tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, September 20, 2005

Di Lampu Merah Jogja

Dalam perjalanan ke bandara Adisucipto tadi siang, di perempatan lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping mobil yang aku tumpangi. Aku takjub. Ini lampu merah durasi paling lama di Jogja, dan gadis berjilbab panjang pengendara motor itu --mungkin mahasiswi, karena ada logo UGM di kap depan motornya-- dengan tenang mengeluarkan Al-Quran kecil dari ranselnya, kemudian membuka di halaman yang seperti diberi tanda. Seayat dua ayat bacaan menemaninya menunggu lampu kembali hijau. Sebuah pemandangan sejuk di hari yang panas.

Seorang teman pernah cerita tentang orang-orang yang tak pernah lepas dari Al-Quran. Dulu kupikir dia mengada-ada, tapi sekarang aku percaya. Malu aku. Sudah beberapa bulan ini rasanya jauh sekali...

[lima hari ini aku ditugaskan ke Jogja lagi, dan aku kembali dibuat percaya tentang "be careful what you ask for, you might just get it!". Bulan lalu aku juga di Jogja lebih seminggu, tapi banyak keinginan belum tercapai. Aku ingin begadang di Malioboro, melihat para pencari nafkah berganti posisi: kaki lima menutup dagangan, pengamen lelah duduk bergerombol dan gantian menyanyi untuk diri mereka sendiri, makan di lesehan gudeg dini hari, dan nongkrong di depan gedung tua kantor pos dekat lampu merah. Kemarin semuanya sudah kesampaian. Betul-betul pemurah Dia Yang Maha Tahu Segala Keinginan.]