tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, September 02, 2005

Tawuran Lagee!!!


Tulisan ini ditulis tergesa-gesa dengan niat untuk dikirim ke koran kampusku, setelah menonton tayangan berita mereka (dua fakultas aneh itu) lagi-lagi tawuran.


(Mahasiswa) Pengecut Mati Berkali-kali
Ketika menonton berita tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di hari pertama (31/08), saya belum begitu ngeh dan masih menganggapnya biasa-biasa saja. Pun ketika masuk kantor besok paginya, saya bertemu Bang Mufhti --kordinator koresponden daerah-- di selasar dan dia menegurku tentang kelakuan, "adik-adikmu itu, Chan, tawuran lagi mereka." Saya hanya bisa tertawa dan menimpalinya dengan bercanda juga. Saya bilang itu memang ritual periodik mereka dan akan terasa ada yang kurang bila tidak dilaksanakan.
Sore harinya sebuah sms juga masuk ke handphone-ku, kali ini dari Cahyo, teman sesama jurnalis. Bang, gimana tuh kelakuan adik2 almamater Abang? Ajarkan konsep mental lah, Bang, begitu tulisnya. Lagi-lagi saya hanya tersenyum menanggapinya. Dengan Cahyo saya sering berkelakar tentang konsep mental, konsep abstrak yang membuat orang masih bisa tertawa di kala susah sekalipun. Tapi konsep itu untuk kami sendiri sebenarnya, bukan untuk segerombolan mahasiswa yang tega melempari teman-temannya.

Malam harinya, berita tawuran hari ke-2 (01/09) tayang lagi di TV. Saya menontonnya dengan hati yang perih. Kelanjutan tawuran, mahasiswa Teknik menyerbu Baruga, tempat mahasiwa FISIP biasa berkumpul. Beberapa orang luka dan dilarikan ke rumah sakit. Deasy Weku, presenter berita yang elok dipandang itu, di pengantar berita menyebutnya sebagai satu lagi peristiwa memalukan.

Tempat yang diserang itu salah satu rumah ideologisku juga --selain Pintu Dua yang kini tinggal kenangan setelah penggusuran. Hampir sepanjang usia kemahasiswaanku, habis di Baruga yang oleh kami didaulat sebagai tempat nongkrong paling surga di kampus. Sulit untuk tidak sedih melihat mereka berkelahi di tempat "suci" itu.
Di tempat itu juga, sekira sembilan tahun yang lalu, saya memulai tawuran pertama dalam sejarah enam tahun saya bermahasiswa, Dalam keadaan gundul mahasiswa baru, saya ikut jadi bagian segerombolan mahasiwa FISIP yang berhadap-hadapan dengan mahasiswa Fakultas Teknik yang sebagian gundul sebagian tidak, masing-masing dengan batu di tangan. Dalam "perang-perangan" itu, Sarwani, seorang teman mahasiswa baru matrikulasi dari Kalimantan, terjebak di teritori mahasiswa Teknik di depan UPT Komputer lantai 2. Alhasil dia sempat disandera beberapa jam dan kemudian dibebaskan dengan kenang-kenangan kepala bocor. Waktu itu kami belum tahu apa-apa. Satu komando perang entah dari mana tiba-tiba menggerakkan kami untuk "mempertahankan wilayah". Dan seperti yang tayang di TV kemarin itu, begitulah kami dahulu kala.

Beberapa tahun kemudian kami baru tahu kalau tawuran periodik itu memang ada yang sengaja diorganisir oleh sindikat preman kampus untuk memeriahkan suksesi rektor atau momen-momen lain yang dianggap perlu untuk dimeriahkan. Mahasiswa-mahasiswa mabuk dan suplai miras besar-besaran sebelum tawuran menjadi tanda bahwa selalu ada kepentingan yang bermain di belakang adik-adik mahasiwa yang lugu itu.
Mahasiswa-mahasiswa yang mengaku berperang demi "harga diri fakultas" itu sesungguhnya tidak paham untuk apa mereka melempar batu. Mereka mungkin hanya ingin merasa jago dan jantan sembari berharap mendapat pujian dari para mahasiswi di garis belakang.

Menjadi mahasiswa memang sangat berpotensi untuk membuat seseorang menjadi (tampak) pemberani. Lihatlah! Celana jeans sobek-sobek, kaos oblong, rambut gondrong, scarf melingkar di leher, gelang prusik di kaki dan tangan, dog tag army look, kurang gagah apa mereka dengan tongkrongan seperti itu? Pemerintah tidak usah khawatir deh kehabisan relawan untuk dikirim ke daerah konflik seperti Aceh, Poso, atau Ambon. Mereka yang tidak takut luka harusnya bisa lebih berguna di medan seperti itu. Kalaupun tidak ikut berperang, mereka bisa turut membantu korban yang semakin merana akibat konflik berkepanjangan, menjadi sukarelawan penyuplai logistik atau obat-obatan, misalnya. Getok kepala saya kalau tidak, mereka akan lebih berguna di tempat seperti itu. Karena itu perang yang sebenarnya --ada sesuatu yang dipertahankan, entah itu tanah atau ideologi, bukan perang-perangan para pengecut yang berkelahi hanya karena baliho Ospek.

Sori, Bung, ini bukan sinisme generasi tua (saya juga belum tua-tua amat kok) terhadap generasi setelahnya. Tapi sebagai orang yang pernah merasakan betapa kerasnya kehidupan bermahasiswa di Unhas dan sekarang menjadi jurnalis yang beberapa kali bertugas di daerah konflik, saya merasa sedih --lebih tepatnya malu-- karena pernah keliru menyalurkan energi seperti yang dilakukan adik-adik mahasiswa FISIP dan Teknik itu.
Tahun 1999 menjelang Ospek, saya ingat betul, saya pernah hampir bonyok oleh segerombolan mahasiswa Teknik yang menganggap saya salah memasuki wilayah kekuasaan mereka, padahal Tuhan saja tidak pernah membatasi langkah hamba-Nya. Waktu itu saya marah sekali dan merencanakan sebuah skenario serangan balik full team, tapi tidak jadi karena mengingat abang saya juga kuliah di Fakultas Teknik. Begitu pula ketika dua tahun lalu Udin, adik angkatan sekaligus sahabat saya di UKM Pers, patah tulang hidungnya gara-gara digebuki mahasiswa Teknik yang salah sasaran, saya mengomporinya untuk melakukan "sedikit balas dendam" dengan bantuan jaringan mafia imut-imut yang "siap membantu kapan saja". Tapi Udin menolak dan memilih menyelesaikan persoalannya secara pribadi tanpa harus melibatkan teman-temannya. Udin memilih untuk tidak jadi pengecut, tidak seperti saya dan kebanyakan mahasiswa Unhas lainnya, dia memilih untuk jadi pemberani dengan segala luka fisik dan batin yang ditanggungnya sendiri.

Pada akhirnya menjadi mahasiswa pilihannya memang hanya ada dua itu: menjadi pemberani atau pengecut. Dari zaman dahulu para tetua mahasiswa juga hanya mewariskan dua hal itu kepada adik-adiknya. Sikap bijaksana menanggapi kezaliman tetap lestari seperti halnya main keroyokan juga tetap membudaya. Tinggal adik-adik mahasiswa yang lucu-lucu dan menggemaskan itu yang harus menetapkan pilihannya. Karena mereka terlanjur menerima warisan zaman dari pendahulunya, dengan segala perangkatnya. Tinggal pilih, mau mewarisi sikap welas asih yang mencegah kalian mengalirkan darah orang lain dan berpikir seribu kali sebelum memicu pertikaian, atau kebrutalan dan arogansi fakultatif yang akan membuat kalian lebih mirip seorang pengecut dan senantiasa hidup dalam ketakutan?

Tapi sebelum memilih, ada baiknya mengingat kata orang tua ---yang tuaaa sekali: para pemberani mati hanya satu kali, para pengecut dan pemicu perang mati berkali-kali.
(Mampang Prapatan-Jaksel, 02/ 09/05)

====
Fauzan Mukrim, jurnalis TV, alumni KOSMIK Unhas, mencari nafkah di Jakarta. Beralamat di halamanrawa@yahoo.com, dan berumah di http://halamanrawa.blogspot.com. Mampirlah bila ada sempat.