tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, October 05, 2005

Berkah

Aku sedang tiduran di kosan ketika mendapat kabar ada lagi bom meledak di Bali. Dari sms Nina, yang menceritakan rencana perjalanannya ke sebuah pulau kecil dengan kapal kayu. Ada ledakan lg di Bali, hati2 kalo jalan..., begitu tulisnya di dua baris terakhir sms-nya malam itu.

Sontak aku terbangun, dan segera mencari channel Metro TV. Bukannya tidak percaya pada stasiun TV tempatku kerja, tapi kami memang tidak punya kebiasaan tercepat dalam breaking news. Jalur birokrasinya panjang untuk bisa segera on-air. Seingatku cuma sekali kami on-air breaking news pertama kali. Itu waktu jenazah Al-Ghozi tiba di Indonesia setelah ditembak mati di Filipina. Aku ingat, karena aku masuk tim liputan waktu itu. Itu saja hampir tidak tayang karena susah dapat slot celah antara program yang sedang siaran.
"Apa perlu kaset ini gua jual ke TV lain!?" begitu kata seorang teman saking kesalnya. Tapi akhirnya berita itu tayang pertama kali di TV kami, disusul SCTV yang hanya menyiarkan grafis karena tidak dapat gambar sama sekali.

Tapi berita Bom Bali II ini Metro TV kecolongan. Kalau tidak salah mereka masih sedang menyiarkan acara tari-menari ketika SCTV sudah tayang dengan gambar pertama dari koresponden mereka di Denpasar. Rosi Silalahi sampai beberapa kali harus menekankan bahwa "ini adalah gambar pertama yang kami terima". Sungguh betapa pentingnya menjadi yang pertama pada saat itu.

Kami sejatinya tidak melulu menjadi pengekor. Meski hanya dalam konteks running stories, gambar video lelaki pembawa bom yang diambil oleh turis bule itu sesunguhnya tayang pertama kali di TV kami. Gambar itu konon dibeli eksklusif yang entah kenapa tiba-tiba tayang juga di stasiun TV lain. Belakangan ketahuan ternyata turis bule itu juga menjualnya ke stasiun TV luar negeri yang punya afiliasi ke banyak stasiun TV di Indonesia. Maka menyebarlah gambar itu seperti kembang api, padahal CG "Eksklusif" --atau apalah namanya-- telanjur dipasang. Hehehehe...

Bom kali ini memang seolah-olah perulangan sejarah saja. Ada seorang teman yang "selamat" dari Bom Bali I tiga tahun lalu. Setengah jam sebelum bom dahsyat itu meledak, seperti ada kekuatan gaib yang membisikinya meninggalkan Legian dan tidak nongkrong lama-lama seperti biasanya. Tapi meskipun selamat fisik, secara ekonomi dia remuk karena bisnis warnetnya ikut hancur total. Dan dia harus mulai dari awal lagi, jauh dari Bali. Tiga malam lalu kami bertemu setelah sekian lama terpisah, ngobrol-ngobrol di kantin kantor yang harganya mencekik itu.

Entah kenapa masih saja ada orang yang tega menyakiti orang lain. Laki-laki dengan ransel yang diduga membawa bom itu --jika memang dia pelakunya--, bagaimana mungkin dia bisa berjalan setenang itu, seolah tidak membawa apa-apa yang bisa membuat orang lain terluka? Seolah hanya dia yang paling benar dan yang lain perlu dibasmi seperti gulma? Tapi toh dia ikut mati --lagi-lagi, jika memang dia pelakunya--, dan kepalanya dipajang seperti poster artis-artis. Semua hanya mengira-ngira, karena tak ada yang tahu pasti ideologi seperti apa yang membuatnya rela setor nyawa seperti itu.

Dan tragedi ini tidak membawa keuntungan bagi siapa-siapa, kecuali mungkin hanya secuil hikmah seperti yang dijanjikan kitab suci. Atau berkah. Kata Pak Ustadz, pasti ada berkah di balik ini semua. Di lewat tengah malam itu, menjelang tidur setelah bombardir berita ledakan Bom Bali II, seorang teman fotografer menelponku mengabari baru saja mendapat assignment dari sebuah agensi foto luar negeri. Dia harus berangkat ke Bali malam itu juga, untuk dua hari saja, dengan bayaran sebesar lima kali gaji bulananku.

Maafkan jika kami tampak seolah-olah mendapat keuntungan dari tragedi ini. Mungkin itulah berkah bagi jiwa yang tak kasat pikir. Percayalah, kami tidak suka berbahagia di atas penderitaan orang lain. Itulah kenyataannya.

Eniwei, hari ini hari pertama puasa. Sekalian mau minta maaf, siapa tahu ada salah-salah ketik, kata, dan tindakan. Semoga puasanya barokah dan progresif. Amin ya Rabbal alamiin.