tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, October 12, 2005

Laut Itu Seperti Hati


Laut begitu tenang sore itu, seolah bukan Pasifik di bulan Oktober. Di bawah meriam 32 mm yang melindungiku dari matahari di belakang, aku menikmati permadani air yang sobek pelan-pelan oleh laju 14 knot kapal perang ini. Ikan-ikan terbang yang kaget bermunculan dari bawah rampa, menerabas permukaan seperti burung kecil yang hilang arah.
Sunyi. Hanya suara gerus mesin yang bawa getar-getar halus pada besi. Juga sesekali dentang lonceng elektrik, menandakan pergantian waktu atau jaga.

Seseorang tiba-tiba muncul, menegurku, "Hei, ngapain di situ!"
Tak kujawab, kuberi senyum saja, dan wajahnya kemudian ikut berpaling mengikuti arah pandangku. Ke laut lepas. Kita ini manusia sombong, padahal tak ada apa-apanya di tengah semesta.

Hampir setahun lalu, pernah seperti ini juga. Berhari-hari di atas kapal perang, dengan sedikit rasa beda. Kapal tua yang kelebihan beban, bocor pada suatu malam yang bergelombang, berlayar miring, nekad menabrak pantai karena tidak menemui dermaga untuk merapat, patah jangkar, dan pulang dengan satu mesin mati.

Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang.

(catatan perjalanan pulang dari Pulau Miangas:
itu laut seperti hatimu, dan aku kapal yang melayari maha luasnya.
yakin (usaha) sampai!

HMI 'kali! :-))