tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, October 15, 2005

[...]


Belum seminggu di Jakarta, dan kaki harus dibawa melangkah lagi. Tengah malam tadi menjahit ransel yang koyak jahitannya. Mungkin karena bebannya sudah terlalu banyak, atau dari pabriknya yang kurang rapi. Itu tanda-tanda, bahwa selalu ada uzur pada semua yang eksis.

Seperti nyeri di bagian paha atas kaki sebelah kiriku yang beberapa hari ini mulai terasa lagi.
Tapi, kali ini pulang. Pasti telah banyak yang bermetamorfosa. Kupu-kupu telah keluar dari kepompongnya. Ada yang melahirkan kehidupan baru replika dirinya. Ada yang telah menggenapkan dien-nya, dan mengulurkan tangannya pada mereka yang luka. Ada juga yang telah membangun hidupnya sendiri, dengan batu kali-batu kali keteguhan, menjadi abdi pada tanahnya.

Benarlah. Kali ini pulang. Pulang kepada pergi.*


[*] --"pulang kepada pergi": ditulis dengan banyak ingatan pada Bubin Lantang.