tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, November 13, 2005

Dari Warung Ikan Bakar di Samarinda

Di warung ikan bakar di Jalan Lambung Mangkurat itu aku masuk dan duduk di kursi yang menghadap ke luar. Selalu begitu setiap kali bertandang ke kota lain. Pemandangan riuh jalanan di luar sana entah kenapa begitu mencengangkan. Mengamatinya sambil makan jauh lebih menyenangkan daripada kotak televisi di belakangku yang tak henti-hentinya menyiarkan gosip Mayangsari atau Farhat Abbas.
Pintu warung dan foreground kaca display menu serta panggangan ikan yang berasap, membingkai terik dan debu di luar sana menjadi tontonan hidup --betul-betul hidup!

Kemarin siang aku tiba di kota ini. Jam enam pagi ke Cengkareng berburu tiket go show ke Balikpapan. Dapat satu seat terakhir Lion Air, di kursi paling belakang, dekat mesin Boeing MD 82 yang bunyinya mirip mixer adonan mentega ibuku. Dua jam penerbangan, lanjut lagi dengan perjalanan darat 3 jam ke Samarinda. Penugasan mendadak dari kantor membuatku tak sempat berkemas lebih rapi dari biasanya. Ada yang terlupa. Dua jins dan tiga pasang kaos kaki belum sempat tercuci sepulang dari Makassar minggu lalu.

Beberapa hari lalu seorang lelaki dari suku pribumi luka parah ditikam oleh seorang suku pendatang. Kondisinya kritis. Lalu ada sekelompok pria suku pribumi yang melakukan balas dendam pendahuluan dengan mencincang tubuh seorang pria pendatang. Selentingan yang aku dengar, jika sampai orang pribumi itu tewas, atas nama adat mereka akan minta tebusan 8 kepala (kepala!) orang dari suku pendatang itu. Warga di kota yang heterogen ini panik. Sekiranya, jika perang suku benar-benar pecah, yakinlah kepala yang akan terpenggal tidak hanya 8! Sampit dan Sambas sudah membuktikan itu.

Untuk itulah aku di sini. Berjaga-jaga hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tadi malam, jalanan di sepanjang TKP masih dijaga polisi dan lampu belum dinyalakan, dibiarkan gelap seperti Gotham City. Tapi sejauh ini, suasana masih aman terkendali. Dan mudah-mudahan akan tetap aman. Karena tidak akan ada warung ikan bakar yang buka jika kepala-kepala menggelinding tanpa tubuh dan darah menggenang di jalanan.

Oya, selamat ulang tahun untuk diriku. Dini hari tadi ada banyak sms masuk dari kawan-kawan, lengkap dengan doa-doa indah seperti yang sering diajarkan guru agama. Terima kasih semuanya. Terima kasih.

====
f/NA:
mungkin tidak persis seperti ending dalam film, tapi tenang dan bahagia itu juga akan datang dalam hidup kita. Kita hanya perlu yakin, dan bersabar, juga sedikit keras kepala.