tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, November 21, 2005

Tunduk

"Siapa yang bersedia tunduk, maka akan dibawanya serta..."
--Cahyo Wibowo--


Aku tidak tunduk, Yo. Aku menolak tunduk. Kamu lihat saja, seberapa dalam mereka bisa menenggelamkanku!

Thursday, November 17, 2005

Kami dan Adik "Sang Peganas" Itu

[Alhamdulillah. Huru-hara itu tidak terjadi, sehingga aku bisa meninggalkan Samarinda dengan hati yang tenang. Tidak banyak nyawa melayang. Pagi sebelumnya memang ada lagi dua perempuan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Kami menegoknya di kamar jenazah RSUD AW. Syahranie dan memastikan mereka mati bukan karena tebasan benda tajam. Lehernya tidak terpenggal. Dua-duanya pembantu rumah tangga. Mungkin keracunan dari bungkusan nasi goreng yang sama.
Dan setelah melaporkan situasi aman dan kondusif, turunlah perintah untuk balik kanan. Kembali ke Jakarta.
Menjelang magrib tiba di Cengkareng dengan pesawat Garuda GA 517 dari Balikpapan. Selepas magrib tiba di kantor, dan tampak lebih ramai dari biasanya.
]

Begini ceritanya:
Dengan tangan yang teguh, pria berbaju putih itu memegang mikrofon clip on, dan meletakkannya kembali di meja ketika tidak berbicara. Dia berusaha menyimak pertanyaan puluhan wartawan yang meskipun sama-sama Melayu tapi tetap agak sulit dia mengerti. Beberapa kali dia meminta pertanyaan diulangi.
Ada yang bertanya apa pesan terakhir sang kakak kepadanya.
"Terakhir kami berjumpa lebaran Idil Fitri tahun 2001. Waktu itu dia bilang 'kau tidak akan jumpa saya lagi', itu katanya."
...
"Anaknya dua masih kecil. Saya akan bimbing mereka. Mereka tidak berdosa. Tidak adil kalau ada yang menyebut mereka sebagai anak teroris. Mereka tidak tahu apa-apa... Saya juga sering lari dari kenyataan. Sering di kantor rekan-rekan baca surat kabar tentang Doktor Azahari, dan mereka bilang ini orang jahat, saya hanya mengangguk-angguk saja. Tidak banyak yang tahu kalau dia kakak saya. Yang tahu pun juga akan diam-diam saja."

Tadi malam dia seperti artis dalam jumpa pers. Dia bercerita tentang kakaknya yang tertembak mati dalam penggerebekan sarang teroris di Batu, Malang. Bani Yamin Husin, seorang laki-laki yang menangis. Dan kami, sebagaimana kebanyakan bangsa Indonesia, tertawa-tawa sambil berfoto di latar depan.

Inilah kami.

Sunday, November 13, 2005

Dari Warung Ikan Bakar di Samarinda

Di warung ikan bakar di Jalan Lambung Mangkurat itu aku masuk dan duduk di kursi yang menghadap ke luar. Selalu begitu setiap kali bertandang ke kota lain. Pemandangan riuh jalanan di luar sana entah kenapa begitu mencengangkan. Mengamatinya sambil makan jauh lebih menyenangkan daripada kotak televisi di belakangku yang tak henti-hentinya menyiarkan gosip Mayangsari atau Farhat Abbas.
Pintu warung dan foreground kaca display menu serta panggangan ikan yang berasap, membingkai terik dan debu di luar sana menjadi tontonan hidup --betul-betul hidup!

Kemarin siang aku tiba di kota ini. Jam enam pagi ke Cengkareng berburu tiket go show ke Balikpapan. Dapat satu seat terakhir Lion Air, di kursi paling belakang, dekat mesin Boeing MD 82 yang bunyinya mirip mixer adonan mentega ibuku. Dua jam penerbangan, lanjut lagi dengan perjalanan darat 3 jam ke Samarinda. Penugasan mendadak dari kantor membuatku tak sempat berkemas lebih rapi dari biasanya. Ada yang terlupa. Dua jins dan tiga pasang kaos kaki belum sempat tercuci sepulang dari Makassar minggu lalu.

Beberapa hari lalu seorang lelaki dari suku pribumi luka parah ditikam oleh seorang suku pendatang. Kondisinya kritis. Lalu ada sekelompok pria suku pribumi yang melakukan balas dendam pendahuluan dengan mencincang tubuh seorang pria pendatang. Selentingan yang aku dengar, jika sampai orang pribumi itu tewas, atas nama adat mereka akan minta tebusan 8 kepala (kepala!) orang dari suku pendatang itu. Warga di kota yang heterogen ini panik. Sekiranya, jika perang suku benar-benar pecah, yakinlah kepala yang akan terpenggal tidak hanya 8! Sampit dan Sambas sudah membuktikan itu.

Untuk itulah aku di sini. Berjaga-jaga hingga batas waktu yang belum ditentukan. Tadi malam, jalanan di sepanjang TKP masih dijaga polisi dan lampu belum dinyalakan, dibiarkan gelap seperti Gotham City. Tapi sejauh ini, suasana masih aman terkendali. Dan mudah-mudahan akan tetap aman. Karena tidak akan ada warung ikan bakar yang buka jika kepala-kepala menggelinding tanpa tubuh dan darah menggenang di jalanan.

Oya, selamat ulang tahun untuk diriku. Dini hari tadi ada banyak sms masuk dari kawan-kawan, lengkap dengan doa-doa indah seperti yang sering diajarkan guru agama. Terima kasih semuanya. Terima kasih.

====
f/NA:
mungkin tidak persis seperti ending dalam film, tapi tenang dan bahagia itu juga akan datang dalam hidup kita. Kita hanya perlu yakin, dan bersabar, juga sedikit keras kepala.