tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, October 15, 2005

[...]


Belum seminggu di Jakarta, dan kaki harus dibawa melangkah lagi. Tengah malam tadi menjahit ransel yang koyak jahitannya. Mungkin karena bebannya sudah terlalu banyak, atau dari pabriknya yang kurang rapi. Itu tanda-tanda, bahwa selalu ada uzur pada semua yang eksis.

Seperti nyeri di bagian paha atas kaki sebelah kiriku yang beberapa hari ini mulai terasa lagi.
Tapi, kali ini pulang. Pasti telah banyak yang bermetamorfosa. Kupu-kupu telah keluar dari kepompongnya. Ada yang melahirkan kehidupan baru replika dirinya. Ada yang telah menggenapkan dien-nya, dan mengulurkan tangannya pada mereka yang luka. Ada juga yang telah membangun hidupnya sendiri, dengan batu kali-batu kali keteguhan, menjadi abdi pada tanahnya.

Benarlah. Kali ini pulang. Pulang kepada pergi.*


[*] --"pulang kepada pergi": ditulis dengan banyak ingatan pada Bubin Lantang.

Wednesday, October 12, 2005

Laut Itu Seperti Hati


Laut begitu tenang sore itu, seolah bukan Pasifik di bulan Oktober. Di bawah meriam 32 mm yang melindungiku dari matahari di belakang, aku menikmati permadani air yang sobek pelan-pelan oleh laju 14 knot kapal perang ini. Ikan-ikan terbang yang kaget bermunculan dari bawah rampa, menerabas permukaan seperti burung kecil yang hilang arah.
Sunyi. Hanya suara gerus mesin yang bawa getar-getar halus pada besi. Juga sesekali dentang lonceng elektrik, menandakan pergantian waktu atau jaga.

Seseorang tiba-tiba muncul, menegurku, "Hei, ngapain di situ!"
Tak kujawab, kuberi senyum saja, dan wajahnya kemudian ikut berpaling mengikuti arah pandangku. Ke laut lepas. Kita ini manusia sombong, padahal tak ada apa-apanya di tengah semesta.

Hampir setahun lalu, pernah seperti ini juga. Berhari-hari di atas kapal perang, dengan sedikit rasa beda. Kapal tua yang kelebihan beban, bocor pada suatu malam yang bergelombang, berlayar miring, nekad menabrak pantai karena tidak menemui dermaga untuk merapat, patah jangkar, dan pulang dengan satu mesin mati.

Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang.

(catatan perjalanan pulang dari Pulau Miangas:
itu laut seperti hatimu, dan aku kapal yang melayari maha luasnya.
yakin (usaha) sampai!

HMI 'kali! :-))

Friday, October 07, 2005

Ke Miangas

Sore ini dapat assignment berangkat ke Pulau Miangas, sebuah pulau kecil di tepian Samudera Pasifik yang jadi tapal batas paling utara negara Indonesia dengan Filipina. Miangas pernah (atau masih?) menjadi sengketa antara kedua negara. Secara geografis mereka memang lebih dekat ke Filipina, dan kadang-kadang merasa sebagai bagian Filipina. Jaraknya ke Santa Agustien, kota terdekat Filipina, hanya sekitar 60 mil laut. Filipina bahkan punya nama sendiri untuk pulau ini: Las Palmas.

Beberapa waktu lalu penduduk Miangas mengerek bendera Filipina sebagai bentuk protes kepada Pemerintah Indonesia yang mengklaim --tapi tidak memperhatikan kesejahteraan mereka-- sebagai bagian Indonesia.

Mencapai Miangas memang tidak segampang ke Pulau seribu. Hanya delapan bulan dalam setahun perairan di wilayah itu memungkinkan untuk dilayari. Selebihnya ganas.
Minggu ini semoga gelombang Samudra Pasifik menganggap kami teman dan tamu yang berniat baik.

Thursday, October 06, 2005

Berita dari Pontianak


Aku punya penyakit maag, mulai kena sejak zaman bikin skripsi dulu. Awalnya karena pola makan yang buruk. Bermalam-malam begadang, perut kadang hanya diganjal kopi dan indomi. Jadilah mekanisme penolakannya dengan menyampaikan sedikit perih. Sampai sekarang masih sering kambuh, biasanya kalau habis minum softdrink terlalu banyak.

Tentu, meski perih, penyakit maagku pasti tidak semenderita Pak Supardi, seperti yang dilaporkan oleh koresponden Adi Saputro dari Pontianak. Berikut laporannya:


SLUG :SEORANG BAPAK JATUH TERSUNGKUR SAAT AMBIL DANA KOMPENSASI BBM
REP/CAM : TTK 36/ M0 121996
STOCK SHOOT: 00.11.29 - 00.14.22
FLIGHT: GA 505, DARI PONTIANAK PUKUL 17.00 WIB
DAY/ DATE: RABU/ 5 OKTOBER 2005

(LEAD IN)
PENYALURAN DANA KOMPENSASI BBM BAGI MASYARAKAT MISKIN DI PONTIANAK/ KALIMANTAN BARAT/ BERJALAN TERTIB DAN LANCAR/ NAMUN SEORANG BAPAK YANG BARU SAJA MENGAMBIL DANA KOMPENSASI BBM/ TIBA-TIBA JATUH TERSUNGKUR// BAPAK INI TAMPAK MERINTIH KESAKITAN SESAAT SETELAH MENGAMBIL DANA KOMPENSASI BBM TAHAP PERTAMA SEBESAR Rp. 300 RIBU// IA MENGALAMI SAKIT MAAG KRONIS// NAMUN KARENA PENGAMBILAN DANA KOMPENSASI BBM TIDAK DAPAT DIWAKILI/ BAPAK INI TERPAKSA HARUS MENGAMBIL SENDIRI DANA KOMPENSASI BBM DI LOKET/ KANTOR PT. POS INDONESIA/ CABANG PONTIANAK//

(PKG/ROLL)
SUPARDI (50)/ BAPAK BERANAK EMPAT INI MENANGIS SETELAH MENERIMA DANA KOMPENSASI BBM YANG DIBAGI SERENTAK KEPADA MASYARAKAT MISKIN MULAI HARI INI//

SUPARDI/ SALAH SATU KEPALA KELUARGA KELUARGA MISKIN INI BUKAN SEDANG TERHARU KARENA MENERIMA DANA KOMPENSASI BBM// IA BERURAI AIR MATA KARENA KESAKITAN AKIBAT PENYAKIT MAAG KRONIS YANG DIDERITANYA//

KHALIS (17)/ ANAKNYA/ SEBENARNYA SUDAH BERUSAHA MEMBUJUK AYAHNYA UNTUK TIDAK MENGAMBIL DANA KOMPENSASI BBM PADA HARI INI// TAPI KARENA DANA ITU MENDESAK DIPERLUKAN/ SUPARDI DENGAN DITEMANI ANAKNYA INI PERGI MENGAMBIL DANA KOMPENSASI BBM SEBESAR Rp. 300 RIBU//

NAMUN USAI MENGAMBIL DANA KOMPENSASI BBM ITU/ SUPARDI MENDADAK ROBOH// IA TAK SANGGUP LAGI BERJALAN/ KARENA SELAIN MENDERITA MAAG KRONIS/ SUPARDI JUGA MENDERITA STROKE//

KOMPLIKASI PENYAKIT INI TELAH DIDERITA SUPARDI/ SELAMA DUA TAHUN// HAL INI MEMBUATNYA TAK MAMPU BEKERJA// SEHINGGA KETIKA DANA KOMPENSASI BBM INI MULAI DI BAGIKAN/ SUPARDI PUN LANGSUNG MENDATANGI KANTOR POS INDONESIA MESKI DENGAN KONDISI TIDAK SEHAT//

BERUNTUNG/ KONDISINYA TAK BEGITU FATAL// AKHIRNYA SUPARDI DIBAWA PULANG KELUARGANYA UNTUK MENJALANI PERAWATAN DI RUMAH/ DENGAN BANTUAN DANA KOMPENSASI BBM YANG BARU DI TERIMANYA//

ADI SAPUTRO/ TRANS TV/ PONTIANAK/ KALIMANTAN BARAT//

=====

Membaca dan menonton gambar berita ini membuatku hampir nangis. Aku memang gampang tersentuh pada perihal apapun tentang orang tua. Aku membayangkan diriku sebagai Khalis, menuntun bapak yang tertatih-tatih ikut antri di barisan yang mengular di bawah terik dan pada bulan puasa pula. Betapa tidak nyamannya menjadi orang miskin.
Aku sedih. Aku ingat bapakku di kampung.
Aku rindu sekali pada Bapak.
Rindu sekali....

Wednesday, October 05, 2005

Berkah

Aku sedang tiduran di kosan ketika mendapat kabar ada lagi bom meledak di Bali. Dari sms Nina, yang menceritakan rencana perjalanannya ke sebuah pulau kecil dengan kapal kayu. Ada ledakan lg di Bali, hati2 kalo jalan..., begitu tulisnya di dua baris terakhir sms-nya malam itu.

Sontak aku terbangun, dan segera mencari channel Metro TV. Bukannya tidak percaya pada stasiun TV tempatku kerja, tapi kami memang tidak punya kebiasaan tercepat dalam breaking news. Jalur birokrasinya panjang untuk bisa segera on-air. Seingatku cuma sekali kami on-air breaking news pertama kali. Itu waktu jenazah Al-Ghozi tiba di Indonesia setelah ditembak mati di Filipina. Aku ingat, karena aku masuk tim liputan waktu itu. Itu saja hampir tidak tayang karena susah dapat slot celah antara program yang sedang siaran.
"Apa perlu kaset ini gua jual ke TV lain!?" begitu kata seorang teman saking kesalnya. Tapi akhirnya berita itu tayang pertama kali di TV kami, disusul SCTV yang hanya menyiarkan grafis karena tidak dapat gambar sama sekali.

Tapi berita Bom Bali II ini Metro TV kecolongan. Kalau tidak salah mereka masih sedang menyiarkan acara tari-menari ketika SCTV sudah tayang dengan gambar pertama dari koresponden mereka di Denpasar. Rosi Silalahi sampai beberapa kali harus menekankan bahwa "ini adalah gambar pertama yang kami terima". Sungguh betapa pentingnya menjadi yang pertama pada saat itu.

Kami sejatinya tidak melulu menjadi pengekor. Meski hanya dalam konteks running stories, gambar video lelaki pembawa bom yang diambil oleh turis bule itu sesunguhnya tayang pertama kali di TV kami. Gambar itu konon dibeli eksklusif yang entah kenapa tiba-tiba tayang juga di stasiun TV lain. Belakangan ketahuan ternyata turis bule itu juga menjualnya ke stasiun TV luar negeri yang punya afiliasi ke banyak stasiun TV di Indonesia. Maka menyebarlah gambar itu seperti kembang api, padahal CG "Eksklusif" --atau apalah namanya-- telanjur dipasang. Hehehehe...

Bom kali ini memang seolah-olah perulangan sejarah saja. Ada seorang teman yang "selamat" dari Bom Bali I tiga tahun lalu. Setengah jam sebelum bom dahsyat itu meledak, seperti ada kekuatan gaib yang membisikinya meninggalkan Legian dan tidak nongkrong lama-lama seperti biasanya. Tapi meskipun selamat fisik, secara ekonomi dia remuk karena bisnis warnetnya ikut hancur total. Dan dia harus mulai dari awal lagi, jauh dari Bali. Tiga malam lalu kami bertemu setelah sekian lama terpisah, ngobrol-ngobrol di kantin kantor yang harganya mencekik itu.

Entah kenapa masih saja ada orang yang tega menyakiti orang lain. Laki-laki dengan ransel yang diduga membawa bom itu --jika memang dia pelakunya--, bagaimana mungkin dia bisa berjalan setenang itu, seolah tidak membawa apa-apa yang bisa membuat orang lain terluka? Seolah hanya dia yang paling benar dan yang lain perlu dibasmi seperti gulma? Tapi toh dia ikut mati --lagi-lagi, jika memang dia pelakunya--, dan kepalanya dipajang seperti poster artis-artis. Semua hanya mengira-ngira, karena tak ada yang tahu pasti ideologi seperti apa yang membuatnya rela setor nyawa seperti itu.

Dan tragedi ini tidak membawa keuntungan bagi siapa-siapa, kecuali mungkin hanya secuil hikmah seperti yang dijanjikan kitab suci. Atau berkah. Kata Pak Ustadz, pasti ada berkah di balik ini semua. Di lewat tengah malam itu, menjelang tidur setelah bombardir berita ledakan Bom Bali II, seorang teman fotografer menelponku mengabari baru saja mendapat assignment dari sebuah agensi foto luar negeri. Dia harus berangkat ke Bali malam itu juga, untuk dua hari saja, dengan bayaran sebesar lima kali gaji bulananku.

Maafkan jika kami tampak seolah-olah mendapat keuntungan dari tragedi ini. Mungkin itulah berkah bagi jiwa yang tak kasat pikir. Percayalah, kami tidak suka berbahagia di atas penderitaan orang lain. Itulah kenyataannya.

Eniwei, hari ini hari pertama puasa. Sekalian mau minta maaf, siapa tahu ada salah-salah ketik, kata, dan tindakan. Semoga puasanya barokah dan progresif. Amin ya Rabbal alamiin.

Saturday, October 01, 2005

Yang Bahagia dan Patah Hati

Hari ini --pagi nanti tepatnya, sekarang masih dini hari, resepsi pernikahan sahabatku. Dua-duanya sahabatku. Lies dan Dauz. Lies reporter yang dulunya editor, Dauz kameramen. Akad nikahnya sudah berlangsung kemarin. Mereka bahagia tentu saja.

Tapi akan banyak yang nangis. Bukan kerena patah hati pada salah satu dari dua pasangan berbahagia itu. Bukan itu. Barusan diumumkan di TV, premium naik jadi 4500 rupiah dari 2400, solar 4300 dari 2100 rupiah, dan minyak tanah dari 700 jadi 2000 rupiah. Kenaikan harga yang sangat menyakitkan. Pasti banyak yang nangis. Pasti banyak yang jerit. Itu lebih sakit dari jerit karena patah hati jenis apa pun.

Lies dan Dauz, semoga kebahagiaan kalian tidak terganggu. Karena di hari yang sama, ratusan juta orang juga bersedih, dikhianati oleh pemimpinnya!