran Idil Fitri tahun 2001. Waktu itu dia bilang 'kau tidak akan jumpa saya lagi', itu katanya."
...
"Anaknya dua masih kecil. Saya akan bimbing mereka. Mereka tidak berdosa. Tidak adil kalau ada yang menyebut mereka sebagai anak teroris. Mereka tidak tahu apa-apa... Saya juga sering lari dari kenyataan. Sering di kantor rekan-rekan baca surat kabar tentang Doktor Azahari, dan mereka bilang ini orang jahat, saya hanya mengangguk-angguk saja. Tidak banyak yang tahu kalau dia kakak saya. Yang tahu pun juga akan diam-diam saja."

Tadi malam dia seperti artis dalam jumpa pers. Dia bercerita tentang kakaknya yang tertembak mati dalam penggerebekan sarang teroris di Batu, Malang. Bani Yamin Husin, seorang laki-laki yang menangis. Dan kami, sebagaimana kebanyakan bangsa Indonesia, tertawa-tawa sambil berfoto di latar depan.

Inilah kami.