tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, September 07, 2005

Dua Kata

Aku pertama kali mendengar kata anti-hero kurang lebih 12 tahun yang lalu, di majalah HAI ---waktu itu masih dengan slogan bacaan remaja pria, bukan bacaan remaja modis seperti sekarang--- yang menulis tentang Bryan Adams yang disebutnya sebagai salah satu sosok anti-hero. Perkenalan kecil-kecilan dengan kata-kata sulit, tapi bertahun-tahun kemudian aku tetap tidak bisa memahami kata ini dengan baik.
Kemudian muncul hero-complex di perbendaharan kosa kataku. Lagi-lagi aku kesulitan mengartikannya. Dan dua term itu seperti menguap begitu saja, lama tak terjabarkan.

=====
Kemarin siang, seorang pekerja cleaning service di gedung induk Bank Mega di seberang kantorku jatuh dari lantai 4 ketika membersihkan kaca. Beruntung --masih beruntung!-- dia jatuh menimpa kanopi lobi. Beberapa saat dia diam sebelum akhirnya menggerakkan kepalanya tanda masih hidup. Dari ruangan kerja kami di lantai 3 kami bisa melihat dengan jelas seorang temannya mencoba menuruni tali untuk menolongnya.

Di bawah orang-orang mulai berkerumun, mencari tahu ada apa. Mereka memang tidak bisa melihat apa-apa karena terhalang atap kanopi yang besar itu. Dan kami --para wartawan ini-- segera sibuk mencari kamera nganggur untuk mengabadikan peristiwa langka itu. Aku juga ada di antara mereka, pada awalnya, berdesak-desakan dari balik kaca untuk mendapatkan view paling bagus. Tidak berbuat apa-apa.

Kemudian sebuah ingatan pada seorang teman membuatku berlari secepat mungkin ke bawah, seorang teman yang pernah mengalami peristiwa yang kurang lebih sama --bedanya dia berada 60 meter di bawah permukaan tanah, bukan di atas kanopi.
Seketika berat sekali rasanya berada di lantai terhormat ini, dengan baju megah profesionalisme, sementara seseorang meregang nyawa di depan mata!
Akhirnya, aku memang bukan jurnalis yang baik, karena memilih untuk tidak "mengabadikan" peristiwa itu. Aku gagal di Bab Pertama pelajaran profesionalisme jurnalis.

Seorang jurnalis tua pernah bernasehat --yang lebih mirip keluhan, "Kita, para wartawan, puji Tuhan, telah berhasil keluar dari kelaziman. Karena terlalu sering berhadapan dengan peristiwa luar biasa, tak ada lagi tempat untuk hal yang biasa-biasa saja dalam pikiran kita yang dipenuhi skala magnitude ini. Dengan tulisan atau liputan-liputan kita, terkadang kita merasa telah menyelamatkan sebuah komunitas, sebuah negara. Kita seketika menjadi teramat penting, jauh lebih penting dari sekadar pilar keempat demokrasi."

Mbak Ami, juga bilang begitu tadi, dengan kalimat yang berbeda. Kemarin dia orang pertama yang terpikir untuk memanggil ambulans untuk menyelamatkan nyawa cleaning service malang itu. "Mungkin karena terlalu sering mengalami kejadian besar ya, Chan, makanya kita jadi tidak peka. Padahal itu juga nyawa kan, biar cuma satu. Saya bukan mau sok imut. Saya bayangkan yang jatuh itu suamiku, dan orang tidak bikin apa-apa untuk segera menolongnya..."

Mbak Ami seorang wartawati senior di kantorku, dan suaminya seorang (mantan) pendaki gunung, seperti Jacko yang juga rela berpanas-panas untuk membantu menurunkan korban dari atas kanopi. Sebelum kami turun, Mas Iwan, petinggi lantai 3 Trans, ternyata juga sudah ada di lokasi kejadian dan ikut menggotong-gotong tangga hidrolik dari studio 1.

Dan pasti, selalu ada saja yang tidak mengenakkan. Setelah korban ditangani oleh paramedis 118 dan urusan diserahkan ke pembesar kantor di mana dia jatuh, kami juga balik ke kantor. Di depan lift seseorang menegurku, "Wah, tadi atraksi ya?" katanya.
Aku tersenyum miris. Kata itu sangat menggangguku.

Sewaktu membersihkan tangan di wastafel, Mas Iwan juga sedang membersihkan muka di wastafel sebelah. Di sela-sela kucuran air dari kran, Mas Iwan ngomong tentang bagaimanapun kita juga manusia, yang membantu sesama adalah kewajiban.
Aku mengiyakan, dengan ketakutan menggelayut di hatiku.

Lalu kubiarkan air kran itu juga membasuh wajahku lama. Biarlah semua riya dan ujub yang sempat mengotori itu mengalir ke selokan.